Presiden Prabowo Subianto menyatakan rasa terima kasih kepada PDIP yang berada di luar pemerintahannya. Pakar politik dari Universitas Diponegoro (Undip), Wahid Abdulrahman, menyebut pesan Prabowo tersebut memiliki landasan politik yang kuat.
"Saya melihat apa yang disampaikan Presiden Prabowo itu memiliki landasan politik yang kuat," kata Wahid saat dihubungi detikJateng, Kamis (21/5/2026).
Wahid membaca, posisi partai banteng yang berada di luar pemerintah itu menjaga nalar demokrasi. Sikap tersebut dibutuhkan dalam kondisi mundurnya kualitas demokrasi Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PDI Perjuangan sebagai partai yang tidak masuk ke dalam pemerintahan itu masih menjaga nalar demokrasi kita, di tengah berbagai pesimisme terhadap praktik demokrasi di Indonesia. Di tengah berbagai analisis yang menyatakan adanya kemunduran, termasuk dengan berbagai indeks yang menunjukkan bahwa kualitas Indonesia menurun itu, PDIP masih konsisten untuk menjadi partai di luar pemerintah. Karena bagaimanapun kita butuh itu," ungkap dia.
Baca juga: Jokowi Ditawari Peran Utama di Film Dayak |
Dia menyebut, PDIP konsisten sebagai oposisi. Terlebih di tengah kondisi dominasi jumlah kursi di parlemen sebagai koalisi pemerintahan Prabowo.
"PDIP konsisten, tidak tergoda untuk masuk ke dalam bagian dari pemerintah. Apalagi kemudian kalau melihat persentasenya yang cukup besar, yaitu 72 persen partai di DPR kita itu kan sudah menjadi bagian partai yang mendukung pemerintah Presiden Prabowo," katanya.
Menurut Wahid, hal tersebut bersinambung dengan gemuknya kabinet Prabowo-Gibran sehingga dinilai menjadi biang membengkaknya kondisi fiskal. Sementara partai asuhan Megawati Soekarnoputri itu dalam posisinya sekarang tidak menjadi 'beban'.
"Nah ini berkaitan dengan alasan yang kedua bahwa kemudian PDIP tidak juga menjadi, dalam tanda kutip, beban bagi partai-partai yang sudah ada di barisan pendukung Presiden Prabowo. Karena bagaimanapun ini kabinet yang begitu gemuk kemudian seiring kekuasaan ini kan konsekuensinya logisnya cukup dirasakan. Saya kira salah satu dampak dari ini kan kondisi fiskal kita, bagaimanapun harus diakui besarnya kabinet, kemudian banyak hal yang kemudian menunjukkan adanya relatif power sharing yang mengakibatkan kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja," kata Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan Fisip Undip itu.
Ucapan terima kasih Prabowo itu, lanjut Wahid, juga berkaitan dengan sikap PDIP yang dinilai profesional dan proporsional dalam melakukan kontrol kebijakan.
"Ketiga saya kira alasannya adalah PDIP masih cukup profesional dan proporsional. Kalau bisa dikatakan belum cukup keras terhadap kontrol-kontrol pemerintah. Tetapi ini yang diharapkan, saya kira, Presiden Prabowo bahwa kalau pun kemudian berada di luar tetapi masih dalam konteks koridor yang boleh dikatakan masih proporsional untuk melakukan kontrol-kontrol itu. Sehingga berbagai kebijakan pemerintah pun juga tidak banyak hambatan," ungkapnya.
"Saya kira tiga aspek ini kemudian Presiden Prabowo memberikan semacam dalam tanda kutip ucapan terima kasih bagi PDI Perjuangan," lanjutnya.
Saat ditanya apakah ungkapan Prabowo tersebut merupakan bentuk keinginannya untuk tetap merangkul PDIP, Wahid berpendapat, tidak demikian. Baginya, adanya PDIP sebagai oposisi sudah cukup.
"Saya tidak membaca itu, komposisi saat ini sudah cukup. Jangan sampai overdosis," ungkapnya.
Lebih lanjut, Wahid menerangkan, PDIP memiliki perjalanan panjang sebagai oposisi pemerintah, sekaligus dapat memperkuat internal partai.
"PDIP memiliki pengalaman sejarah sebagai penyeimbang dan di saat yang sama mampu memperkuat konsolidasi internal," pungkasnya.
Sebelumnya, dilansir detikNews, Prabowo diketahui mengucapkan terima kasih kepada PDIP karena posisinya berada di luar pemerintah. Prabowo menghargai posisi PDIP sebagai penyeimbang pemerintahannya.
Prabowo mengucapkan hal tersebut saat menutup pidato pandangan pemerintah mengenai ekonomi makro dan fiskal tahun 2027 di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5). Prabowo mengapresiasi waktu yang diberikan parlemen. Dia juga mengucapkan rasa terima kasihnya ke PDIP.
"Memang tidak semua partai di sini bagian dari pemerintah, dan saya hormati dan saya hargai itu, demokrasi kita perlu checks and balances. Saya paham dan mengerti bahwa PDIP berkorban untuk berada di luar pemerintah," ucapnya.
Adapun Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menjelaskan alasan Presiden Prabowo Subianto berterima kasih kepada PDIP karena berada di luar pemerintahan. Dasco menyebutkan ungkapan itu keluar dari lubuk hati terdalam Prabowo.
"Ya, yang disampaikan oleh Pak Presiden tentunya kita tahu tadi, dan kalau kita lihat itu memang keluar dari lubuk hati yang paling dalam," kata Dasco kepada wartawan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Selain itu, Dasco menyebutkan Prabowo menghargai posisi PDIP yang tetap menghidupkan demokrasi. Selain itu, menurut dia, Prabowo menginginkan adanya penyeimbang di parlemen.
"Ucapan dan penghargaan kepada Ketua Umum PDIP Ibu Megawati dan kepada PDIP itu adalah ungkapan yang tulus dan penghargaan terhadap apa yang kemudian disampaikan oleh Pak Presiden untuk menghidupkan demokrasi dan kemudian kritik yang membangun yang selama ini juga dilakukan oleh teman-teman PDIP di parlemen yang sudah berjalan selama pemerintahan Pak Prabowo," ucap Ketua Harian Partai Gerindra itu.
(ahr/ahr)
