Fenomena Bediding Mulai Terasa di Semarang, BMKG: Puncaknya Agustus

Fenomena Bediding Mulai Terasa di Semarang, BMKG: Puncaknya Agustus

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Selasa, 09 Jun 2026 12:53 WIB
Ilustrasi Embun Es di Dieng, Banjarnegara pada Agustus 2023.
Ilustrasi embun es di Dieng. (Foto: dok. detikJateng)
Semarang -

Suhu udara dingin belakangan dirasakan warga Jawa Tengah (Jateng), terutama Kota Semarang. BMKG memprediksi puncak fenomena bediding terjadi di Agustus.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Harits Syahid menyebut, kondisi suhu dingin ini disebut dengan bediding. Fenomena ini mulai terasa sejak awal musim kemarau yang berlangsung pada Juni 2026.

"Untuk bediding ini identik di musim kemarau. Musim kemarau sendiri saat ini diawali dari awal bulan ini ataupun akhir bulan kemarin. Namun untuk kondisi terasa lebih dinginnya, di awal bulan ini sudah mulai terasa," kata Harits saat dihubungi detikJateng, Selasa (9/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, fenomena tersebut berpotensi berlangsung sepanjang musim kemarau. Durasinya bergantung pada kondisi musim kemarau yang terjadi tahun ini.

"Selama potensi musim kemarau itu ada, peluang bediding juga ada. Saat ini musim kemarau juga diprediksi lebih kering, sehingga kondisi suhu akan jauh lebih dingin," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Pihaknya pun memperkirakan puncak suhu dingin akan terjadi pada Agustus mendatang. Sementara fenomena ini diprediksi berakhir sekitar Oktober hingga November.

"Prediksi kita puncaknya mungkin di bulan Agustus dan akan berakhir mungkin di bulan 10 ataupun bulan 11," jelasnya.

Harits menjelaskan, suhu dingin akibat bediding umumnya terasa mulai malam hingga pagi hari. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh proses pelepasan panas dari permukaan bumi yang lebih banyak terjadi pada malam hari.

"Biasanya dimulai malam hari ataupun menjelang dini hari hingga pagi hari. Jadi memang proses pelepasan panas itu lebih terjadi di malam hari hingga menjelang dini harinya," ujarnya.

Karena itu, masyarakat yang beraktivitas pada waktu subuh atau pagi hari biasanya merasakan suhu yang lebih dingin dibandingkan waktu lainnya.

Harits menerangkan, fenomena bediding tidak hanya dirasakan di Jateng, tetapi juga hampir merata di wilayah Indonesia yang sedang memasuki musim kemarau, khususnya daerah-daerah di selatan garis khatulistiwa.

"Hampir merata, terutama wilayah yang mengalami musim kemarau. Di bagian selatan khatulistiwa ini lebih cenderung terasa lebih dingin," katanya.

Sementara itu, wilayah lain seperti sebagian Kalimantan dan Sulawesi masih cenderung mengalami hujan sehingga sensasi dinginnya tidak sekuat daerah yang telah memasuki musim kemarau.

"Untuk wilayah lain untuk Jawa, Kalimantan, ataupun Sulawesi saat ini lebih cenderung basah, kondisinya lagi ada hujan," ungkapnya.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk lebih menyiapkan fisik dengan baik apabila hendak mendaki gunung ataupun ke wisata dataran tinggi seperti Dieng, karena suhu di sana lebih dingin.

"Saat ini kita belum dapat laporan bahwa sudah membeku atau tidak, cuma memang dari beberapa pantauan di Dieng sudah ada yang sampai suhunya mendekati nol," ucapnya.

"Imbauannya jaga kondisi tubuh, lebih minum vitamin, menyediakan sarung tangan, kupluk, dan juga jaket tebal," lanjut Harits.




(aku/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads