Insiden tawuran antara Pemuda Pancasila (PP) dan kelompok bank plecit atau debt collector (DC) terjadi di depan Mapolsek Pedurungan, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang. Pemicu tawuran itu disebut karena tagih utang.
Polisi menyebut kasus itu dipicu penagihan utang pribadi kelompok bank plecit. Kedua pihak sempat dimediasi di kantor polisi. Namun setelahnya terjadi ricuh berujung bentrok di depan Mapolsek Pedurungan.
Dihimpun detikJateng, berikut kronologi peristiwa tawuran pada Selasa (14/7/2026) malam itu:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selasa, 14 Juli 2026
Polisi menyebut, perselisihan antara PP dan kelompok koperasi itu dipicu adanya penagihan utang oleh rentenir terhadap anggota ormas. Penagihan utang itu disebut dilakukan dengan kekerasan yang menyebabkan pengeroyokan.
"Awal mula kejadian itu terjadi pada hari Selasa (14/7) di Kelurahan Gemah RW 12. Terjadi penagihan utang yang utangnya ini utang pribadi," kata Kapolsek Pedurungan, Kompol Navy Pradhana Prima Satya di Mapolsek Pedurungan kepada detikJateng, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, saat itu, tiga orang berinisial D, R, dan E mendatangi rumah korban berinisial E untuk menagih utang pribadi. Ia menduga cara penyampaian saat penagihan membuat situasi memanas dan terjadi cekcok, saling dorong hingga saling pukul.
Setelah kejadian itu, ketiga orang tersebut diamankan Ketua RW di rumahnya. Polisi yang menerima informasi pukul 19.30 WIB langsung mendatangi lokasi dan mengamankan mereka ke Polsek Pedurungan.
Rabu, 15 Juli 2026
Korban sempat mengajukan permohonan agar perkara diselesaikan melalui restorative justice. Polsek Pedurungan akhirnya memfasilitasi mediasi antara kedua kelompok itu.
Pukul 21.00 WIB
Usai mediasi di Mapolsek Pedurungan, malamnya terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak. Pihak rentenir dan korban sudah saling berjabat tangan.
"Sekitar jam 21.00 WIB terjadi kesepakatan damai di sini, disaksikan Pak RW, saya, dan Kanit Reskrim. Sudah berjabat tangan, sepakat, dan ada dokumentasinya lengkap," ucap Kasi Humas Polrestabes Semarang, Kompol Riki Fahmi Mubarok.
Usai berdamai, rombongan dari koperasi sekitar 9-10 orang makan malam bersama di sekitar Polsek sebelum pulang.
Pukul 22.00 WIB
Setelah beberapa waktu berselang, situasi kembali memanas. Sekelompok massa dari ormas, sekitar 100 orang mendatangi Mapolsek Pedurungan hingga terjadi gesekan lagi.
"Mereka datang ke Polsek ramai-ramai. Intinya terjadi gesekan, ada adu mulut, cekcok, terus kami lerai," jelas Navy.
Polisi memulangkan sebagian orang melalui pintu belakang Mapolsek Pedurungan untuk mengurai gesekan. Pihak koperasi atau DC dipulangkan terlebih dahulu.
"Supaya tidak bersatu kami pulangkan sebagian lewat samping Polsek yang dari koperasi. Tapi kelompok satunya masih ramai di sini, mereka datang sekitar 100 orang," katanya.
Pukul 22.30 WIB
Tak lama kemudian, kata Navy, datang lagi sekitar 40-50 orang yang identitas kelompoknya belum diketahui. Adu mulut pun kembali terjadi hingga berujung bentrokan di depan Polsek.
"Yang datang sekitar 40-50 orang, tidak tahu dari mana. Jadi pihak yang terlibat itu sudah pada pulang, korban dan tiga orang sudah nggak ada," ujarnya.
Ia juga membenarkan adanya aksi saling lempar batu seperti yang beredar di media sosial. Namun, polisi memastikan tidak ada pihak yang membawa senjata tajam.
23.30 WIB
Sekitar 40 personel Polsek Pedurungan ditambah sekitar 50 anggota Polrestabes Semarang diterjunkan untuk mengendalikan situasi. Massa pun dibubarkan secara bertahap.
"Kami melerai dan mengimbau agar semua pulang. Kepulangannya kami atur, kelompok koperasi pulang lebih dulu, baru setelah dipastikan aman kelompok ormas kami pulangkan," jelasnya.
