Sebanyak lima unit armada pemadam milik Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang harus dikandangkan akibat terkena efisiensi anggaran. Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, menyebut efisiensi membuat Damkar Kota Semarang kini hanya mendapat anggaran sekitar Rp 41 miliar pada tahun ini yang sebagian besar digunakan untuk biaya rutin seperti gaji pegawai.
"Pagu (anggaran) Damkar Rp 41.574.729.053. (Mencakup apa?) Biaya rutin, karena sangat tinggi belanja pegawai kami total 330 sekian pegawai, gaji, tunjangan. Semuanya ada di situ," sebut Ade di Mako Damkar Kota Semarang, Kecamatan Semarang Barat, pada Senin (20/8/).
Imbas dari efisiensi tersebut, Ade menyebut, anggaran untuk pemeliharaan dan pengadaan tersisa Rp 6 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kegiatan kami hanya sekitar Rp 6 sekian miliar kemarin untuk pengadaan perawatan dan lain sebagainya," ungkapnya.
Meski begitu, Ade menyebut pihaknya terus berusaha maksimal untuk melayani masyarakat. Dia menyebut efisiensi anggaran tidak hanya dialami Damkar.
"Tapi yang perlu digarisbawahi adalah kami sejak 2023 dengan anggaran yang sudah diplotting oleh TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah) kami mencoba memaksimalkan. Yang kita maksimalkan adalah kejadian atau penanganan terkait pencegahan, pemeriksaan gedung, kemudian ke sosialisasi masyarakat," lanjutnya.
Berbagai upaya tersebut terus dilakukan Damkar Kota Semarang untuk menekan angka kebakaran agar armada pemadam tidak sering dipakai. Namun, kasus kebakaran di Kota Atlas semakin meningkat pada Juni dan Juli ini.
"Jadi, kami mencoba menguatkan di sisi itu karena harapan kita bersama kendaraan ini nggak keluar. Tapi ternyata di dua bulan terakhir ini Pak Kabid Ops tadi kita ngobrol ternyata kejadiannya meningkat drastis. Bulan Juni kemarin tembus 44 dan di bulan Juli ini tanggalnya baru 20 tapi kejadiannya sudah nyaris 50," bebernya.
"Artinya, sehari dua sampai tiga kejadian. Jadi meskipun kena efisiensi, kami tetap mencoba memberikan pelayanan masyarakat ini maksimal dengan cara peningkatan kemampuan masyarakat dalam pencegahan, kesadaran masyarakat dalam penanganan kejadian kebakaran dini," imbuhnya.
Selain itu, penanganan nonkebakaran seperti evakuasi ular dan lainnya sejak Januari hingga Juli 2026 mencapai sekitar 1.700 kejadian. Damkar Kota Semarang juga telah mendapatkan tiga kendaraan berupa mobil rescue, pemadam berkapasitas 800 liter, dan mobil sosialisasi pada tahun ini.
"Ini bulan Juli ini kegiatan penanganan nonkebakaran itu tembus 1.200 kejadian. Dan itu yang akhirnya sudah kami sampaikan ke TAPD dan alhamdulillah di tahun ini atas perhatian Ibu Wali Kota dan TAPD kami sudah ditambahi tiga unit armada," sebutnya.
Soal Perawatan Armada
Ade menyebut perawatan armada dilakukan setiap pergantian jam kerja. Hal tersebut sudah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).
"Itu ketika ganti shift ada pengecekan armada. Wiper-nya jalan nggak, hazard-nya jalan nggak, sirine jalan nggak, pompa jalan nggak. Jadi, dari situ perawatan rutin ini kami lakukan terus-menerus," kata Ade saat ditemui di Mako Damkar Kota Semarang, Kecamatan Semarang Barat, Senin (20/7).
Dalam hal matinya lampu sen saja, mobil armada harus dibenahi oleh Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras). Usai masalah rampung, baru kendaraan tersebut bisa digunakan kembali.
"Jangankan sampai ganti oli ya, maksudnya. Lampu sein mati saja itu armada langsung kami off-kan, langsung masuk ke bengkelnya Mas Aji (Kepala Bidang Sarpras) ini untuk diperbaiki. Setelah handal lagi baru dikembalikan Pak Tantri (Kepala Bidang Operasional dan Penyelamatan) untuk operasional," ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya, lima unit armada pemadam milik Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang harus dikandangkan akibat terkena efisiensi anggaran.
"Kita armada kan ada 15 unit. Nah, kemarin ada efisiensi anggaran. Kita yang mendapatkan penganggaran hanya 10 unit. Yang 5 unit itu kita kena efisiensi," jelas Kepala Bidang Operasional dan Penyelamatan Dinas Damkar Kota Semarang, Tantri Pradono, saat ditemui detikJateng di Mako Damkar, Kecamatan Semarang Tengah, Jumat (17/7).
10 unit armada itu, Tantri memerinci, empat berada di mako pusat dan enam lainnya di pos induk. Dampak dari efisiensi itu adalah jika terjadi kebakaran besar, maka Damkar Kota Semarang kekurangan armada pemadam.
"Misalkan terjadi kejadian kebakaran yang membutuhkan armada banyak itu nanti kita yang kesulitan," katanya.
Seperti halnya saat kebakaran hebat sebuah pabrik kayu di Kawasan Industri Candi (KIC) di Kecamatan Ngaliyan pada Minggu, 7 Juni 2026 lalu. Tantri menyebut pihaknya mengerahkan delapan unit armada, sementara dua lainnya bersiaga jika terjadi kasus kebakaran lainnya.
Belum lagi kebakaran yang menghanguskan ratusan kios pada Rabu, 29 April 2026 lalu. Bahkan, Damkar Kota Semarang mendapat bantuan armada pemadam dari sejumlah wilayah.
Baru Jumat sore, Tantri mengetahui, satu dari 10 armada pemadamnya rusak sehingga tidak dapat digunakan. Kerusakannya di bagian pompa air.
"Ada satu yang rusak, pompanya trouble tadi. Saya mendapat laporan jam 16.48 WIB," ungkapnya.
Sebab itu, Tantri mengungkap pihaknya tengah berupaya agar mendapat anggaran tambahan untuk lima armada tersebut. Dia berharap pada 2027 nanti pihaknya bisa mendapat tambahan cuan untuk kelima mobil tersebut.
"Nanti di 2027 kita tetap kita anggarkan sesuai dengan 15 unit yang ada. Termasuk kita juga mengajukan anggaran untuk penambahan unit armada mobil," pungkasnya.
