Telur Peternak Pati Dibeli SPPG Rp 26 Ribu Per Kg Mulai Pekan Depan

Telur Peternak Pati Dibeli SPPG Rp 26 Ribu Per Kg Mulai Pekan Depan

Dian Utoro Aji - detikJateng
Selasa, 11 Agu 2026 16:05 WIB
Situasi aksi demo oleh peternak unggas di depan kantor Bupati Pati, Senin (10/8/2026).
Situasi aksi demo oleh peternak unggas di depan kantor Bupati Pati, Senin (10/8/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng
Pati -

Pemerintah Kabupaten Pati akhirnya memutuskan untuk menentukan harga telur Rp 26 ribu per kilogram dan diserap oleh SPPG. Keputusan ini setelah ratusan peternak unggas menggelar aksi demo di depan kantor Bupati Pati kemarin.

Audiensi dengan para peternak unggas itu digelar di Pendopo Kabupaten Pati siang tadi, Selasa (11/8/2026). Ada puluhan perwakilan peternak unggas yang menyampaikan keluhan langsung kepada Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra.

Selepas audiensi, Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra memutuskan harga telur ditetapkan Rp 26 ribu per kilogram. Pemkab pun membuat skema untuk menyerap telur dari para peternak unggas di Pati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di situ bahwa ada kesempatan bersama per kabupaten/kota menerima dari peternak telur dari kabupaten masing-masing dengan harga Rp 26 ribu per kilogram. Itu akan kami jalankan untuk minggu depan," kata Chandra kepada wartawan di Pendopo Kabupaten Pati.

Chandra mengatakan telah berkoordinasi dengan masing-masing SPPG. Mereka nantinya akan menyerap telur dari para peternak. Rencananya akan diambil 1 kali dalam seminggu. Kebijakan ini akan mulai berlaku pekan depan.

ADVERTISEMENT

"Peternak telur akan berkoordinasi dengan masing-masing SPPG, itu nanti setiap minggu akan diambil 1 kali di setiap SPPG," jelasnya.

Kesempatan yang sama, Wakil Ketua Asosiasi Unggas Peternak Seluruh Kabupaten Pati, Ali Gufron mengatakan bahwa peternak unggas di Pati sedang surplus telur. Dia mencatat ada 1 jutaan ekor ayam petelur. Produksi telur setiap hari mencapai 850 butir.

"Bahwa kami surplus terus, bahwa telur di Kabupaten Pati data kami dari ratusan anggota non anggota kami punya populasi 1 jutaan ekor, sedangkan produksi telur kita rata-rata 85 persen, asumsi 850 ribu telur produksi kita setiap hari," jelas Ali ditemui di Pendopo Kabupaten Pati.

Dia mengatakan dengan diserapnya ke SPPG itu baru tersalurkan 2 persen. Oleh karena itu berharap agar telur dari peternak unggas bisa diserap ke pasar modern juga.

"Kalau 1 kilogram 16 butir. Kita mencapai 50 ton per hari. Sedangkan SPPG di Pati ada 1.170 SPPG penerima manfaat 335.000 penerima manfaat artinya satu kali saja satu bulan saja itu sudah tersalurkan 2 persen," jelas Ali.

Diberitakan sebelumnya, aksi demo ratusan peternak di depan kantor Bupati Pati diwarnai lempar telur sampai makan ayam hidup-hidup hari Senin (10/8) kemarin. Massa menuntut agar pemerintah menaikkan harga telur dan ayam yang selama 4 bulan ini mengalami penurunan secara terus-menerus.

Di tengah terik matahari, seorang pria melakukan teatrikal mandi telur dan makan ayam yang masih hidup. Ini simbol jika peternak tidak kuasa menahan lapar dan makan ayamnya sendiri.

Suasana aksi terlihat mulai memanas ketika massa meminta Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra tidak kunjung keluar dari kantor menemui mereka. Karena menunggu lama, massa sempat melempar telur dan ayam ke arah dalam kantor Bupati Pati.

Ketua Asosiasi Unggas Peternak Seluruh Kabupaten Pati, Dwi Agus Siswanto mengatakan makan ayam hidup-hidup dan mandi telur adalah simbol peternak menanggapi kondisi sekarang ini. Karena harga telur dan ayam terus turun hingga para peternak merugi.

"Mereka sudah lapar karena tiap hari minim untuk penghasilan makanya di lapar pengen makan segala-galanya. Daripada dijual mending dimakan sendiri," kata Agus kepada wartawan ditemui di lokasi, Senin (10/8/2026).



(alg/ams)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads