Kondisi Terkini Sugi, Pemuda Bantarsari yang Hilang Berhari-hari di Hutan

Kondisi Terkini Sugi, Pemuda Bantarsari yang Hilang Berhari-hari di Hutan

Anang Firmansyah - detikJateng
Kamis, 21 Mei 2026 14:20 WIB
Kondisi pemuda yang hilang selama empat hari dan ditemukan selamat di hutan Desa Binangun, Kecamatan Bantarsari, Kabupaten Cilacap, Jumat (15/5/2026).
Kondisi pemuda yang hilang selama empat hari dan ditemukan selamat di hutan Desa Binangun, Kecamatan Bantarsari, Kabupaten Cilacap, Jumat (15/5/2026). Foto: Dok. Basarnas Cilacap
Cilacap -

Kisah hilangnya Sugi Triyono (26), warga Desa Binangun, Bantarsari, Cilacap, masih menyisakan tanda tanya. Setelah dinyatakan hilang selama lima hari (sebelumnya disebut 4 hari) di kawasan hutan Binangun dan ditemukan pada hari keenam, kondisi Sugi kini mulai membaik.

Namun, ada satu hal yang membuat keluarga dan warga heran. Sugi merasa dirinya hanya hilang semalam.

"Pas ketemu saya tanya, dia malah balik nanya, 'Memang saya hilang berapa hari?' Saya bilang lima hari, ini hari keenam. Dia malah bingung, katanya merasa cuma sebentar, kayak semalaman saja," kata Kepala Dusun Tambaksari sekaligus kakak sepupu korban, Suyitno, saat dihubungi detikJateng, Kamis (21/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suyitno mengatakan, setelah ditemukan di area hutan dan dibawa ke RSUD Cilacap, kondisi Sugi berangsur membaik. Kini ia sudah menjalani rawat jalan dan dijadwalkan kontrol kembali pada Sabtu mendatang.

"Alhamdulillah sudah ada peningkatan, agak membaik. Sekarang rawat jalan," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Yang membuat kisah ini makin misterius yakni selama lima hari hilang di hutan, Sugi mengaku hanya bertahan hidup dengan minum air dari kubangan di tengah kawasan hutan.

"Di antara bukit kanan kiri itu ada kubangan air. Dia minumnya di situ. Kalau makan katanya nggak ada, cuma minum saja," tutur Suyitno.

Meski begitu, kondisi fisik Sugi saat ditemukan tidak tampak seperti orang yang telah tersesat berhari-hari di hutan. Ia bahkan masih mampu berjalan sendiri.

"Waktu ketemu itu nggak lemas. Dia lagi nongkrong. Setelah disuapin dan dikasih minum, saya mau gendong nggak mau. Langsung berdiri jalan sendiri," katanya.

Hal lain yang membuat warga semakin heran adalah kondisi telapak kaki Sugi. Padahal saat masuk ke hutan ia tidak memakai sandal.

"Saya lihat sendiri kakinya bersih. Padahal lima hari di hutan tanpa sandal. Nggak ada luka sedikit pun di telapak kakinya," ungkapnya.

Lari ke Hutan Saat Diajak Refreshing

Peristiwa itu bermula setelah Sugi sempat pingsan saat berjualan bubur ayam keliling menggunakan sepeda motor pada akhir April lalu. Ia kemudian dirawat selama dua hari di puskesmas.

"Sehari-hari dia memang dagang bubur ayam. Jam setengah enam pagi sudah keliling," kata Suyitno.

Namun sepulang dari perawatan, keluarga melihat perubahan perilaku pada Sugi. Ia menjadi lebih pendiam dan kerap mengeluhkan dadanya terasa panas.

"Setelah pingsan itu memang ada beda sedikit. Jadi pendiam, nggak seperti biasanya," ujarnya.

Karena khawatir Sugi jenuh di rumah, orang tuanya kemudian mengajak Sugi ke area kebun dan hutan untuk memanen kacang sebagai bentuk refreshing.

Namun di tengah perjalanan, Sugi tiba-tiba berjalan lebih cepat lalu berlari ke arah hutan lebat setelah melihat seseorang sedang menebang pohon pisang.

"Pas ada orang nebang pisang, dia malah lari ke arah hutan yang lebat," katanya.

Pencarian besar-besaran pun langsung dilakukan. Ratusan warga bersama Basarnas, relawan hingga berbagai unsur lain menyisir kawasan hutan selama 24 jam setiap hari. Bahkan drone dengan sensor suhu turut diterjunkan.

"Radius sampai lebih dari 10 kilometer diputerin terus. Tapi nggak ada jejak sama sekali," ujar Suyitno.

Padahal menurutnya, kawasan hutan Binangun bukan hutan yang sepenuhnya tertutup. Sebagian area merupakan kebun warga yang ditanami pisang dan masih sering dilalui masyarakat.

"Yang lebat paling sekitar 70 persen. Sisanya kebun warga, tiap hari ada aktivitas manusia," jelasnya.

Mitos Hutan Binangun dan Cerita 'Ditutupi Makhluk Halus'

Di balik pencarian itu, berkembang pula cerita-cerita mistis yang dipercaya sebagian warga. Banyak sesepuh kampung meyakini Sugi seperti 'ditutupi' makhluk halus sehingga tidak terlihat tim pencari.

"Di sini banyak sesepuh. Hampir 30 orang bilang kalau dia ditutupin makhluk halus," kata Suyitno.

Kepercayaan itu muncul bukan tanpa sebab. Kawasan hutan Binangun dikenal menyimpan jejak permukiman lama yang sudah lama ditinggalkan. Di tengah hutan terdapat beberapa titik makam tua dan sisa-sisa desa kuno.

"Dulu katanya ada desa di tengah hutan itu. Karena penjajahan, warga pindah turun ke sini semua. Makanya di situ ada makam tiga titik, masih ada genteng-genteng bekas rumah juga," ujarnya.

Warga setempat pun mengaku kerap mendengar kisah orang luar daerah yang meninggal mendadak di kawasan tersebut.

"Kalau orang sini sih nggak ada kejadian begitu. Tapi orang luar kadang ada yang meninggal mendadak di sekitar hutan," katanya.

Hingga kini, satu hal yang masih menjadi misteri adalah tas milik Sugi yang belum ditemukan. Saat pergi, ia membawa tas berisi arit, kunci, dan stambul.

"Sampai sekarang tasnya belum ketemu," ucap Suyitno.

Kini Sugi sudah kembali ke rumahnya di Desa Binangun. Meski kondisinya membaik, keluarga menyebut ia masih belum sepenuhnya pulih dan masih harus menjalani rawat jalan di RSUD Cilacap.

Diberitakan sebelumnya, pencarian terhadap Sugi Triyono (26) Warga Desa Binangun, Kecamatan Bantarsari, Kabupaten Cilacap, membuahkan hasil. Sugi yang hilang di kawasan hutan Binangun akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat, Jumat (15/5).

Saat ditemukan, Sugi dalam kondisi linglung. Sebelumnya ia dilaporkan hilang sejak Minggu (10/5) saat berada di area hutan Desa Binangun. Sejak laporan diterima, Basarnas Kantor SAR Cilacap bersama tim SAR gabungan terus melakukan upaya pencarian di medan hutan yang cukup sulit.




(dil/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads