Peristiwa mengerikan terjadi dalam demo peternak di depan Kantor Bupati Pati. Tak hanya diwarnai aksi lempar telur, ada seorang peternak yang memakan ayam hidup-hidup.
Diketahui, massa menuntut agar pemerintah menaikkan harga telur dan ayam yang selama 4 bulan ini mengalami penurunan secara terus-menerus.
Massa terlihat membawa berbagai spanduk bertuliskan "Ada yang sibuk korupsi daripada mikirin rakyat", "Dana lamaran habis digunakan beli pakan", hingga "harga telur mahal pejabatnya menutup mata".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang pria kemudian melakukan aksi teatrikal. Namun, setelah mandi telur, dia tiba-tiba menggigit seekor ayam hingga mati, dengan pria tersebut berlumuran darah.
Ketua Asosiasi Unggas Peternak Seluruh Kabupaten Pati, Dwi Agus Siswanto mengatakan makan ayam hidup-hidup dan mandi telur adalah simbol peternak menanggapi kondisi sekarang ini. Karena harga telur dan ayam terus turun hingga para peternak merugi.
"Mereka sudah lapar karena tiap hari minim untuk penghasilan makanya di lapar pengen makan segala-galanya. Daripada dijual mending dimakan sendiri," kata Agus kepada wartawan ditemui di lokasi, Senin (10/8/2026).
"Kondisi seperti ini berlangsung 4 sampai 5 bulan ini," lanjut Agus.
Situasi aksi demo oleh peternak unggas di depan kantor Bupati Pati, Senin (10/8/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng |
Bagi-bagi Telur dan Ayam
Agus melanjutkan, massa aksi juga membagikan ayam hingga telur kepada warga. Sebab, mereka sudah tidak sanggup lagi untuk beternak.
"Kita membagikan telur dan ayam. Telur 1 ton ayam 1 ton kita bagi-bagi sebagai ungkapan peternak tidak sanggup lagi untuk berternak," Agus menjelaskan.
Agus melanjutkan, misalnya harga telur saat ini Rp 20 ribu. Padahal ideal harga telur mencapai Rp 26.500 ribu per kilogram. Dampaknya peternak merugi Rp 5.000 lebih setiap hari untuk tiap per 1 kilogram.
"Rp 20 ribu untuk telur, Idealnya sesuai harga pemerintah itu Rp 26.500 untuk telur, itu jadi setiap hari kita rugi Rp 5 sampai Rp 6 ribu per kilogram," jelasnya.
Sedangkan untuk ayam pedaging kisaran Rp 21.500 di pasaran saat ini. Sementara idealnya Rp 22 ribu.
"Harga pedaging idealnya Rp 22 ribu kalau di pasaran Rp 21.500," jelasnya.
Sementara harga pakan terus naik sejak 2 bulan terakhir ini. Harga pakan mencapai Rp 450 ribu per sak. Padahal normalnya Rp 400 ribu.
"Harga pakan mahal sejak 2 bulan ini naiknya per 2 minggu, Rp 300, Rp 400 pada saat kemarin. Di pabrik Rp 400 ribu per kilogram sekarang Rp 450 ribu itu naik menjadi Rp 50 ribu," jelasnya.
Dia mengatakan telah beberapa kali melakukan audiensi dengan Pemda Pati. Akan tetapi hasilnya tidak ada realisasi. Dalam kurun waktu 4 sampai 5 bulan terakhir, peternak terus mengalami kerugian.
"Hampir 25 persen peternak kita sudah tutup. Kalau diterus-teruskan kita tutup semua," jelasnya.
"Jumlahnya ada 400-an terverifikasi di asosiasi. Yang tidak terdaftar ada 200 jadi total ada 600 peternak di seluruh Kabupaten Pati," imbuhnya.
Agus memberikan waktu sampai akhir bulan ini apabila tidak ada tindakan dari pemerintah maka peternak unggas akan menggelar demo lebih besar lagi.
"Kita kasih deadline sampai akhir bulan ini akan menyatakan akan mengeluarkan massa yang sebesar-besarnya," tegas Agus.
Tanggapan Pemkab
Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, mengatakan terkait dengan permintaan harga pakan untuk hewan unggas akan disampaikan kepada pemerintah pusat. Chandra mengaku akan mengawal tuntutan warga sampai ke Jakarta.
"Untuk harga pakan dan lainnya akan kita kawal ke pemerintah pusat, untuk harga pakan atau yang memberatkan peternak akan kita kawal ke tingkat pusat," jelas Chandra saat memberikan sambutan di hadapan massa.
Sementara terkait dengan harga telur, Chandra akan berkoordinasi dengan SPPG di Pati untuk menyerap telur peternak.
"Hari ini sudah ketemu Ketua SPPG untuk koordinasi agar semua SPPG mengambil dari peternak dari Pati," jelasnya.

