Penampakan Retakan di Rumah Warga Gombel Semarang Imbas Proyek Mal

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Sabtu, 08 Agu 2026 14:07 WIB
Penampakan rumah warga Gombel, Semarang, terdampak proyek mal, Jumat (7/8/2026) malam. Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Rumah sejumlah warga RT 06 RW 05, Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, mengalami retak sejak adanya pembangunan mal. Retakan itu kian parah seiring proyek terus berjalan.

Pantauan detikJateng sekitar pukul 21.00 WIB, Jumat (8/7/2026) di turunan Gombel yang kini ditutup, tampak sejumlah ekskavator tengah beraktivitas di pembangunan.

Pembangunan jalan di turunan Gombel itu juga masih berproses, sehingga menyisakan banyak material perbaikan jalan yang membuat debu bertebaran di sepanjang jalan.

Penampakan rumah warga Gombel, Semarang, terdampak proyek mal, Jumat (7/8/2026) malam. Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Beberapa warga tengah berkumpul di pos solidaritas warga. Tampak terdapat poster berisi foto rumah-rumah warga yang mengalami keretakan.

Tampak di rumah salah satu warga, Misiati (62), keretakan di dinding membentang dari ruang tamu hingga ke bagian dalam rumah. Plafon rumahnya terlihat sudah retak dan hampir ambrol. Atap kamar mandinya bahkan sudah runtuh.

Selain di dinding, kerusakan juga terlihat pada bagian lantai rumah. Sejumlah ubin tampak retak dan terangkat sehingga membentuk celah cukup lebar di lantai. Keramik di lantai juga terlihat sudah pecah.

Penampakan rumah warga Gombel, Semarang, terdampak proyek mal, Jumat (7/8/2026) malam. Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Menurut Misiati, keretakan di rumahnya semakin melebar sejak proyek berlangsung. Ia mengatakan, kondisi rumahnya sebelumnya memang sudah memiliki retakan halus, tetapi tidak separah sekarang.

"Semuanya retak, makanya saya tutupi karpet karena bahaya ada anak kecil. Kamar mandinya lebih parah sampai atapnya roboh," kata Misiati di rumahnya, Jumat (7/8) malam.

"Ambles semua lantainya. Plafon-plafon pada jatuh, sebelumnya memang sudah retak, tapi tidak terlalu. Berhubung ada pakubumi, melebar," lanjutnya.

Misiati menyebut aktivitas proyek turut mengganggu kenyamanan warga karena suara pekerjaan terdengar hingga malam hari. Dia pun meminta rumahnya dibeli pihak mal.

"Siang terganggu, malam juga terganggu. Apalagi ada anak balita. Tidurnya tetap terganggu. Kita juga bingung mau tidur di mana. Ada balita tiga, di rumah saya ini gabungan sama rumah depan ada 11 orang," katanya.

"Kalau memang mau, ya diganti untung. Daripada setiap malam, setiap hari seperti ini. Kita juga was-was. Mungkin yang lain nego 3 kali, kalau saya 5 kali," sambungnya.

Hal senada disampaikan Pardjana (71), warga yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak 1985. Di rumahnya, tampak retakan semakin melebar hingga tangannya bisa masuk di sela-sela retakan.

Retakan di rumahnya terlihat memanjang dari bawah hingga mendekati kusen jendela dan melebar di sejumlah titik. Dinding dekat plafon terlihat retak dan mengelupas hingga bata di baliknya muncul.

"Pas pembangunan awal cuma mletek-mletek, seperti retak rambut. Lama-lama semakin besar selama ada pengeboran," kata Parjana.

Penampakan rumah warga Gombel, Semarang, terdampak proyek mal, Jumat (7/8/2026) malam. Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Ia mengaku kerap merasakan rumahnya yang berada tepat di depan pembangunan mal itu bergetar ketika alat berat bekerja. Suara dan getaran tersebut bahkan membuatnya merasa tidak nyaman saat beristirahat.

"Kalau malam suaranya seperti gempa. Grek-grek-grek, rumah terasa goyang. Jadi tidur juga waswas," ujarnya.

Pardjana mengatakan, warga berharap ada solusi yang jelas terhadap kondisi rumah mereka. Salah satu pilihan yang diharapkan warga adalah ganti untung.

"Ya sama (dengan warga lainnya), warga maunya ganti untung," katanya.

Salah seorang warga, Imam Sutono (66), mengatakan keretakan pada rumah warga sebenarnya sudah ada sebelum proyek memasuki fase pengeboran. Namun, kondisinya masih sebatas retak rambut dan tidak terlalu mengkhawatirkan.

"Dulu-dulu nggak ada masalah. Paling ada retakan seperti retak rambut. Setelah ada pengeboran, dampaknya luar biasa, 4 bulanan ini kurang lebih," kata Imam di pos solidaritas warga Gombel, ucapnya.

Imam menyebut, getaran dari aktivitas pengeboran terasa hingga ke rumah-rumah warga. Ia bahkan mengibaratkan getarannya seperti gempa.

"Kalau ngebor kena batu, getarannya sampai ke rumah. Kaca bisa bergetar, gelas dikasih air juga kelihatan goyang. Rasanya seperti gempa," ujarnya.

Tak hanya dinding yang retak, sejumlah bagian rumah warga nuga mengalami perubahan posisi. Imam mengatakan, kusen rumah menjadi miring dan celah retakan pada dinding bahkan bisa dimasuki tangan.

"Tanahnya ambles. Terus kusen-kusen itu kadang jadi miring, tidak presisi. Sampai tangan kita itu dimasukin ke tembok yang retak itu muat," ungkapnya.

Ia juga mengkhawatirkan kondisi rumah akan semakin parah ketika memasuki musim hujan. Mereka menilai, pergerakan tanah yang sudah terjadi dapat meningkatkan risiko kerusakan apabila air masuk ke dalam tanah.

"Kalau hujannya lebat bisa sampai merosot rumahnya, longsor, makanya kami sangat khawatir," ucap Imam.

Imam mengatakan warga sebenarnya telah beberapa kali didata dan rumah-rumah yang mengalami keretakan juga telah difoto. Namun, ia mempertanyakan proses pendataan tersebut, karena pada survei berikutnya disebut berbeda karena ada beberapa foto tak tersedia.

"Selama Pakuwon ini dibangun, mungkin ada dua kali survei, dari BBPJN dan mall juga membawa pemborong yang mau membangun. Tapi mungkin ada kelicikan," ucapnya.

"Karena foto pertama rumah saya difoto lebih dari 20 kali. Setelah survei kedua yang rusak mau dibenahi, ternyata banyak foto hilang. Saya tanyakan, katanya mungkin terhapus dan nanti difoto lagi," katanya.

Menurutnya, hal itu menimbulkan kecurigaan bagi warga. Karena hilangnya beberapa foto itu membuat keretakan yang ada tak bisa diklaim untuk dibenahi.

"Itu kan sudah permainan. Makanya warga sini nggak setuju kalau diperbaiki saja. Percuma, wong pembangunan ini jangka panjang, kalau dibenahi paling 1-2 bulan retak lagi. Makanya warga sini mintanya ganti untung," ujarnya.

Menurut Imam, warga berharap rumah mereka bisa dibeli sekalian oleh pihak yang melakukan pembangunan. Dengan begitu, warga tidak lagi khawatir dengan dampak pekerjaan proyek.

"Kalau dibeli sekalian, warga lebih tenang. Mau bangun sampai berapa jam, misalnya 24 jam, nggak madalah. Sudah nggak ada kaitannya dengan warga," katanya.



Simak Video "Serunya Bermain Ski Ban di Kopeng Adventure Park, Semarang"

(azu/ams)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork
InsertLive
Kamis, 01 Jan 1970 07:00 WIB