Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyiapkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi mengatasi persoalan sampah. Proyek itu ditargetkan mulai berjalan pada 2027.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng. Ia menjelaskan, PSEL menjadi salah satu dari tiga skema besar penanganan sampah yang tengah dipersiapkan Pemkot Semarang.
"Skemanya kan kalau sampah Kota Semarang ini ada tiga. Nomor satu waste to energy listrik," kata Agustina di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Senin (13/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, proyek PSEL telah memasuki tahap persiapan. Bahkan, kerja sama aglomerasi dengan Kabupaten Kendal telah rampung dan kini tinggal menunggu proses lelang.
"Tinggal menunggu proses lelang yang dilakukan oleh Danantara. Ini kita menunggu aja nih prosesnya," ujarnya.
Agustina mengatakan, PSEL nantinya hanya akan mengolah sampah baru yang masuk setiap hari menjadi energi listrik. Sementara itu, timbunan sampah lama di TPA Jatibarang akan ditangani melalui skema terpisah, yakni diolah menjadi bahan bakar (waste to fuel).
"Yang kedua ada dari kasat yang menurunkan proses untuk mengolah sampah yang sekarang ada di TPA. Ini juga masih proses MoU," katanya.
Selain dua skema tersebut, Pemkot Semarang juga menyiapkan program Local Service Delivery Project (LSDP) untuk mendorong pengelolaan sampah dari tingkat masyarakat sehingga sampah dapat ditangani sejak dari sumbernya.
"Skema LSDP, pemberdayaan masyarakat untuk pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Tiga-tiganya dalam proses persiapan karena akan jalan di tahun 2027," jelasnya.
"Jadi dapat dibayangkan, TPA Jatibarang sampah yang deposit menumpuk ke sana akan selesai menjadi waste to fuel, yang masuk diselesaikan PSEL, yang tercecer di masyarakat dengan program LSDP. 3,7 akan menjadi fuel," lanjutnya.
Ia mengungkapkan, kondisi TPA Jatibarang saat ini sudah mengalami kelebihan kapasitas. Timbunan sampah yang kini mencapai sekitar 3 juta ton diperkirakan akan terus bertambah.
"Sekarang sudah 3 juta, akhir tahun 2026 akan ada 3,36 juta, pokoknya satu hari 1.000 ton. Tahun 2027 akhir berarti akan 3,7 juta lah ini mau diapakan? Maka ada pengolahannya ini," urainya.
Untuk mendukung pengelolaan sampah di tingkat masyarakat, Pemkot Semarang juga menggandeng Tim Penggerak PKK hingga tingkat RT. Setiap RT mendapat bantuan Rp 3 juta yang salah satunya bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan sampah.
"PKK tiap RT saya beri bantuan Rp 3 juta, salah satunya untuk sampah toga, nyamuk, jentik, jadi berkala. Ini 1.700 ton setahun. Kecil sih, berarti sehari 3 ton. Jadi tidak memengaruhi yang masuk ke PSEL nantinya. Tapi setidaknya sampah di lingkaran mereka habis," tuturnya.
