Banyak Peternak Baru Jadi Faktor Harga Telur di Jateng Anjlok

Banyak Peternak Baru Jadi Faktor Harga Telur di Jateng Anjlok

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Selasa, 11 Agu 2026 18:57 WIB
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Defransisco Dasilva Tavares di Kantor DPRD Jateng, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Selasa (11/8/2026).
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Defransisco Dasilva Tavares di Kantor DPRD Jateng. Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Defransisco Dasilva Tavares, menanggapi maraknya demo oleh para peternak ayam di beberapa lokasi. Ia mengungkap harga ayam dan telur anjlok karena overpopulasi dengan banyaknya peternak baru.

Frans mengatakan, persoalan harga telur dan ayam tidak bisa dilepaskan dari kondisi produksi unggas di Jateng yang saat ini sangat tinggi. Menurutnya, hal itu dikarenakan stok telur dan ayam di Jateng yang sudah overproduksi.

"Kalau kita lihat ayam-ayam daging khususnya di Jawa Tengah itu populasinya sudah overproduksi," kata Frans di Kantor DPRD Jateng, Selasa (11/8/2026)..

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, populasi ayam di Jateng kini hampir mencapai 1 miliar ekor. Kondisi tersebut semakin bertambah karena banyak masyarakat tertarik beternak setelah melihat adanya peluang telur dan ayam dibeli dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

ADVERTISEMENT

"Ada SPPG itu kan mereka melihat ini ada peluang, sehingga muncul peternak-peternak baru. Ini akhirnya menambah jumlah populasi kita semakin banyak," jelasnya.

"Ada pengaruhnya dari SPPG karena kalau secara hukum ekonomi kan kalau semakin banyak (produknya), otomatis kan berarti harga akan cenderung turun," imbuhnya.

Frans pun menyebut, pemerintah telah berupaya menjaga penyerapan telur dan ayam peternak. Intervensi itu dilakukan melalui kesepakatan dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar SPPG menyerap produk langsung dari peternak.

"Telur itu paling minim dia (SPPG) ambilnya Rp 24 ribu. Kemudian yang daging sampai dengan Rp 35 ribu minimal itu. Kalau dia mengambil ayam hidup itu setara dengan Rp 20.000, artinya belinya di kandang," katanya.

Kesepakatan tersebut, lanjutnya, melibatkan BGN, Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), pemerintah daerah serta koordinator SPPG di kabupaten/kota. Pemerintah juga telah mengadakan surat edaran terkait aturan itu.

Frans juga menyayangkan adanya aksi peternak yang memakan ayam hidup hingga mandi telur. Dirinya mengaku sudah berdiskusi dengan para peternak yang melakukan aksi tersebut dan meminta peternak menyalurkan telur maupun ayam kepada masyarakat yang membutuhkan.

"Alangkah baiknya kalau mau lebih bagus, saya terus terang mengusulkan, kita punya desa miskin banyak sekali. Kalau panjenengan bisa memberikan kepada orang miskin yang mungkin belum pernah makan ayam, itu panjenengan akan mendapat pahala dunia dan akhirat," ujarnya.

Menurutnya, cara tersebut dinilai lebih bermanfaat daripada telur dan ayam yang seharusnya menjadi sumber penghasilan justru dibuang atau dimakan dalam aksi teatrikal.

"Itu akan lebih bagus daripada itu dibuang-buang seperti itu. Kalau orang lain yang makan saja sulit, akan merasakan dari ini," jelasnya.

Frans mengatakan, dirinya memahami tekanan yang dialami peternak. Namun, ia berharap produk ternak yang tidak terserap pasar tidak berakhir sia-sia.

"Saya sampaikan. Mereka mungkin mempertimbangkan, karena lihat dari wajahnya kan senyum-senyum saja. Mungkin mikirnya 'betul juga ya'," tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, aksi demo ratusan peternak di depan kantor Bupati Pati diwarnai lempar telur sampai makan ayam hidup-hidup, hari Senin (10/8) kemarin. Massa menuntut agar pemerintah menaikkan harga telur dan ayam yang selama 4 bulan ini mengalami penurunan secara terus-menerus.

Di tengah terik matahari, seorang pria melakukan teatrikal mandi telur dan makan ayam yang masih hidup. Ini simbol jika peternak tidak kuasa menahan lapar dan makan ayamnya sendiri.

Ketua Asosiasi Unggas Peternak Seluruh Kabupaten Pati, Dwi Agus Siswanto mengatakan makan ayam hidup-hidup dan mandi telur adalah simbol peternak menanggapi kondisi sekarang ini. Karena harga telur dan ayam terus turun hingga para peternak merugi.

"Mereka sudah lapar karena tiap hari minim untuk penghasilan makanya di lapar pengen makan segala-galanya. Daripada dijual mending dimakan sendiri," kata Agus kepada wartawan ditemui di lokasi, Senin (10/8).



(afn/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads