SDN Soka 2 di Desa Ngargosoko, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, sudah empat tahun berturut-turut tak mendapat siswa baru. Sekolah di lereng Gunung Merapi itu kini tinggal punya dua siswa, yaitu 1 siswa kelas 5 dan 1 siswa kelas 6.
Pantauan detikJateng sekitar 09.07 WIB, sekolah ini tampak sepi meski kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung seperti biasa.
Di salah satu ruang kelas ada dua siswa dan seorang guru yang tengah mengajar. Dua siswa itu Rama Dava Saputra (11), kelas 6, dan Reyandita Keisha Zahra (10), kelas 5.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah seorang guru, Musriqatun (59) mengatakan dirinya mengajar di SDN Soka 2 sejak tahun 2017.
"Ini saya mau pindah ke SDN Kradenan 2. Dulu mengajar kelas 6, siswanya sudah lulus. Tahun ini saya tidak mendapatkan kelas," kata Musriqatun, Jumat (17/7/2026).
"Karena tidak mendapatkan kelas, saya mengajukan pindah yang dekat karena mau pensiun," sambungnya.
SDN Soka 2, Desa Ngargosoko, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, tinggal punya 2 siswa, Jumat (17/7/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
Musriqatun mengatakan, pada 2017, SDN Soka 2 masih memiliki sekitar 35 siswa.
"Terakhir tahun 2022 kalau nggak salah, cucu saya masukkan ke sini. Kalau cucu nggak saya ajak, saya nggak dapat murid. Saya bawa cucu ajar sampai tahun 2023 naik kelas 2. Alhamdulillah dapat teman pindahan dari MI Gedangan, Rama dan Ulfa," ujarnya.
"Cucu saya naik kelas 3 ada tiga siswa, terus satunya Ulfa pindah ke pondok. Rama dan cucu saya naik kelas 4. Cucu saya naik kelas 4, saya pindahkan ke SD Sucen," imbuh dia.
Guru kelas 5, Pranta Susiyanta (47) mengatakan, dari tahun 2015 sudah ada wacana regrouping dari Dinas Pendidikan Kabupaten Magelang. Sebab, jumlah siswanya di bawah 60 anak.
"2015 nggak jadi regrouping. Kemudian 2017 disuruh lagi kita membuat pengajuan regrouping lagi. Waktu itu saya yang membuatnya," ujar dia.
Pada 2019, SDN Soka 2 kembali mengajukan regrouping. "Pengajuan regrouping sudah kita lakukan sekitar 4 kali. Terus pengajuan sesering itu, dari pihak masyarakat juga mendengar rencana sekolahan mau tutup," imbuh Pranta.
Menurut dia, hal itu menjadi dilematis. Di satu sisi, pihak sekolah berupaya mencari siswa baru. Di sisi lain, warga sekitar sudah mendengar soal wacana regrouping.
"Ketika kami mencari (murid), tapi muridnya sedikit. Apalagi dihubungkan adanya regrouping. Jadi merasa maju salah, mundur juga salah. Terus yang terakhir 2024, kita pengajuan (regrouping) lagi. Sudah diterima Pak Bupati, tapi beliau tidak menghendaki adanya regrouping selama 3 tahun," kata Pranta.
Pranta menambahkan, sekarang tinggal dua siswa yaitu kelas 5 dan 6. Dia menjelaskan, sejak 4 tahun yang lalu SDN Soka 2 tidak mendapat siswa baru.
"Tapi kita berbangga diri ketika SD sekecil ini dari rangking per kecamatan rangking 1 selama 2 tahun. Itu di rangking dengan MI dan SD se-Kecamatan Srumbung dua tahun dapat rangking satu (2 tahun lalu)," ujar dia.
Pranta mengajar siswa kelas 5. Sedangkan siswa kelas 6 diajar guru lain bernama Lusi.
"Mengajar satu anak ada plus minusnya. Ketika mengajar anak sedikit itu otomatis fokus, untuk kelemahan anak, minat dia belajar, mudah tahu. Tapi minusnya anak jadi kurang bersosialisasi. Karena temannya tidak ada," ujar Pranta.
Jika SDN Soka 2 nantinya diregrouping ke SDN Soka 1, Pranta akan mengikuti arahan pemerintah.
"Ketika memang harus regrouping ya kita selaku bawahan, guru, tetap mengikuti kebijakan. Kalau harapan dari hati nurani tetap jalan," pintanya.
"Saya lahir di sini, sekolah di sini, wiyata juga di sini. Jadi, dalam batin juga merasa (eman-eman) ketika sekolahan kami tidak ada murid atau tutup, itu perasaan hati juga merasa sedih juga. Tapi, di sisi lain selaku guru ya ikut kerja sama pemerintah ya mengikuti aturan pemerintah," ucap dia.
Sedangkan, Rama siswa kelas 6 mengaku senang bersekolah di SDN Soka 2. "Senang. Nggak (merasa kesepian). Biasa," ujar dia.
Hal senada disampaikan siswa kelas 5, Keisha. "Nggak apa-apa, biasa (nggak ada teman). Pernah tidak masuk pas sakit, paling dua hari. Kalau istirahat main sama Rama. Main dakron," ujarnya.
Penjelasan Desa Ngargosoko
Sekretaris Desa Ngargosoko, Suji, mengatakan pihak desa sudah mengetahui rencana regrouping. Menurut, satu desa ada 4 sekolah meliputi SDN Soka 1, SDN Soka 2, MI Maarif dan SDIT Al Umar.
"SDN Soka 2 sejak dulu memang muridnya kurang memadai. Karena orang tua mau menyekolahkan anak itu kan melihat background sekolahnya," kata Suji.
Ia bersama dengan guru setempat sempat mengikuti rapat di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang sekitar Maret 2026. Rapat tersebut membahas perihal regrouping SDN Soka 2 ke SDN Soka 1.
"(Hasil rapat dengan Dikdbud) Kemarin sebelum kelulusan ada 4 siswa, lulus 2, jadi tinggal 2. Mau diapain murid dua dalam satu sekolahan. Kan mau tidak mau harus regrouping," katanya.
"Itu tahun ini, tapi masih menunggu SK dari bupati. Sebetulnya diharapkan sebelum tahun ajaran baru atau ajaran baru sudah regrouping kemudian tinggal menunggu SK bupati," tegasnya.
Wacana Regrouping
Dihubungi terpisah, Kepala Disdikbud Kabupaten Magelang, Wisnu Argo Budiono mengatakan, belum ada SD yang diregrouping.
"Baru wacana, baru mengajukan usulan ke Pak Bupati. Belum ada regrouping," kata Wisnu.
Wacana regrouping tersebut untuk SDN Soka 2 dan SDN Blongkeng 3 di Ngluwar. Kemudian guru yang sudah tidak mengajar nantinya dialihkan.
"Kalau di situ gurunya banyak terus nanti nggak mengajar, nanti kita petakan dengan tim Disdikbud. Kita lihat, kita evaluasi, kalau nanti memang perlu dipindah ya dipindah, jadi di situ tinggal beberapa guru saja," tegas Wisnu.

