Misteri Pipa Buntung di Basin Klaten, Begini Ceritanya

Misteri Pipa Buntung di Basin Klaten, Begini Ceritanya

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Minggu, 19 Jul 2026 07:20 WIB
Pipa buntung di Dukuh Nglarang, Desa Basin, Kecamatan Kebonarum, Klaten.
Pipa buntung di Dukuh Nglarang, Desa Basin, Kecamatan Kebonarum, Klaten. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng
Klaten -

Sebuah bangunan unik berdiri di tepi jalan Dukuh Nglarang, Desa Basin, Kecamatan Kebonarum, Klaten. Bangunan tersebut populer disebut masyarakat sekitar dengan pipa buntung.

Pipa buntung berada di tepi jalan ke arah Dukuh Nglarang. Di dekatnya berdiri usaha stone crusher dan sekitar lainnya adalah sawah padi yang jaraknya sekitar 500 meter dari pabrik gula (PG) Gondang.

Bangunan dengan bahan batu bata merah dan plesteran sederhana itu disebut pipa buntung karena bentuknya mirip pipa rokok terbalik. Bagian bawah lebar dan atasnya runcing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Panjangnya sekitar 20 meter itu tidak ada pintu atau lorongnya. Di bagian bawah sekitar tiga meter terdapat tiga lubang seukuran gelas yang berjajar.

Pada sisi timur tertulis angka 1896, 890 X 2085 M. Tidak ada kalimat atau penjelasan di bangunan tersebut, termasuk prasasti pendiriannya secara pasti.

ADVERTISEMENT

"Secara pasti kita belum tahu itu apa. Cuma pernah saya tanyakan pada orang-orang tua yang punya sawah dekat pipi buntung mengatakan bekas untuk medel atau Jawa menter atau mewarnai jarik," ungkap Kades Basin, Kustiyah kepada detikJateng, Sabtu (18/7/2026) siang.

"Tapi menurut saya tidak pas, karena di Basin pernah ada orang yang usahanya medel alatnya kedung besar (kolam) dan tidak tinggi begitu," kata Kustiyah.

Pipa buntung di Dukuh Nglarang, Desa Basin, Kecamatan Kebonarum, Klaten.Pipa buntung di Dukuh Nglarang, Desa Basin, Kecamatan Kebonarum, Klaten. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Mbah Ndoyo (80) warga Dukuh Nglarang, sejak dulu pipa buntung itu sudah ada. Awalnya puncaknya lancip tapi karena ada gempa runtuh bagian puncak.

"Dulu itu lancip, terus ada Lindu (gempa) jadi rontok. Saat gempa itu saya masih muda, belum punya suami tapi tahun berapa lupa," ungkap Ndoyo.

"Sejak dulu namanya pipa buntung tapi untuk apa saya tidak tahu. Bukan cerobong pabrik itu (PG Gondang)," imbuhnya.

Warga lainnya, Kayanti mengatakan sejak dulu dirinya kecil pipa sudah ada warga menyebutnya pipa buntung. Tidak ada warga yang berani otak-atik bangunan itu.

"Tidak ada yang berani, katanya dibangun zaman Belanda. Apa ada kaitannya dengan PG saya tidak tahu, seusia saya pada tidak tahu," tutur Kayanti (50).

Pembakaran Kapur

Saat diminta konfirmasi, Pamong budaya ahli pertama Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten, Wiyan Ari Tanjung, menyatakan dinas pernah mengecek lokasi untuk pendataan objek diduga cagar budaya.

"Kita pernah pendataan di sana.Untuk fungsi masih perlu kajian karena butuh data lain, misal hubungan dengan PG," jelas Wiyan Ari Tanjung.

Terpisah, pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi berpendapat di peta Belanda 1929-1930 belum ada gambar pipa buntung itu. Dilihat strukturnya mirip cerobong pembakaran batu kapur.

"Kalau dilihat strukturnya perkiraan saya itu mirip cerobong pembakaran batu gamping untuk PG Gondang.Dalam dokumentasi foto PG Gondang 1928 juga tidak ada bangunan itu jadi kemungkinan di bangun setelah 1929-1930," papar Hari kepada detikJateng.

Angka dan huruf di tembok, ungkap Hari menyerupai koordinat untuk kepentingan militer. Hurufnya bukan huruf zaman Belanda.

"Huruf latin buatan Belanda dibuat dengan alat cetak jadi rapi teratur, ada perbedaan jenis hurufnya dengan buatan lokal. Itu mirip yang ada di Balong, Karanglo," terang Hari.

Pipa buntung di Dukuh Nglarang, Desa Basin, Kecamatan Kebonarum, Klaten.Pipa buntung di Dukuh Nglarang, Desa Basin, Kecamatan Kebonarum, Klaten. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Menurut Hari, kemungkinan itu cerobong pembakaran batu kapur untuk PG diperkuat ada peta Belanda di lokasi ada jalur lori. Jika itu cerobong pabrik kapur biasanya ada ceruk.

"Bagian bawahnya pasti ada semacam lubang ceruk untuk memasukkan bahan bakar. PG Gondang sendiri termasuk muda dibanding PG lainnya.

"Didirikan tahun 1860, termasuk PG baru.Itu milik Klattensche Cultuure Maatschappij," imbuhnya.



(apl/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads