Kecelakaan kereta api dalam Tragedi Bintaro sudah berlalu nyaris 40 tahun silam. Saksi sejarah utama di tragedi itu, Slamet Suradio, wafat dan dimakamkan di Purworejo beberapa hari lalu.
Slamet Suradio merupakan masinis dalam kecelakaan yang menewaskan 156 korban itu. Kehidupannya berubah drastis sejak kecelakaan itu.
Meninggalnya Mbah Slamet Suradio tersebut menjadi salah satu berita yang banyak diakses pembaca detikJateng dalam sepekan terakhir ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun Mbah Slamet meninggal di Bekasi usai beberapa lama dirawat di rumah sakit. Jenazahnya kemudian dipulangkan ke Purworejo untuk dimakamkan.
"Ya sakit karena sudah sepuh. Meninggal tadi dini hari sekitar jam 01.00 WIB. Meninggalnya di tempatnya kakak," kata anak bungsunya, Safitri (26) saat ditemui detikjateng di rumah duka, Rabu (3/6/2026) siang.
Tragedi Memilukan
Apa kabar kereta yang terkapar di senin pagi
Di gerbongmu ratusan orang yang mati
Hancurkan mimpi bawa kisah
Air mata air mata..
Belum usai peluit belum habis putaran roda
Aku dengar jerit dari Bintaro
Satu lagi catatan sejarah
Air mata air mata..
Lagu berjudul 1910 dari Iwan Fals itu merespons Tragedi Bintaro yang terjadi pada Senin pagi 19 Oktober 1987. Dalam peristiwa itu Mbah Slamet tak hanya menjadi penyintas, tapi juga menjadi saksi sejarah utama.
Diketahui, Slamet Suradio adalah masinis KA 225 rute Rangkasbitung-Tanah Abang yang bertabrakan dengan KA 220 Patas Merak di daerah Pondok Betung, Bintaro . Peristiiwa itu kemudian dikenal dengan Tragedi Bintaro 1987. Insiden tragis akibat disebut-sebut akibat salah komunikasi persilangan antarstasiun tersebut menewaskan lebih dari 100 orang itu.
Saat masih menjadi masinis, kehidupan Slamet cukup lumayan. Tragedi Bintaro itu mengubah hidupnya. Dia dipecat dari pekerjaannya. Tak hanya itu, dia juga dipenjara 5 tahun karena dianggap lalai hingga menyebabkan tragedi itu.
Berubahnya kehidupan Mbah Slamet diungkap oleh salah satu tetangganya, Basori. Dia menyebut Mbah Slamet selama ini merasa menjadi kambing hitam dalam kecelakaan itu.
"Jadi setelah halangan itu (tragedi Bintaro) Mbah Slamet itu dirawat di rumah sakit. Setelah boleh pulang dari rumah sakit itu ada yang jemput dan katanya mau dianterin pulang tapi ternyata dimasukkan penjara, dipecat dari kereta api. Itu ceritanya Mbah Slamet," kata Basori kepada detikjateng, Rabu (3/6/2026) siang.
Usai dipenjara selama 5 tahun, penderitaan Mbah Slamet belum berakhir. Saat telah bebas dia juga kehilangan istri yang memilih pergi meninggalkannya.
"Waktu itu dihukum sudah punya istri. Pas keluar penjara pulang selesai hukuman, pulang kampung ke Purworejo itu istrinya sudah dibawa orang. Terus Mbah Slamet juga sudah menikah lagi dengan Tuginem (63) sampai sekarang," imbuhnya.
Untuk menyambung hidup di kampung halaman, ia bahkan sampai berjualan rokok eceran di Stasiun Kutoarjo selama bertahun-tahun. Ia berhenti berjualan rokok semenjak mendapatkan bantuan warung dari salah satu komunitas sehingga cukup berjualan di rumah.
"Setelah pulang terus Mbah Slamet jualan rokok di Stasiun Kutoarjo, rokok eceran. Baru berhenti jualan rokok itu sekitar 5 tahun lalu karena sudah ada warung di rumah, bantuan dari komunitas," sebutnya.
Kini, Mbah Slamet telah tutup usia pada Rabu (3/6/2026) sekitar pukul 01.00 WIB di Bekasi. Saksi sejarah utama tragedi itu meninggalkan istri, empat anak dan empat cucu. Kisah kehidupannya pun berakhir.
Baca juga: Rekor Baru Kurban Kambing di Dusun Krajan |
