Pakuwon Semarang Janji Perbaiki Rumah Warga Gombel Terdampak Pembangunan Mal

Pakuwon Semarang Janji Perbaiki Rumah Warga Gombel Terdampak Pembangunan Mal

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Rabu, 12 Agu 2026 14:57 WIB
Pihak Pakuwon Mall mengunjungi rumah warga di Gombel, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Rabu (12/8/2026).
Pihak Pakuwon Mall mengunjungi rumah warga di Gombel, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Rabu (12/8/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Pakuwon Mall buka suara terkait kerusakan rumah warga Gombel yang terdampak aktivitas proyek pembangunan mal. Sebanyak 14 rumah akan diperbaiki oleh pihak Pakuwon.

Pantauan detikJateng di turunan Gombel, Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, pihak Pakuwon bersama Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Semarang mendatangi rumah-rumah warga di sekitar pembangunan mal

Pihak Pakuwon dan warga tampak saling membicarakan dampak pembangunan yang dirasakan warga. Atas dampak itu, pihak Pakuwon juga memberikan kepastian perbaikan melalui nota kesepakatan yang ditandatangani oleh warga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Head GA Pakuwon Group, Iful Novianto mengatakan, perbaikan tersebut merupakan tindak lanjut dari survei yang telah dilakukan pihaknya terhadap rumah-rumah warga.

"Kalau perbaikan secara keseluruhan, hari ini ada 14. Sebenarnya total 19, cuma dari arahan Pak Lurah kita bagi BBPJN (Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional) 5, kita 14 yang Pakuwon," kata Iful di lokasi, Rabu (12/8/2026).

ADVERTISEMENT

Pihak Pakuwon Mall mengunjungi rumah warga di Gombel, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Rabu (12/8/2026).Head GA Pakuwon Grup, Iful Novianto di Gombel, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Rabu (12/8/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Iful menjelaskan, pihaknya telah melakukan dua kali survei pada awal Juli. Survei pertama dilakukan oleh tim Pakuwon, sedangkan survei kedua melibatkan vendor yang nantinya mengerjakan perbaikan.

"Hari ini kita komitmen kembali. Kita sudah siapkan tenaga dan material untuk perbaikan," ujarnya.

Iful menegaskan, perbaikan yang dilakukan bukan sekadar menambal atau melakukan touch up pada retakan dinding. Pihaknya memastikan kerusakan di rumah para warga kembali pada kondisi semula.

"Konsepnya kita mengembalikan ke posisi semula. Misalnya ada retakan, nggak kami popok. Ada metodenya. Kami jahit dulu, kami lubangi dulu, kemudian kami jahit, kemudian kami cor," jelasnya.

Metode tersebut dilakukan untuk merekatkan kembali bagian dinding yang mengalami keretakan. Ia menyebut kondisi kerusakan rumah warga secara umum berupa retakan.

Iful juga menegaskan pihaknya tidak membedakan apakah kerusakan terjadi pada tanah milik warga atau bukan. Selama ada keluhan terkait kerusakan di sekitar proyek, pihaknya akan menindaklanjutinya.

"Kalau ada kerusakan, ya kita tidak melihat ini tanah negara atau enggak. Itu di depan kami dan itu menjadi bagian dari responsibilitas kami, kami akan ambil," katanya.

Terkait adanya warga yang meminta tanah dan rumah mereka dibeli, alias ganti untung, Iful mengatakan skema tersebut belum masuk dalam kompensasi Pakuwon. Ia hanya memastikan kerusakan di rumah warga bisa diperbaiki seluruhnya.

"Konsep kami mulai dari awal adalah memperbaiki. Karena proyek ini panjang, rusak ajukan, kami perbaiki. Ada kerusakan lagi, diajukan lagi, kami akan perbaiki," jelasnya.

"Untuk saat ini skema yang ada di luaran seperti ganti untung itu kami belum masukkan di dalam proses kompensasi kami. Tapi tetap kami akan perbaiki," sambung Iful.

Ia mengatakan, komunikasi dengan warga yang menginginkan skema berbeda tetap akan dibangun. Namun, untuk saat ini tawaran yang diberikan Pakuwon adalah perbaikan rumah.

Ia pun mengaku telah menyadari kawasan Gombel merupakan wilayah dengan karakter tanah bergerak. Oleh karenanya, Pakuwon mengaku telah melakukan studi geoteknik sejak 2022 sebelum memulai proyek.

"Kita tahu di Gombel ini memang tanahnya bergerak. Oleh karena itu kita di Pakuwon sebenarnya melakukan studi yang cukup panjang mulai tahun 2022," katanya.

"Cukup panjang, 2,5 tahun kita melakukan studi terkait tanah. Setelah kami pelajari, ada satu kesimpulan bahwasanya daerah ini bisa jadi daerah komersil tapi dengan beberapa catatan," lanjutnya.



(alg/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads