Viral di media sosial video yang menarasikan akan dibukanya kembali jalur pendakian Gunung Merapi via Selo, Boyolali. Balai Taman Nasional Gunung Merapi menyatakan bahwa aktivitas pendakian sampai saat ini masih ditutup.
Video yang viral diantaranya memperlihatkan kegiatan warga yang tampak seperti sedang melakukan rapat, dengan lesehan di dalam sebuah ruangan. Video itu diunggah di akun instagram laharbara.
"Pada akhirnya, warga mencapai kata sepakat. Setelah 8 tahun menunggu tanpa kepastian, kini warga bersatu untuk membuka kembali jalur pendakian secara mandiri, dengan berbagai ketentuan dan batasan yang telah disepakati bersama," tulis keterangan dalam postingan tersebut dilihat detikJateng Senin (29/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilihat sekitar pukul 20.30 WIB, postingan tersebut telah mendapat 22 ribu like dan 2.646 komentar.
"Semoga langkah ini menjadi awal yang baik bagi kebangkitan ekonomi warga setelah sewindu penutupan jalur pendakian," lanjut keterangan di postingan tersebut.
Dalam keterangannya, juga disebutkan bahwa informasi selengkapnya akan segera disampaikan.
"Informasi selengkapnya akan segera kami sampaikan. Bismillah," tulisnya.
"Karena pada akhirnya, kita tidak akan pernah memenangkan sesuatu yang tidak pernah kita perjuangkan," sambungnya.
Dalam dialog pada video itu, terdengar bahwa mereka sepakat akan segera membuka jalur pendakian Merapi. Mereka juga sepakat bahwa pendakian itu hanya sampai di Pasar Bubrah saja. Jika ada yang melanggar, maka guide akan diblacklist.
Menanggapi viralnya di media sosial terkait pembukaan jalur pendakian itu, Balai Taman Nasional Gunung Merapi mengeluarkan pernyataan resmi tentang penutupan pendakian Gunung Merapi.
"Menanggapi maraknya konten di media sosial yang memperlihatkan aktivitas pendakian Gunung Merapi dan mengajak masyarakat bahkan membuka pendakian, dengan ini kami sampaikan hal-hal sebagai berikut," kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), Heri Wibowo, dalam keterangan tertulis kepada para wartawan sore hari tadi.
Pertama, kata Heri, bahwa kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan, sejak 22 Mei 2018 berdasarkan adanya peningkatan aktivitas dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) sesuai hasil evaluasi data pemantauan Gunung Merapi (Surat Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Nomor :271/45/BGV.KG/2018 tanggal 21 Mei 2018). Pada 5 November 2020 status aktivitas Gunung Merapi ditingkatkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sebagaimana tercantum dalam Surat Kepala PVMBG Nomor :523/45/BGV.KG/2020 tanggal 5 November 2020; Sehubungan dengan kenaikan status Level I ke Level II dan III itu PVMBG/ BPPTKG memberikan sejumlah rekomendasi.
"Bahwa kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana," jelasnya.
Kemudian radius 3 Km dari puncak Gunung Merapi agar dikosongkan dari aktivitas penduduk. Masyarakat yang tinggal di KRB III agar meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas Gunung Merapi.
Disebutkan juga, jika terjadi perubahan aktivitas Gunung Merapi yang signifikan maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. Masyarakat agar tidak terpancing dengan isu-isu mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau langsung ke BPPTKG.
Lebih lanjut Heri menyampaikan, berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi terkini, yakni periode tanggal 19-25 Juni 2026, dari BPPTKG menyimpulkan bahwa aktivitas Gunung Merapi masih cukup tinggi. Berupa aktivitas erupsi efusif, dan status masih dalam tingkat Siaga.
Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya dan tenggara meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km dari puncak. Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
"Jalur pendakian Gunung Merapi via New Selo sampai ke puncak Gunung Merapi meliputi, pintu gerbang (2,3 Km); Pos I (1,64 Km); Pos II (1,25 Km); Pasar Bubrah (0,7 Km). Sehingga sangat membahayakan keselamatan," paparnya.
"Perlu kami sampaikan bahwa terdapat beberapa jalur wisata (soft trekking) di Taman Nasional Gunung Merapi, seperti di OWA Kalitalang berada pada radius 3,3 Km dari Pos IV (pos terakhir)," terang dia.
Pihaknya pun menegaskan, bahwa pendakian Gunung Merapi sampai saat ini masih ditutup hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan. Sesuai rekomendasi dari pihak berwenang dan menjaga keselamatan serta keamanan bersama semua pihak.
"Berkenaan dengan hal-hal tersebut di atas, pendakian Gunung Merapi sampai dengan saat ini masih ditutup hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan, semata-mata untuk mematuhi rekomendasi dari pihak yang berwenang serta untuk menjaga keselamatan dan keamanan semua pihak," pungkas dia.
(alg/afn)
