Pemandangan dataran tinggi Dieng yang 'memutih' usai kemunculan bun upas atau embun es kembali terjadi tahun ini. Beberapa hari terakhir juga suhunya makin menurun, di mana per Selasa (9/6) sempat menyentuh angka 0 derajat Celsius.
"Kemarin per hari Minggu itu sudah mulai ada (embun es) muncul tapi nggak banyak sih, Mas. Kalau letaknya itu sekitaran lapangan, lapangan di dekat kompleks Candi Arjuna," ungkap Kepala UPT Dieng Banjarnegara, Wibi Satria N, saat dimintai konfirmasi, Selasa (9/6/2026).
"Minggu pagi suhu mencapai 2 derajat Celsius, Senin 1 derajat Celsius, dan tadi pagi sempat 0 derajat Celsius," lanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wibi melanjutkan, fenomena munculnya bun pas atau embun es masih belum merata dan tidak terlalu tebal. Ia memperkirakan embun es bakal memenuhi dataran tinggi Dieng pada pekan ini.
Widi membeberkan jika puncak Dieng diterpa angin pada malam hari, maka kemungkinan besar tidak bakal muncul es.
"Kita lihat cuaca malam harinya, kalau malam harinya anginnya kencang biasanya paginya nggak muncul es. Tapi kalau malam harinya anginnya tenang, ya, biasanya paginya baru muncul embun es," ungkapnya.
"Sudah 2 minggu ini nggak hujan ini, Mas. Kalau bertahan nggak hujan, ya, insyaallah embun esnya akan ada agak lama ini. Kalau ada hujan, angin kencang, ya, hilang lagi gitu," lanjutnya.
Puncak Embun Es pada Juli-Agustus
Wibi menjelaskan, puncak bun pas diperkirakan terjadi pada Juli hingga akhir Agustus. Pada periode tersebut, dia mengatakan, biasanya suhu terendah Dieng mencapai -4 derajat celcius.
"Kemungkinan kalau selama nggak hujan lagi, ya, kan kadang beberapa wilayah masih kemarau basah gitu. Insyaallah antara bulan Juli-Agustus nanti. Seringnya sih puncaknya ketika bulan Agustus ketika ada acara DCF (Dieng Culture Festival) itu, Mas," sebutnya.
'Bediding' Mulai Terpa Warga Semarang
Sementara itu, nuansa dingin atau bediding mulai dirasakan warga Jawa Tengah (Jateng), terutama Kota Semarang. BMKG memprediksi puncak fenomena bediding terjadi di Agustus.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Harits Syahid menyebut, kondisi suhu dingin ini disebut dengan bediding. Fenomena ini mulai terasa sejak awal musim kemarau yang berlangsung pada Juni 2026.
"Untuk bediding ini identik di musim kemarau. Musim kemarau sendiri saat ini diawali dari awal bulan ini ataupun akhir bulan kemarin. Namun untuk kondisi terasa lebih dinginnya, di awal bulan ini sudah mulai terasa," kata Harits saat dihubungi detikJateng, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, fenomena tersebut berpotensi berlangsung sepanjang musim kemarau. Durasinya bergantung pada kondisi musim kemarau yang terjadi tahun ini.
"Selama potensi musim kemarau itu ada, peluang bediding juga ada. Saat ini musim kemarau juga diprediksi lebih kering, sehingga kondisi suhu akan jauh lebih dingin," ujarnya.
Pihaknya pun memperkirakan puncak suhu dingin akan terjadi pada Agustus mendatang. Sementara fenomena ini diprediksi berakhir sekitar Oktober hingga November.
"Prediksi kita puncaknya mungkin di bulan Agustus dan akan berakhir mungkin di bulan 10 ataupun bulan 11," jelasnya.
Harits menjelaskan, suhu dingin akibat bediding umumnya terasa mulai malam hingga pagi hari. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh proses pelepasan panas dari permukaan bumi yang lebih banyak terjadi pada malam hari.
"Biasanya dimulai malam hari ataupun menjelang dini hari hingga pagi hari. Jadi memang proses pelepasan panas itu lebih terjadi di malam hari hingga menjelang dini harinya," ujarnya.
Karena itu, masyarakat yang beraktivitas pada waktu subuh atau pagi hari biasanya merasakan suhu yang lebih dingin dibandingkan waktu lainnya.
(apu/dil)
