Polisi mengungkap tawuran yang terjadi antara Pemuda Pancasila (PP) dengan bank plecit atau debt collector (DC) di samping Polsek Pedurungan diduga dipicu adanya pengeroyokan saat penagihan utang. Kasus pengeroyokan itu pun telah diselesaikan lewat mediasi sebelumnya.
Hal tersebut disampaikan Kasi Humas Polrestabes Semarang, Kompol Riki Fahmi Mubarok. Ia mengatakan, perselisihan antara kedua kelompok yang viral di media sosial itu terjadi Rabu (15/7) malam.
"Benar. Terkait adanya perselisihan antara kelompok Ormas Pemuda Pancasila dengan kelompok Debt Collector Koperasi Sinergi Jaya Andalan di depan Mapolsek Pedurungan pada Rabu malam," kata Riki melalui pesan suara kepada detikJateng, Kamis (16/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, anggota Polsek Pedurungan bersama jajaran Polrestabes Semarang sudah langsung melakukan pengamanan sehingga situasi dapat segera dikendalikan dan tidak berkembang lebih luas.
"Peristiwa tersebut berawal dari adanya perkara dugaan pengroyokan yang sebelumnya telah dilakukan proses mediasi di Mapolsek Pedurungan," ucapnya.
"Setelah mediasi selesai terjadi dinamika di luar Mapolsek yang dipicu aksi saling provokasi dari kedua kelompok. Hingga mengakibatkan keributan dan adanya korban luka," lanjutnya.
Polrestabes juga telah menerima pengaduan dari para korban dan melakukan pendataan terhadap para pihak yang terlibat. Pihaknya juga memeriksa saksi-saksi serta mengumpulkan rekaman CCTV.
"Kami mengimbau seluruh pihak agar menahan diri, tidak mudah terprovokasi serta tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat," imbaunya.
Kapolsek Pedurungan, Kompol Navy Pradhana Prima Satya, mengatakan hal senada. Ia menyebut, sebelumnya telah ada mediasi untuk kasus dugaan pengeroyokan yang terjadi antara kedua belah pihak.
"Awal mula kejadian itu terjadi pada hari Selasa (14/7) di Kelurahan Gemah RW 12. Terjadi penagihan utang yang utangnya ini utang pribadi," kata Navy di Mapolsek Pedurungan kepada detikJateng.
Menurutnya, saat itu, tiga orang berinisial D, R, dan E mendatangi rumah pelapor berinisial E untuk menagih utang pribadi. Ia menduga, cara penyampaian saat penagihan membuat situasi memanas.
"Mungkin penyampaiannya tidak enak, jadi terjadi cekcok, dorong-dorongan, akhirnya ada luka penganiayaan. Pukul-pukulan dari kedua belah pihak," ujarnya.
Setelah kejadian itu, ketiga orang tersebut diamankan Ketua RW di rumahnya. Polisi yang menerima informasi sekitar pukul 19.30 WIB langsung mendatangi lokasi dan membawa mereka ke Polsek Pedurungan.
"Saya turun langsung ke TKP. Situasinya sudah ramai, masyarakat berkumpul di rumah Ketua RW. Atas diskresi kepolisian, kami mengamankan ketiga orang tersebut ke Polsek Pedurungan," jelasnya.
Setelahnya, lanjut Navy, korban kemudian mengajukan permohonan agar perkara diselesaikan melalui restorative justice. Usai surat permohonan disampaikan, Polsek Pedurungan akhirnya memfasilitasi mediasi antara kedua kelompok itu.
"Sekitar jam 21.00 WIB terjadi kesepakatan damai di sini, disaksikan Pak RW, saya, dan Kanit Reskrim. Sudah berjabat tangan, sepakat, dan ada dokumentasinya lengkap," ucap Navy.
Usai berdamai, rombongan dari koperasi makan malam di sekitar Polsek sebelum pulang. Terdapat jeda sekitar dua jam hingga akhirnya situasi kembali memanas ketika sekelompok massa dari ormas itu mendatangi Polsek.
"Mereka datang ke Polsek ramai-ramai. Intinya terjadi gesekan, ada adu mulut, cekcok, terus kami lerai. Supaya tidak bersatu kami pulangkan sebagian lewat samping Polsek yang dari koperasi. Tapi kelompok satunya masih ramai di sini, mereka datang sekitar 100 orang," katanya.
Tak lama kemudian, lanjutnya, datang lagi sekitar 40-50 orang yang identitas kelompoknya belum diketahui. Adu mulut pun kembali terjadi hingga berujung bentrokan di depan Polsek.
"Yang datang sekitar 40-50 orang, tidak tahu dari mana. Jadi pihak yang terlibat itu sudah pada pulang, korban dan tiga orang sudah nggak ada," ujarnya.
Ia juga membenarkan adanya aksi saling lempar batu seperti yang beredar di media sosial. Namun, polisi memastikan tidak ada pihak yang membawa senjata tajam.
"Iya, saling melempar karena dipicu kelompok yang tidak kita ketahui dari mana. Tidak ada yang membawa senjata, batu saja di depan. Tapi sudah kami lerai sekitar 15 menit," ucapnya.
Ia menyebut, sudah ada sekitar 40 personel Polsek Pedurungan ditambah sekitar 50 anggota Polrestabes Semarang yang diterjunkan untuk mengendalikan situasi. Personel gabungan datang sekitar pukul 22.30 WIB dan membubarkan massa secara bertahap.
"Kami melerai dan mengimbau agar semua pulang. Kepulangannya kami atur, kelompok koperasi pulang lebih dulu, baru setelah dipastikan aman kelompok ormas kami pulangkan," jelasnya.
Navy mengatakan, polisi belum dapat memastikan korban akibat bentrokan di depan Polsek. Meski demikian, pihaknya telah mengimbau apabila ada korban agar segera melapor.
Sebelumnya diberitakan, insiden tawuran terjadi di samping Polsek Pedurungan Kota Semarang. Tawuran itu diduga antara anggota ormas Pemuda Pancasila dengan rentenir.
Salah seorang saksi, Sasya (24) mengaku dirinya melihat ada keramaian sekitar pukul 22.30 WIB. Saat itu dirinya sedang pulang kerja dari arah Semarang ke Pucang Gading.
"Saya lihat di tengah-tengah sebelum garis batas lampu merah ada truk berhenti, mungkin pengemudinya turun atau ikut terlibat atau gimana kurang paham. Bikin macet banget," kata Sasya melalui pesan singkat detikJateng, Kamis (16/7).
Ia mengaku melihat ada banyak orang yang saling adu mulut di depan toko JNE samping Polsek Pedurungan, dekat tempat service laptop.
"Ada polisi hanya 2 atau 3 orang kalau nggak salah, cuma yang melerai bukan polisinya. Setelah saya lihat gerombolan baju hitam ternyata Pemuda Pancasila, ada yang pake baju loreng juga," ungkapnya.
