Ratusan siswa dan belasan guru SMKN 6 Semarang diduga keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi Semarang yang mendistribusikan MBG ke sekolah tersebut pun disuspend oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Penyetopan sementara operasional SPPG tersebut dilakukan dalam rangka investigasi menyeluruh dan mempertimbangkan penerima manfaat.
"Kemarin (Jumat-31/7) kami sudah melakukan investigasi lintas sektor yang melibatkan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang, Koordinator Regional Jawa Tengah, Koordinator Wilayah Kota Semarang, Koordinator Kecamatan Semarang, Babinsa, Kepolisian (Polrestabes), dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang. Makanya dapur kami suspend sementara karena buat kami di BGN, keselamatan penerima manfaat jadi yang utama dan prioritas", ungkap Koordinator KPPG Semarang Hadi Riajaya dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (1/8).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihaknya juga mengecek para korban yang diduga keracunan MBG hingga dilarikan ke puskesmas dan rumah sakit. Hadi mengatakan, pemantauan dan evaluasi terus dilakukan.
"Kami bergerak cek kondisi penerima manfaat yang terdampak, yang dibawa ke Puskesmas sampai yang dilarikan ke Rumah Sakit untuk rawat inap. Sampai saat ini terus kita pantau dan evaluasi termasuk tahapan demi tahapan kronologisnya kami dalami", tambah Hadi.
Dalam rilis tersebut dijelaskan hasil investigasi sementara ini. Dikatakan, bahan baku berupa bumbu, buah, ayam, tahu, dan sayuran tiba di SPPG Karangturi secara bertahap pada Rabu (29/7) pukul 13.00-17.30 WIB.
Adapun proses persiapan dilakukan sejak pukul 18.55 WIB berupa pencucian, pengukusan tahu, hingga marinasi ayam pada pukul 19.30 WIB selama satu jam. Sebelum akhirnya digoreng hingga pukul 23.50 WIB.
Pada Kamis (30/7), tim pengolahan mulai memasak bumbu rendang, tahu, dan sayuran sejak pukul 00.30 WIB. Usai melewati uji organoleptik dan gramasi oleh Ahli Gizi pada pukul 04.00 WIB, makanan dikemas dan didistribusikan dalam dua kloter, yakni pukul 06.00 WIB dan 08.10 WIB.
Laporan gejala gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare baru diterima SPPG dari pihak sekolah pada Jumat (31/7) pukul 09.40 WIB.
Diberitakan sebelumnya, Kepala SMKN 6 Semarang, Berty Sagendra, menerangkan total ada 42 anak yang sempat dirawat di puskesmas maupun rumah sakit. Adapun dua orang masih dirawat di RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro (RSWN)
"Yang dirawat di puskesmas dan RS ada 42 anak, Mas. Alhamdulillah hari ini data masuk tinggal 2 anak yg dirawat di RS, masih menunggu perkembangan data laporan selanjutnya karena ini masih kami coba hubungi dan kunjungan ke RS," kata Berty melalui pesan singkat kepada detikJateng.
Berty menjelaskan, kondisi sebagian besar siswa yang diduga keracunan MBG mulai membaik. Untuk data terbaru jumlah korban masih terus dimutakhirkan.
"Pada intinya hari ini sebagian besar murid kondisi kesehatannya mulai membaik, Mas. Untuk update jumlahnya masih terus kami hubungi orang tua satu-satu melalui wali kelas sambil menanyakan kabar kesehatan murid. Mudah-mudahan hari ini semua murid sudah dalam keadaan sehat," jelasnya.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat dalam peristiwa itu ada ratusan siswa SMKN 6 Semarang yang diduga keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, 14 guru juga diduga mengalami keracunan.
"Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 707 orang mengalami gejala, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru," kata Kepala Dinkes Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (31/7) malam.
Hakam menyebut, sebanyak 689 orang mendapat penanganan di sekolah. Adapun sembilan orang lainnya dirujuk ke Puskesmas Halmahera hingga RSUD KRMT Wongsonegoro.
"Dari jumlah tersebut, 698 orang mendapatkan penanganan langsung di lokasi, sedangkan 9 orang dirujuk ke Puskesmas Halmahera, RSUD KRMT Wongsonegoro, RST Bhakti Wira Tamtama, dan Puskesmas Bangetayu untuk menjalani observasi lebih lanjut," sebutnya.
"Fokus kami saat ini memastikan seluruh siswa maupun guru yang mengalami gejala memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kebutuhannya. Secara bersamaan, tim juga melakukan penyelidikan epidemiologi serta pengambilan sampel makanan dan spesimen korban untuk diperiksa di laboratorium sebagai bagian dari penelusuran penyebab kejadian," lanjutnya.
Selain itu, Hakam menerangkan, pihaknya mengaktifkan Tim Gerak Cepat (TGC) guan menyelidiki epidemiologi. Hal tersebut dilakukan untuk menelusuri sumber dugaan keracunan.
"Kami belum dapat menyimpulkan penyebab kejadian sebelum seluruh proses pemeriksaan laboratorium selesai. Karena itu, kami mengimbau masyarakat tidak berspekulasi dan menunggu hasil pemeriksaan yang sedang berjalan," ungkap Hakam.
Dinkes juga menjalin koordinasi dengan SMKN 6 Semarang, SPPG Kota Semarang Timur atau Karangturi, Yayasan Putra Maju Mapan Mandiri, serta lintas sektor terkait guna mempercepat proses penelusuran.
"Sebagai langkah kehati-hatian, distribusi makanan dari penyelenggara SPPG terkait dihentikan sementara hingga proses penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium selesai dilakukan," ungkapnya.
Simak Video "Video: Tak Hanya Santri, Siswa SD dan Sekolah Lain Juga Keracunan MBG di Jatim"
[Gambas:Video 20detik] (iaf/alg)
