Heboh Ranger Gunung Prau Kena 'Prank' Evakuasi Pendaki, Ternyata...

Heboh Ranger Gunung Prau Kena 'Prank' Evakuasi Pendaki, Ternyata...

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Senin, 29 Jun 2026 22:23 WIB
Suasana di kawasan puncak Gunung Prau, Wonosobo.
Suasana di kawasan puncak Gunung Prau, Wonosobo. (Dok. detikJateng)
Wonosobo -

Sebuah unggahan yang menarasikan tim ranger Gunung Prau dikerjai atau di-prank seorang pendaki asal Bantul, DIY, viral di media sosial. Masalah ini ternyata berawal dari miskomunikasi antara survivor dan pelapor yang merupakan teman-temannya.

Kabar tersebut diunggah akun Instagram @ranger_prau berupa video disertai takarir atau caption. Dijelaskan, seorang survivor asal Bantul, DIY, dilaporkan tidak dapat turun di pos 3 Gunung Prau dan perlu dievakuasi.

Tim rescue yang mendapat laporan tersebut langsung pergi ke lokasi laporan. Namun, mereka tidak menemukan survivor tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Eeeh kena prank. Laporan survivor atas nama a*u*d* n*f*y* dari bantul yogyakarta katanya tidak bisa turun di pos 3 dan harus di evakuasi setelah tim rescue merespon laporan tersebut dan bergegas menuju tkp ternyata survivor tidak di temukan dan setelah di hubungi kembali ternyata survivor sudah di basecamp," tulis akun tersebut seperti dilihat detikJateng, Senin (29/6).

ADVERTISEMENT

Dihubungi detikJateng, Pengelola Pendakian Gunung Prau, Solichun, menerangkan, kejadian itu berlangsung pada Sabtu (27/6). Pihaknya mendapat laporan pada pukul 12.51 WIB.

Adapun survivor yang dilaporkan tidak mampu turun itu merupakan perempuan berinisial AN asal Bantul, DIY. AN mendaki Gunung Prau bersama dua teman wanitanya.

Solichun menerangkan, sebenarnya kejadian tersebut bukan prank. Namun, dia menyebut orang itu sebenarnya masih mampu untuk turun.

"Sebenarnya sih nggak di-prank. Cuma mereka itu kan sebenarnya masih mampu untuk turun," kata Solichun malam ini.

"Jadi sebenarnya miskomunikasi. Mereka itu bilang, laporan. Kalau setiap pendaki itu kan dapat tiket ada kontak person, layanan informasi, sama layanan emergensi," lanjutnya.

Solichun menjelaskan peristiwa berawal saat AN berpisah dengan dua temannya. AN berada di pos 3, sedangkan dua temannya berada di pos 2 dan meminta AN menunggu di pos 3. Teman-teman AN kemudian melapor ke ranger dan meminta AN dievakuasi dari pos 3.

"Kalau ada laporan itu kita tanggapi terus kita menanyakan survivor itu kondisinya bagaimana. Katanya sudah lemas, tidak bisa jalan," terangnya.

Pihaknya pun menerjunkan 10 personel dengan peralatan lengkap mulai dari tandu hingga medis berupa pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) ringan pun dibawa. Salah satu teman AN juga disebut ikut bersama ranger untuk menjemput AN. Namun, sesampainya di lokasi, tim ranger tidak menjumpai wanita yang dimaksud.

"Akhirnya setelah kita sampai di titik yang menurut temannya dilaporkan itu survivor sudah tidak ada di tempat. Setelah dicari-dicari, ternyata dari bawah ada laporan bahwa survivor itu sudah ada di basecamp," teragnya.

Setelah dicari, ternyata terungkap AN telah turun. Teman-teman AN juga mengaku tak melihat AN turun.

"Temannya pas menunggu di pos dua, mereka kan ketemu dengan tim rescue. Tapi saat temannya turun itu dia juga nggak lihat," tuturnya.

"Terus setelah tim rescue naik, yang satu (teman AN) ikut naik. Ternyata survivor yang disuruh nunggu itu malah udah turun gitu," lanjutnya.

Tim ranger pun tidak menuntut apapun atas kejadian tersebut. Solichun menyebut, insiden itu merupakan salah satu konsekuensi para ranger.

"Aman sih, teman-teman tidak ada sanksi atau apa. Intinya evakuasi itu siap-siap dengan segala risiko, setiap ada laporan itu responsif. Teman-teman dengan kejadian tersebut menjadi pelajaran bersama kita tidak akan menuntut apapun, konsekuensi dari teman-teman pengelola," ungkapnya.

Kendati demikian, Solichun meminta para pendaki untuk menuliskan riwayat penyakit saat mendaftar. Sebab data tersebut menjadi panduan tim ranger agar dapat segera mengambil tindakan jika diperlukan.

"Satu yang saya sayangkan, jarang sekali yang menyertakan riwayat penyakit di formulir pendaftaran. Riwayat penyakit itu untuk membantu, kalau mempunyai riwayat penyakit itu bukan tidak boleh mendaki, tetapi agar tim rescue bisa segera menangani," pungkasnya.




(afn/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads