Pengambilan api dharma untuk Waisak Nasional selalu dilakukan di Mrapen, Grobogan. Ini alasannya kenapa api dharma diambil dari Mrapen dan air suci diambil dari Umbul Jumprit, Temanggung.
"Ya sejak kita pertama kali merayakan (Waisak di Candi Borobudur), karena api Mrapen itu kan api abadi yang nggak pernah mati," kata Ketua DPD Walubi Jateng, Tanto Soegito Harsono kepada detikJateng di Candi Mendut, Kabupaten Magelang, Jumat (29/5/2026).
"Itu kan seperti sumber kehidupan lah untuk api itu," sambungnya.
Setelah diambil di Mrapen hari ini, api dharma untuk Waisak itu akan disakralkan dan disemayamkan di Candi Mendut.
"Nanti penerimaan disulut dengan obor kecil, akan kita bawa masuk. Diserahkan kepada Ibu Ketua Umum Walubi, Pak Dirjen atau yang mewakili, juga bhante-bhante dan majelis. Terus dibawa ke altar dinyalakan dan sekeliling candi," ujar Tanto.
Dia juga menjelaskan alasan pengambilan air suci dilakukan di Umbul Jumprit, Ngadirejo, Temanggung. Rencananya air suci itu akan diambil Sabtu (30/5) besok.
"Karena itu (Umbul Jumprit) memang dianggep tempat yang suci, tempat disakralkan. Ya kita semua tahu di Jumprit itu kan tempat yang disakralkan," kata Tanto.
Dia menambahkan, prosesi pengambilan api serta air suci itu sudah dilakukan rutin selama sekitar 30 tahun.
"Iya (sudah 30 tahun)," ujarnya.
Tanto menambahkan, umat Buddha hari ini mulai berdatangan di Candi Mendut. Mereka melakukan registrasi untuk merayakan Waisak Nasional 2570 BE/2026.
"Ini barusan dari Makassar, Medan, Jakarta, Surabaya dan Jawa Tengah hampir semua. Besok lebih banyak lagi," pungkas Tanto.
Simak Video "Video: Puluhan Bhikkhu Jalan Kaki Bali-Borobudur Bawa Misi Damai Waisak 2026"
(dil/aku)