Jalan Gombel Ditutup, Warga Sambat Trans Semarang Tak Mau Berhenti

Jalan Gombel Ditutup, Warga Sambat Trans Semarang Tak Mau Berhenti

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Senin, 20 Apr 2026 13:58 WIB
Penutupan Jalan Gombel Lama membuat Jalan Gombel Baru, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, diterapkan dua arah, Senin (20/4/2026).
Penutupan Jalan Gombel Lama membuat Jalan Gombel Baru, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, diterapkan dua arah, Senin (20/4/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Jalan Gombel Lama alias turunan Gombel, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, ditutup untuk perbaikan jalan. Warga pun mengeluh karena shelter bus Trans Semarang terdampak penutupan, sementara bus tak mau berhenti di tepi jalan.

Pantauan detikJateng, Senin (20/4/2026) pukul 10.00 WIB, di tanjakan Gombel sudah diberlakukan dua arah sudah dimulai. Pembatas jalan sudah dipasang mulai dari ujung flyover Jatingaleh menuju tanjakan Gombel.

Pembatas jalan juga telah dipasang di atas turunan Gombel. Para pengendara sudah diarahkan pihak kepolisian untuk turun melalui Jalan Gombel Baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa warga tampak berkumpul di tepi Jalan Setiabudi, menunggu bus Trans Semarang untuk berhenti. Namun, beberapa bus yang melintas tak mau berhenti meski telah dicegat.

ADVERTISEMENT

Salah satu warga Bukitsari yang menunggu bus, Yen (60), menyebut penutupan Jalan Gombel Lama sudah dimulai sejak pukul 09.00 WIB.

"Mulai penutupannya hari ini, kayanya untuk perbaikan Jalan Gombel Lama," kata Yen kepada detikJateng di lokasi.

Ia mengaku biasa naik bus Trans Semarang dari halte di Gombel Lama. Namun, karena adanya penutupan, ia harus menunggu di Jalan Setiabudi. Ia menyebut karena adanya penutupan, banyak bus Trans Semarang tak mau berhenti.

"Ini pengalihan arus seharusnya kan dikasih petunjuk supaya drivernya Trans Semarang maupun Trans Jateng bisa berhenti, karena ini tidak mau berhenti," ujarnya.

Yen yang sudah menunggu bus 20 menit itu juga menyebut, karena tak naik dari halte, ia kesulitan untuk naik-turun dari bus. Menurutnya, dengan ditutupnya Jalan Gombel Lama maka seharusnya ada pembuatan halte baru atau sementara.

"Harusnya dibuatkan tempat yang nyaman untuk lansia, tidak nyaman karena harus begini. Sekarang kalau mau naik BRT susah, untuk lansia riskan," ujarnya.

Ia pun berharap halte yang semula berada di ujung turunan Gombel Lama itu bisa digeser, agar memudahkan para penggunanya. Setelah sekitar 30 menit, Yen baru bisa naik menggunakan feeder usai beberapa bus tak mau berhenti.

"Soalnya kalau bus ini dicegat itu nggak mau di sini, padahal busnya kosong. Ditutupnya ini jadi nggak beraturan harusnya shelter BRT dibuat lagi, malah dibongkar," ungkapnya.

Salah satu warga Bukitsari yang menunggu bus, Yen (60), di Jalan Setiabudi, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Senin (20/4/2026).Salah satu warga Bukitsari yang menunggu bus, Yen (60), di Jalan Setiabudi, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Senin (20/4/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Sementara salah satu warga sekitar sekaligus pemilik kios tambal ban, Bimbo (52), mengatakan para petugas sudah memasang rambu-rambu dilarang melintas, menurunkan tiang listrik dan internet, serta mengukur Jalan Gombel Lama.

Selain menyulitkan mobilitas pengendara motor dan pelanggan bus Trans Semarang, adanya pemberlakuan dua arah ini juga membuat bengkelnya terdampak. Para pelanggannya yang semula bisa leluasa melintas kini menjadi kesulitan karena harus menyeberang.

"Kan dua arah, terus dibatasi gini, jadi ndak bisa sana-sini. Kalau satu arah kan enak malahan (motor/mobil) bisa langsung ke sini. Kalau kayak gini muternya kejauhan," tuturnya.

Ia pun berharap proyek perbaikan Jalan Gombel Lama bisa selesai tepat waktu dalam 7 bulan, agar pelaku usaha di sekitar Gombel Lama tidak terlalu lama terdampak perbaikan. Terlebih, mereka tak mendapatkan kompensasi.

"Nggak ada kompensasi, jadi harapannya ya cepat selesai. Adanya dua arah ini ya kesusahan, apalagi 7 bulan bilangnya, belum tahu kenyataannya. Siapa tahu mundur," ujarnya.

"Kayak sebelumnya pernah perbaikan flyover bilangnya setahun, jadi 2 tahun, jadi macet total. Kalau ini kan kemungkinan ada sangkut pautnya sama pembangunan mall, harusnya bisa cepat," lanjutnya.

Sementara itu, Ketua RT 6 RW 5 Kelurahan Tinjomoyo, Tugimin menyebut perbaikan Gombel Lama sudah dilakukan beberapa kali. Namun, hasilnya jalan di sana tetap retak karena struktur tanah yang labil.

"Ini semoga terakhir kali untuk diperbaiki karena sudah berkali-kali diperbaiki memang hasilnya memang kayak gini, patah terus," ujar Tugimin.

Tugimin berharap perbaikan Jalan Gombel Lama bisa memberikan manfaat bagi warga Kota Semarang, khususnya warga di sekitar Gombel Lama.

"Pembangunan proyek di Jalan Gombel Lama ini kan nantinya kebaikan juga untuk masyarakat Gombel Lama. Juga kan ada proyek mal, akses jalan juga membaik, harapannya UMKM warga juga nanti bisa ikut membaik," ujarnya.

"Ditutup 7 bulan, warga ya terdampak karena jualannya dari para pengendara motor, warga yang dari atas juga pasti terdampak kalau punya UMKM," lanjutnya.

Ia menyebut sementara ini tak ada kompensasi bagi warga Kelurahan Tinjomoyo. Namun, BBPJN telah mendata jumlah pelaku usaha di Jalan Gombel Lama sebelummya.

"Kompensasi kelihatannya masih disosialisasikan, karena kemarin sudah didata para pedagang, ada sekitar 50-an. Kalau ada kompensasi kita alhamdulillah," tuturnya.

Rekayasa Lalin Bakal Berlaku 7 Bulan

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Danang Kurniawan, mengatakan rekayasa lalu lintas akan diperkirakan berlangsung hingga tujuh bulan.

"Pelaksanaan kegiatan maksimal selama tujuh bulan, dengan penerapan Jalan Gombel Baru menjadi dua arah," kata Danang.

Untuk kendaraan berat seperti truk dan bus, diarahkan melalui Tol Srondol-Jatingaleh. Adapun kendaraan dari arah Banyumanik, dialihkan melalui Tol Srondol, dari Bukit Sari melalui Tol Undip Tembalang, serta dari Semarang bawah melalui Tol Jatingaleh I.

"Kendaraan roda dua dari arah Undip dan Tembalang diarahkan melalui Jalan Baru Undip Jangli, Jalan Kasipah, hingga Jalan Dr. Wahidin," urainya.

Ia mengimbau masyarakat memahami skema rekayasa lalu lintas itu agar tidak terjebak kepadatan. Pengendara yang biasa melintasi Jalan Gombel juga disarankan menggunakan jalur alternatif selama pekerjaan berlangsung.



(ams/apl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads