Kasus dugaan perundungan (bullying) yang menimpa seorang siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kabupaten Pati menjadi sorotan publik. Korban berinisial AF (13) mengalami luka serius hingga dua jari tangan kirinya putus.
Peristiwa tersebut viral di media sosial setelah beredar video yang memperlihatkan kondisi korban saat dirawat. Dalam video itu, korban mengaku dikejar tiga kakak kelas hingga memanjat pagar sekolah. Saat berusaha menyelamatkan diri, tangannya terjepit pagar hingga mengalami luka berat.
Pendamping korban dari Astuti Foundation, Padina Mahardikasari, menyebut pihaknya menerima laporan dari kakak korban sebelum akhirnya memberikan pendampingan hukum dan psikologis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu ada dugaan bullying karena sampai jari tangannya korban itu putus karena kejepit di pagar," kata Padina kepada wartawan di rumahnya, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Padina, korban sempat menjalani perawatan di rumah sakit sejak kejadian pada Senin (27/7/2026) dan baru diperbolehkan pulang pada Jumat (31/7/2026).
"Kondisi korban saat kemarin masuk ke rumah sakit, tetapi kemarin Jumat (31/7) siang sudah pulang. Sekarang sudah di rumah," jelas dia.
Pendamping Sebut Jari Korban Dikubur
Padina juga mengungkapkan hal yang membuat pihak keluarga kecewa. Ia menyebut bagian jari korban yang putus sempat dikuburkan di lingkungan sekolah.
"Namun pihak sekolah tidak kooperatif karena sisa jari disuruh menguburkan siswa di sekolah tersebut juga. Pihak sekolah tidak ada menjenguk ke korban," terang dia.
Ia menjelaskan, berdasarkan keterangan yang diterimanya, insiden bermula ketika korban diduga mengalami perundungan oleh beberapa kakak kelas. Saat korban memanjat pagar dan jarinya terjepit, menurutnya ada sejumlah terduga pelaku di lokasi.
"Kronologinya, pada saat itu korban dibully oleh beberapa siswa. Pada saat jari terjepit pagar dan di sana ada beberapa terduga pelaku tetapi tidak dibuka pagarnya sudah tahu kejepit kenapa pagarnya tidak dibuka," terang dia.
Padina menambahkan laporan resmi telah disampaikan ke pihak kepolisian.
"Korban sudah melapor ke polisi dan diterima oleh Polres. Untuk proses menjadi kewenangan Polresta Pati," imbuhnya.
Pihak Sekolah Bantah Bullying
Sementara itu, Kepala MTs, Safi'i, membantah insiden tersebut merupakan aksi perundungan. Ia menegaskan kejadian itu murni kecelakaan.
"Menyatakan kejadian yang ada bahwa sebetulnya murni dari insiden atau kecelakaan yang tidak ada unsur kesengajaan atau pembullyan," kata Safi'i di wilayah Margorejo.
Ia menjelaskan insiden terjadi seusai salat Zuhur ketika korban naik ke pagar sekolah hingga tangannya terjepit.
"Habis salat duhur itu anak sebelum masuk ke kelas, ada anak-anak, terus ada anak yang naik pagar tangannya kecepit. Naik pagar dari utara jatuhnya di selatan pagar," jelas dia.
Menurut Safi'i, pihak sekolah langsung membawa korban ke rumah sakit setelah kejadian.
"Akibat kejadian ini, sudah menjenguk, pas kejadian mengantar ke rumah sakit saya dan para saksi. Kondisi korban tidak pingsan, sudah pulang ke rumah kemarin," jelas dia.
Kemenag-Polisi Turun Tangan
Menyusul ramainya kasus tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati Ahmad Syaiku bersama jajaran mendatangi sekolah untuk melakukan klarifikasi sekaligus melihat lokasi kejadian.
"Kami dari Kemenag sungguh merasa prihatin, dan itu terjadi madrasah. Saat ini belum memberikan pernyataan lebih lanjut karena tengah ditangani di Polres," kata Syaiku.
Ia menegaskan kedatangannya bertujuan mencari fakta sebenarnya terkait insiden tersebut.
"Jadi begitu ada informasi di media, langsung ke lokasi. Kami ingin mengetahui secara detail yang ada di sini," jelasnya.
Terpisah, Kasi Humas Polresta Pati Ipda Hafid Amin mengatakan pihak kepolisian masih melakukan pendalaman terhadap laporan yang telah diterima.
"Kami konfirmasi dulu," kata Hafid saat dihubungi.
