Wisma Batari Tempat Ngumpul Saudagar Batik Solo di Masa Lalu

Agil Trisetiawan Putra - detikJateng
Senin, 29 Jun 2026 17:00 WIB
Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng
Solo -

Wisma Batari di Jalan Slamet Riyadi, Solo, menjadi salah satu saksi kejayaan industri batik di Kota Solo. Sebelum dikenal sebagai gedung untuk berbagai acara serta restoran, Wisma Batari dulunya adalah koperasi batik terbesar di Kota Solo.

Nama Batari merupakan kependekan dari Batik Timur Asli Republik Indonesia. Sebelum ada Batari, para pengusaha batik di Solo telah mendirikan Koperasi Persatuan Perusahaan Batik Bumiputera Surakarta (PPBBS) tahun 1937, yang dipelopori oleh H. Mufti, R. Ng. Kartohastono, dan B. H. Sofwan, di Laweyan. Lalu kantornya pindah ke Mangunjayan pada 1941 saat agresi militer Jepang, dan berganti nama menjadi Batik Kogyo Kumisi.

Koperasi Batari kemudian didirikan pada 1 Januari 1948, dan berkantor di Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Kota Solo. Tujuannya untuk mencukupi kebutuhan bahan pokok hingga meningkatkan penjualan para anggotanya.

Bendahara Wisma Batari, Sri Mayasari mengatakan Koperasi Batari awalnya terdiri dari 10 koperasi primer batik yang menjadi satu. Koperasi Batari memiliki induk organisasi bernama Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI).

"Awalnya dari gabungan pengusaha batik, dari skala besar, menengah, dan kecil, kita rangkul semua. Koperasi Batari itu bisnis awalnya terkait jual beli bahan dan alat batik, seperti kain mori, malam, dan alat-alatnya," kata Maya saat ditemui detikJateng, Rabu (10/6/2026).

"Khusus di Koperasi Batari, kita tidak mengarah ke simpan pinjam. Amanah dari sesepuh kita tidak diizinkan untuk merambah ke simpan pinjam, karena risikonya juga besar," imbuhnya.

Awalnya Koperasi Batari memiliki wilayah kerja di Karesidenan Solo Raya. Namun Batari kemudian dipecah pada tahun 1962 lewat Penpres nomor 60/1962. Koperasi Batari diharuskan melepas semua kabupaten, untuk dirikan koperasi sendiri. Sementara khusus di wilayah Solo, koperasi dipecah menjadi tiga yakni KPN di Semanggi, PPBS di Sondakan, dan Batari.

Wisma Batari, salah satu bangunan cagar budaya yang menjadi saksi perkembangan industri batik di Kota Solo. Foto diunggah Senin (29/6/2026). Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng

"Anggota kita sekitar 220 yang memiliki usaha batik semua. Itu keanggotaannya bisa diturunkan ke anak cucunya," ujar Maya.

Namun kejayaan batik perlahan mulai memudar dengan masuknya cap atau printing dengan pola batik pada dekade 1980-an. Banyak pengusaha batik yang mulai banting setir karena tidak bisa bersaing dengan industri batik cap yang lebih murah.

"Waktu itu banyak yang beralih ke bisnis yang lain karena masuknya printing batik. Kalau printing itu bukan batik, itu cuma tekstil yang bermotif batik, karena prosesnya tidak menggunakan malam panas," jelas Maya.

"Jadi printing batik itu jadi saingan berat, karena harganya lebih murah. Sebab, tidak melewati proses canting, pewarnaan," sambungnya.

Meski banyak anggota Koperasi Batari yang bangkrut akibat kalah bersaing dengan printing batik, namun keanggotaannya masih tetap setia. Koperasi Batari pun beradaptasi dengan perkembangan zaman dengan membuka model bisnis lainnya.

Kini Wisma Batari tidak hanya digunakan sebagai koperasi saja, namun juga merembet ke industri lain seperti persewaan gedung pertemuan, dapur Batari, hingga resto Solo Bistro.




(ahr/dil)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork