Viral siswa MTs di Kabupaten Pati diduga menjadi korban bullying hingga dilarikan ke rumah sakit karena 2 jarinya putus. Pihak korban menyebut jari tersebut sempat dikubur.
Korban didampingi oleh Padina Mahardikasari yang merupakan founder atau pendiri yayasan Astuti Foundation. Yayasan ini bergerak pada isu perlindungan perempuan dan anak.
Padina mengaku awalnya menerima laporan kejadian dugaan bullying dari kakak korban. Setelah itu ia memberikan pendamping kepada korban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu ada dugaan bullying karena sampai jari tangannya korban itu putus karena kejepit di pagar," kata Padina kepada wartawan ditemui di rumahnya, Kota Pati, Sabtu (1/8/2026).
Padina menyayangkan pihak sekolah yang tidak kooperatif. Sebab jari korban yang terputus langsung dikuburkan begitu saja. Jari itu kini sudah dibawa pihak keluarga.
"Namun pihak sekolah tidak kooperatif karena sisa jari disuruh menguburkan siswa di sekolah tersebut juga. Pihak sekolah tidak ada menjenguk ke korban," terang dia.
Lebih lanjut dia bilang, korban setelah kejadian pada Senin (27/7) lalu masuk ke rumah sakit. Setelah dirawat, korban baru pulang ke rumah hari Jumat (31/7) kemarin.
"Kondisi korban saat kemarin masuk ke rumah sakit, tetapi kemarin Jumat (31/7) siang sudah pulang. Sekarang sudah di rumah," jelas dia.
Padina mengatakan kejadian bermula saat ada keributan korban dibullying oleh 2 orang kakak kelasnya. Diduga karena panik, korban naik ke pagar yang berada di dekat kamar mandi dan tempat wudu sekolah.
"Kronologinya, pada saat itu korban dibully oleh beberapa siswa. Pada saat jari terjepit pagar dan di sana ada beberapa terduga pelaku tetapi tidak dibuka pagarnya sudah tahu kejepit kenapa pagarnya tidak dibuka," terang dia.
"Korban sudah melapor ke polisi dan diterima oleh Polres. Untuk proses menjadi kewenangan Polresta Pati," imbuhnya.
Sementara itu Kepala MTs, Safi'i mengatakan bahwa kejadian tersebut bukan bullying. Namun kejadian tersebut insiden murni dari kecelakaan yang tidak ada unsur kesengajaan.
"Menyatakan kejadian yang ada bahwa sebetulnya murni dari insiden atau kecelakaan yang tidak ada unsur kesengajaan atau pembullyan," kata Safi'i ditemui wartawan di MTs wilayah Margorejo, Sabtu (1/8/2026).
Safi'i menjelaskan kejadian tersebut terjadi pada Senin (27/7) lalu. Bermula saat selepas salat Zuhur, korban naik pagar dan tangannya kecepit. Menurutnya tidak ada unsur bullying seperti di media sosial.
"Habis salat duhur itu anak sebelum masuk ke kelas, ada anak-anak, terus ada anak yang naik pagar tangannya kecepit. Naik pagar dari utara jatuhnya di selatan pagar," jelas dia.
Menurutnya akibat kejadian ini korban sempat dilarikan ke rumah sakit. Sebab korban mengalami patah jari di bagian tangan kiri.
"Akibat kejadian ini, sudah menjenguk, pas kejadian mengantar ke rumah sakit saya dan para saksi. Kondisi korban tidak pingsan, sudah pulang ke rumah kemarin," jelas dia.
Terpisah, Kasi Humas Polresta Pati, Ipda Hafid Amin mengaku akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
"Kami konfirmasi dulu," kata Hafid saat dihubungi.
