Tahukah Kamu, Dulu Delanggu Klaten Disebut Dilonggo?

Tahukah Kamu, Dulu Delanggu Klaten Disebut Dilonggo?

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Kamis, 21 Mei 2026 08:20 WIB
Jalan raya Jogja-Solo di tengah Kota Delanggu, Klaten.
Jalan raya Jogja-Solo di tengah Kota Delanggu, Klaten. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng
Klaten -

Kecamatan Delanggu merupakan nama salah satu dari 26 kecamatan yang ada di Kabupaten Klaten. Nama Delanggu pernah disebut dengan Dilonggo di masa lalu, tepatnya 280 tahun yang lalu, kok bisa?

Jejak penyebutan nama Delanggu dengan nama Dilonggo itu ditulis oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Baron Van Ihmoff. Pada catatan perjalanan sang gubernur yang ditulis ulang oleh residen Yogyakarta, LF. Diengemans pada 21 Maret 1925.

Dalam catatan berbahasa Belanda itu dijelaskan Van Ihmoff melakukan perjalanan kunjungan ke Jawa Tengah. Rombongan itu berangkat dari Batavia (Jakarta ) tanggal 24 Maret 1746.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awalnya rombongan dari Batavia menaiki kapal dan turun di Semarang meneruskan perjalanan darat dengan pengawalan pasukan. Pada 19 Mei 1746 Van Ihmoff sampai di Delanggu setelah perjalanan empat jam dari Solo.

Catatan saat melintas di Delanggu itu ditulis Diengemans: "wij te paard en met draggstoelen onze refjze voorzettende door een vrlj onglijke moddrige en met veel water geinterrum peerde weg naar Dilonggo daar des middags halte hielden zijnde vier uuren van Soeracarta (kami dengan menunggang kuda dan tandu melanjutkan perjalanan kami, di sepanjang jalan yang agak tidak rata, berlumpur, dan tergenang air ke Dilonggo (Delanggu) dimana kami berhenti pada tengah hari setelah empat jam perjalanan dari Surakarta)".

ADVERTISEMENT

Tokoh masyarakat Delanggu, Atok Susanto, menganggap wajar jika rombongan Gubenur Hindia Belanda lewat Delanggu. Sebab nama Delanggu bermakna jalan besar atau jalan raya.

"Delanggu itu dulu oleh para wali dan Ki Ageng menyebut Dlangung, dalan agung, jalan raya jadi era Mataram Islam. Jadi terus ditulis Dlangung," ungkap Atok kepada detikJateng, Selasa (19/5/2026) siang.

"Kalau raja-raja Surakarta meninggal juga dimakamkan lewat Delanggu ke Imogiri karena Delanggu jalan besar," kata Atok.

Menurut Atok, di zaman Belanda di Delanggu masih banyak rawa dan tepi sungai. Di masa perang Diponegoro, pernah terjadi serangan pasukan pangeran Diponegoro.

" Pernah Belanda diserang pasukan Diponegoro dengan panah api sehingga benteng jebol. Dulu konon mau membangun rel dan PG menguruk rawa dengan meluruskan sungai pusur," terang Atok.

" Ya sungai Pusur itu diluruskan karena sekitar Delanggu itu rawa, aliran Pusur purba itu ke Utara, " imbuhnya.

Pegiat sejarah Klaten Hari Wahyudi menyatakan Delanggu memang pernah disebut dengan Dilonggo. Kata itu terdapat dalam catatan perjalanan Van Ihmoff.

"Betul ditulis Dilonggo. Penulisan dari residen Yogyakarta itu mengambil dari tulisannya Van Ihmoff, dari catatan hariannya. Tulisannya memang Dilonggo," ungkap Hari kepada detikJateng.

Dirinya, sebut Hari, juga meyakini yang dimaksud wilayah Dilonggo dalam tulisan itu adalah Delanggu Klaten. Sebab dilihat dari jaraknya.

"Nama tempat yang ada kemiripan dengan nama Dilonggo sekarang ya Delanggu. Karena jarak antara Solo ke Dilonggo waktu itu ditulis kan empat jam dengan asumsi naik kereta dan Medan belum seperti sekarang, jangan lupa itu masih jaman VOC," kata Hari.

Diterangkan Hari, Gubernur Hindia Belanda Baron Van Ihmoff melakukan perjalanan selama 2 bulan 18 hari. Catatan perjalanan itu ditulis ulang residen Yogyakarta.

"Perjalanan Van Imhoff selama 2 bulan 18 hari dari Batavia ditulis ulang oleh resident Yogyakarta, L. F. Diengemans.Pada 19 Mei 1746 setelah perjalanan dari Wanacarta atau Kartasura selama 4 jam sampai di Dilonggo atau Delanggu dengan jalan yang tergenang air, " lanjut Hari.

Dalam catatan itu, terang Hari, setelah beristirahat di Dilonggo rombongan berangkat lagi dan beristirahat di Gondang (Kecamatan Kebonarum arah Yogyakarta ) 5 jam kemudian. Disebutkan antara Dilonggo hingga Gondang menemui banyak kesulitan.

"Disebutkan antara Dilonggo atau Delanggu hingga Gondang menemui banyak kesulitan terkait akses jalan dan kekurangan perbekalan. Tidak disebut nama Klaten," terang Hari.

"Nama Klaten baru disebut saat Mayor Cornelius yang membangun benteng Klaten yang terletak di antara Surakarta dan Yogyakarta pada tahun 1797," imbuhnya.

Hari menambahkan dalam catatan Van Ihmoff yang disebut nama wilayahnya antara lain Dilonggo, Gondang, Tadje (Taji) dan Prambanan. Prambanan ditulis Prabanam.

"Prambanan ditulis Prabanam. Perjalanan itu misi diplomatik terkait utang piutang Mataram sepeninggal Amangkurat 3 yang nantinya berhubungan dengan berkurangnya tanah kerajaan menjadi di bawah VOC," paparnya.

Hari berpendapat nama Delanggu lebih ke arah nama tumbuhan Dlingo. Sebab banyak tiponimi daerah zaman dulu dari nama tumbuhan.

"Iya tiponimi nama daerah atau wilayah banyak yang diambil dari nama tumbuhan," imbuhnya.

Halaman 2 dari 2
(apl/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads