Jumlah korban diduga keracunan makan bergizi gratis (MBG) dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Giyanti dilaporkan sebanyak 28 orang. Para korban tersebut tidak ada yang menjalani rawat inap.
Jumlah tersebut didapat dari data Koordinator Wilayah Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (Korwil SPPI) Kabupaten Magelang, Nrangwesthi Widyaningrum mengatakan, hingga Jumat (7/8) pukul 20.50 WIB.
"Terdampak hingga pukul 20.50 WIB sebanyak 28 orang. Mereka terdiri atas 26 siswa SMPN 3 Candimulyo dan 1 siswa serta 1 guru MI Nurul Hidayah Trenten," kata Westhi dalam pesannya kepada detikJateng, Sabtu (8/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Westhi menyebut untuk mengantisipasi kejadian serupa pihaknya langsung memberikan imbauan ke seluruh SPPG Operasional di Kabupaten Magelang. Imbauan ini menyangkut hal-hal yang wajib dilakukan SPPG.
"Menindaklanjuti kejadian fatal dugaan gangguan pencernaan pada penerima manfaat Program Makan Bergizi (MBG) di SPPG Magelang Candimulyo Giyanti tanggal 7 Agustus 2026, seluruh kepala SPPG, ahli gizi, akuntan, asisten lapangan, dan relawan wajib meningkatkan pengawasan serta memastikan seluruh proses operasional dilaksanakan sesuai SOP dan standar keamanan pangan," tegas Westhi.
Dalam imbauan tersebut berisi 9 poin antara lain memastikan seluruh bahan baku yang diterima sesuai spesifikasi dalam kondisi baik, layak digunakan serta dilakukan pemeriksaan fisik, aroma, warna, tekstur, suhu dan masa simpan. Kemudian seluruh proses produksi dilaksanakan sepenuhnya di area SPPG.
"Pastikan penyimpanan bahan baku sesuai standar, termasuk pengendalian suhu chiller, freezer, gudang basah, dan gudang kering serta dilakukan pencatatan suhu secara berkala," ujarnya.
Selanjutnya seluruh relawan SPPG diminta menggunakan APD lengkap dan menerapkan higiene personal selama proses produksi.
"Pastikan waktu antara makanan selesai dimasak hingga dikonsumsi penerima manfaat tetap berada dalam batas aman sesuai ketentuan. Sampel makanan (food sample) dan sampel organoleptik disimpan sesuai prosedur," katanya.
"Apabila ditemukan bahan baku yang tidak sesuai spesifikasi, penyimpangan proses produksi, atau kondisi yang berpotensi mengganggu keamanan pangan, segera hentikan proses pada tahapan tersebut dan laporkan kepada Koordinator Wilayah untuk mendapatkan arahan lebih lanjut," tegas Westhi.
Westhi mengingatkan agar hal ini menjadi perhatian dan dilaksanakan dengan sepenuh tanggung jawab.
"Keselamatan penerima manfaat merupakan prioritas utama sehingga tidak ada toleransi terhadap penyimpangan prosedur operasional," paparnya.
Iamenyampaikan mulai Senin (10/8) lusa, SPPG Giyanti berhenti operasional.
"Betul (mulai Senin berhenti operasional). Selain itu, juga menunggu surat untuk diizinkan operasional kembali oleh BGN pusat pascadugaan kejadian ini," jelasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang, Dr Lies Pramudiyanti, mengatakan pihaknya telah mengambil sampel makanan dan sampel muntahan untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium kesehatan.
"Iya betul, laboratorium khusus di BLKK (Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi) Jogja," kata Lies dalam pesan singkatnya kepadadetikJateng.
"(Sampel yang diambil) Makanan yang disajikan yang dicurigai menyebabkan keracunan. Menu hari itu ditambah sampel muntahan," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Penunjang RSUD Merah Putih, Drg Rurit Obyantoro, mengatakan update jumlah total pasien yang ditangani dengansuspect foodintoksikasi, Jumat (7/8) per jam 22.40 WIB, ada 25 pasien.
"25 pasien itu terdiri laki-laki 8 dan perempuan 17. Status rawat jalan 25 pasien," kata Rurit dalam pesannya kepadadetikJateng.
"Kemarin yang kami rawat itu ternyata tidak ada yang bisa muntah dan keluar makanannya hanya mual saja. Jadi, tidak ada yang bisa kita ambil sampel muntahan dari pasiennya," pungkasnya.
