Jejak Pilu Korban Perang Dunia II di Ereveld Kalibanteng Semarang

Jejak Pilu Korban Perang Dunia II di Ereveld Kalibanteng Semarang

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Minggu, 16 Agu 2026 07:00 WIB
Suasana Ereveld Kalibanteng, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Sabtu (15/8/2026).
Suasana Ereveld Kalibanteng, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Sabtu (15/8/2026). (Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng)
Semarang -

Makam Kehormatan Belanda atau Ereveld Kalibanteng di Kota Semarang, menyimpan kisah pilu para korban Perang Dunia II. Tak hanya berisikan makam orang-orang Belanda, ada pula warga Indonesia yang menjadi korban Perang Dunia II dan dimakamkan di sana.

Di kompleks pemakaman yang terletak di jalur Pantura ini, ribuan korban perang dari berbagai negara dimakamkan, kebanyakan daei mereka adalah perempuan dan anak-anak yang menjadi korban pendudukan Jepang.

"Ereveld Kalibanteng memang dikenal sebagai ereveld perempuan dan anak karena memang saking banyaknya perempuan dan anak," kata Pemimpin Komunikasi, Hubungan Masyarakat, dan Manajemen Acara Netherlands War Graves Foundation (OGS) Indonesia, Siti Juwindasari saat dihubungi detikJateng, Sabtu (15/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, sebagian besar korban tersebut meninggal saat berada di kamp interniran Jepang atau dikenal kamp Bangkong, Semarang Selatan. Mereka mengalami berbagai keterbatasan, mulai dari makanan hingga tempat tinggal.

Layout pemakaman pun dibuat untuk menggambarkan kondisi keluarga yang terpecah akibat perang. Dari atas, makam perempuan berada di sisi kiri, laki-laki di sisi kanan, sedangkan anak-anak berada di bagian tengah.

ADVERTISEMENT

"Untuk menggambarkan betapa keluarga terpecah belah karena peperangan," jelasnya.

Siti mengatakan, kondisi para korban di kamp interniran juga sangat berat. Mereka harus hidup dalam tempat yang sempit, menghadapi kelaparan, keterbatasan sumber daya, hingga menyaksikan orang-orang di sekitar mereka meninggal.

"Kalau anak-anak sendiri mayoritas tinggal di kamp-kamp itu meninggal karena kelaparan. Jadi banyak dari mereka malnutrisi sehingga meninggal di masa perang itu," ujarnya.

Penderitaan anak-anak pada masa tersebut juga tergambarkan dalam salah satu monumen di Ereveld Kalibanteng. Monumen seorangg anak membawa cangkul dengan tubuh kurus hingga tulangnya terlihat itu dikenal sebagai 'Jongenskampen Monument'.

"Jadi itu monumen yang menggambarkan anak-anak laki-laki yang dipaksa bekerja di kamp. Mereka saking kelaparannya sampai kurus, sampai tulangnya bisa terlihat," ucapnya.

"Makanya membawa cangkul karena memang mayoritas anak-anak laki-laki itu diminta bekerja yang cukup ekstrem, diharapkan bisa bekerja seperti laki-laki dewasa," lanjutnya.

Meski dikenal sebagai Makam Kehormatan Belanda, korban yang dimakamkan di Ereveld Kalibanteng tidak semuanya berkewarganegaraan Belanda.

Suasana Ereveld Kalibanteng, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Sabtu (15/8/2026).Suasana Ereveld Kalibanteng, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Sabtu (15/8/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Siti menjelaskan, OGS menggunakan kategori 'korban perang' yang ditetapkan oleh pemerintah Belanda. Istilah tersebut tidak berarti para orang Indonesia yang dimakamkan itu merupakan pahlawan atau bahkan musuh Indonesia.

"Banyak dari mereka justru meninggal karena keadaan di situasi perang. Misalnya mereka kebetulan membantu orang Belanda, kemudian dipaksa masuk ke kamp interniran, atau mereka bekerja bersama Belanda dan akhirnya dianggap sebagai musuh pada saat itu," jelasnya.

Karena itu, orang yang dimakamkan di berbagai ereveld di Indonesia memiliki latar belakang yang beragam. Mulai dari orang Belanda, Indonesia, Inggris, hingga Norwegia.

"Mereka ada yang dulunya di kamp, bergabung dengan KNIL, bekerja di rumah orang Belanda, dan ada yang sehari-hari kebetulan melindungi orang Belanda dan ditangkap Jepang, termasuk orang-orang Indonesia yang melindungi orang Belanda," jelasnya.

Dampak perang, kata Siti, membuat banyak keluarga kehilangan jejak anggota keluarganya. Ada keluarga yang hingga bertahun-tahun tidak mengetahui bahwa anggota keluarganya dimakamkan di salah satu ereveld di Indonesia.

"Karena terpecah belah oleh peperangan, jadi kadang orang tuanya pun tidak tahu bahwa mereka dimakamkan di ereveld," ujarnya.

Dalam berbagai kunjungan keluarga, OGS bahkan menemukan sejumlah keluarga yang baru mengetahui lokasi makam anggota keluarganya setelah datang ke ereveld. Bahkan beberapa makam pun masih ada yang dinamai 'Onbekend' di nisannya, yang berarti 'tidak diketahui'

"Banyak sekali keluarga yang tidak tahu bahwa keluarganya dimakamkan di ereveld," ucapnya.

Siti mengatakan, OGS tidak menempatkan pemakaman tersebut dalam perspektif politik, termasuk terkait munculnya berbagai pembicaraan mengenai istilah 'Londo Ireng'. Menurutnya, fokus OGS yakni merawat para korban perang dan memastikan kisah mereka tetap hidup sebagai pembelajaran bagi generasi berikutnya.

"Yang menjadi concern kami lebih bagaimana kita menggunakan cerita-cerita korban perang agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama," katanya.

Para korban yang dimakamkan di ereveld, lanjut Siti, dirawat dan diperlakukan dengan standar yang sama tanpa membedakan latar belakang mereka. Dia berharap, kisah para korban dapat menjadi pengingat bahwa perang selalu membawa kehilangan.

"Karena sebenarnya tidak ada pemenang dari peperangan karena semuanya mengalami kehilangan," katanya.

Dalam peringatan 15 Agustus ini, bendera Belanda juga sempat dikibarkan di Ereveld Kalibanteng. Pengibaran bendera itu memiliki dasar kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan Belanda.

Ada tiga tanggal resmi ketika bendera Belanda dikibarkan dalam rangka peringatan di Indonesia.

"27 Februari, di Ereveld Kembang Kuning, memeringati Pertempuran Laut Jawa. 4 Mei, hari berkabungnya Belanda di Ereveld Menteng Pulo. 15 Agustus, yakni peringatan berakhirnya Perang Dunia II di Asia," jelasnya.

Selain tiga tanggal tersebut, bendera Belanda juga dapat dikibarkan ketika ada kunjungan delegasi resmi sesuai kesepakatan pemerintah Indonesia dan Belanda.

Hari ini, bendera Belanda dikibarkan setengah tiang sebagai simbol penghormatan untuk mengenang para korban perang. Bagi Siti, peringatan tersebut menjadi semakin relevan di tengah konflik yang masih terjadi di berbagai belahan dunia.

"Kita sudah merasakan mulai banyaknya tensi pertikaian, konflik di berbagai negara. Kalau kita sudah lupa akan sejarah, kecenderungan kita akan melakukan kesalahan yang sama," tuturnya.



(aku/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads