Hasil kreativitas Karang Taruna Bina Karya, Desa Serut, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, berhasil menarik perhatian warga. Mereka membuat replika Menara Eiffel dalam peringatan HUT ke-81 RI ini.
Replika Menara Eiffel yang dibuat sangat sederhana, hanya menggunakan bambu. Namun saat malam tiba, dan lampu dinyalakan, menara itu terlihat sangat indah.
Ketua Karang Taruna Bina Karya, Sugito, mengatakan replika Menara Eiffel Bambu itu dikerjakan selama satu bulan sejak awal Juli, dan selesai pada awal Agustus ini. Menara itu memiliki tinggi sekira 23 meter, dengan bendera Merah Putih di ujung menara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita membuat dari bambu, karena sumber daya alamnya cuma bambu di sini. Bambunya tidak beli, swadaya masyarakat. (Menghabiskan) Sekitar 150 bambu," kata Sugito kepada awak media, Rabu (12/8/2026).
Pengerjaan Menara Eiffel Bambu itu dikerjakan secara gotong royong oleh seluruh warga di RW II. Pada sore hari, mereka mencari bambu di kebun warga. Sementara pengerjaannya dilakukan setiap malam hari.
Karena bambu tidak harus beli, warga cukup banyak menghemat anggaran. Mereka hanya membeli kawat, lampu, dan perlengkapan lainnya.
"(Dananya) Swadaya masyarakat. Habis sekitar Rp 3 jutaan," ucapnya.
Menara Eiffel Bambu di Desa Serut, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Rabu (12/8/2026). Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng |
Menara tersebut ditarik kawat untuk menahan agar tidak mudah ambruk. Karena bentuknya yang banyak rongga, menara tersebut cukup aman saat ditiup angin kencang.
Warga meletakkan Menara Eiffel Bambu itu di jalan kampung di RT 02/II, atau dekat KDMP Desa Serut. Di bawah menara ada kolong yang bisa untuk dilintasi kendaraan dengan tinggi maksimal 4 meter.
"Kami merasa di sini (Serut), Sukoharjo pinggiran. Sehingga (Menara Eiffel) untuk jadi perhatian warga desa lain. Malam di sini ramai. Kemarin habis ada acara bersih desa, sedianya mau ada bazar tanggal 20 nanti. Banyak yang datang ke sini, habis magrib banyak yang live TikTok di sini juga," jelasnya.
Pengunjung juga bisa menaiki Menara Eiffel Bambu itu. Maksimal, Menara itu bisa dinaiki 6-10 orang. Belasan hingga puluhan orang datang setiap malam untuk melihat menara tersebut.
Sugito mengatakan, Karang Taruna tidak memungut biaya bagi masyarakat yang datang. Dia bersyukur kampungnya jadi ramai, dan menjadi berkah sendiri bagi pedagang asongan.
"Dipasang selama 3 bulan, setelah itu nanti diturunin (dibongkar). Kalau bambu kan, kekuatannya paling cuma 4 bulan," pungkasnya.
Modal Gambar dari Google
Dalam pembuatan Menara Eiffel Bambu itu ada sosok Supardi, yang menjadi 'arsitekturnya'. Supardi yang diminta Karang Taruna Bina Karya untuk membuatkan Menara Eiffel, kemudian melakukan riset.
"Saya melihat di google, kita ambil gambar kita pelajari bentuk aslinya seperti apa. Lalu kita buat," kata Supardi saat dihubungi detikJateng, Rabu (12/8).
Mantan Ketua Pemuda Bina Karya itu mengatakan, proses pengerjaan Menara Eiffel itu membutuhkan waktu 1 bulan. Pekerjaannya dibagi menjadi tiga tahap.
Awalnya dia dan warga membuat rangkaian bambu yang menjadi penopang paling bawah dengan ketinggian 4 meter. Lalu rangkaian bambu di atasnya setinggi 4 meter. Dan terakhir rangkaian bambu yang menjulang tinggi setinggi 14 meter. Terakhir menambahkan tiang bendera.
"Bangunan asli menara Eiffel itu tinggi 300 meter, di bawahnya 100 meter. Rencana kita ambil skala 1:10, dengan tinggi 30 meter, dan lebar di bawah 10 meter. Tapi karena lokasinya kecil, dan tidak cukup ditambah banyak kabel listrik, ukurannya kita kecilkan. Luasnya yang bawah 8 meter, atasnya 22 meter," jelasnya.
Selama proses pengerjaan, Supardi mengaku tidak ada kendala berarti. Warga kompak dan gotong royong dalam membangun menara tersebut.
"Kendalanya tidak ada, lancar saja. Tapi saat waktu menaikkan (tahap 2 dan3) kita manual. Kita tarik dengan tali. Langsung kita kunci agar geraknya ke utara dan selatan, karena timur barat itu kan banyak kabel listrik. Tapi karena dari bambu, itu nggak berat," terangnya.
Dia mengakui 'Menara Eiffel' Bambu yang dibuat warga tidak mirip identik dengan Menara Eiffel yang asli. Sebab, untuk pengerjaan detail akan membutuhkan banyak waktu dan bambu.
"Kalau kita buat mirip yang asli, kendala kita waktu. Untuk membuat detailnya, kita butuh banyak bambu dan banyak waktu. Sehingga kita buat lebih sederhana," pungkasnya.

