Di pusat kota Klaten terdapat satu kampung dengan nama tak biasa, yaitu Kampung Kamar Bola. Kampung yang masuk Kelurahan Kabupaten, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten itu punya sejarah panjang sejak era kolonial Belanda.
Jejak era kolonial Belanda itu masih terlihat di kampung yang tepat di tengah kota, di barat alun-alun Klaten itu. Saat detikJateng menelusuri kampung tersebut, jalan kampung hanya sekitar tiga meter.
Kampung Kamar Bola tidak terlalu luas karena hanya satu lingkup RW dengan dua RT. Letaknya pun nyempil (terselip) antara perkantoran dan pertokoan Jalan Pemuda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di utara, selatan dan timurnya adalah pertokoan dan perkantoran. Sedangkan di baratnya Sungai Sidowayah sehingga ada beberapa gang yang buntu.
Beberapa bangunan era kolonial Belanda masih terlihat, baik kantor maupun rumah tua penduduk. Meskipun namanya Kamar Bola, tidak ada lapangan sepakbola atau perajin bola di kampung tersebut.
"Disebut kampung Kamar Bola itu karena dulu disini ada gedung untuk tempat pertemuan, untuk karaoke, untuk bola sodok (biliar) dan pesta-pesta zaman Belanda," ungkap sesepuh kampung Bambang Santoso (71) kepada detikJateng di rumahnya, Kamis (7/5/2026) siang.
"Mungkin karena itu oleh para sesepuh zaman dulu disebut Kamar Bola," lanjut Bambang.
Bambang menuturkan sebab menjadi tempat pertemuan dan hiburan semakin hari semakin ramai. Di sekitar gedung tersebut kemudian tumbuh permukiman warga sampai sekarang ada 60 kepala keluarga.
"Kampung sini cuma jadi satu RW dengan dua RT dan 60 keluarga. Dulu juga pernah digunakan untuk SMP dan SMA di kampung ini," terang Bambang.
Kapan nama Kamar Bola digunakan, lanjut Bambang, dirinya tidak mengetahui sebab saat ayahnya menetap tahun 1951 namanya sudah Kamar Bola. Di sekitar kampung dulunya ada perkantoran era Belanda.
"Kantor DPUPR Klaten sekarang (selatan kampung) itu dulu kantor kawedanan. Ada juga kantor pengadilan di situ (timur)," kata Bambang.
Bahkan dulu saat dirinya kecil, jelas Bambang, ada sisa benteng Belanda di timur kampung. Benteng Loji Klaten itu kini sebagian untuk lahan parkir Plaza Klaten dan Masjid Raya di utara Alun-alun.
"Yang sekarang masjid itu dulu benteng pertahanan Belanda yang dikelilingi semacam sungai dengan lebar empat meter. Konon kalau mau keluar pintu diderek ada jembatannya," jelas Bambang.
Bambang mengakui nama kampungnya kadang dianggap aneh sehingga orang penasaran. Tapi begitu dijelaskan warga baru tahu.
"Kalau ditanya ya saya jawab seperti yang saya ketahui (sejarahnya). Dulu sekali katanya banyak yang minum, judi, pokoknya ruwet tapi sekarang sudah tidak ada, sudah tertib dan nyaman," pungkas Bambang yang pensiun ASN itu.
Benteng Klaten
Ketua RT 02 RW 06 Kampung Kamar Bola, Mega mengatakan nama Kamar Bola sudah ada sejak lama.
"Sejak lama (nama kampung), saya 2011 masuk sini. Ya sempat penasaran dengan namanya Kamar Bola pertama kali," kata Mega.
"Di sini juga tidak ada lapangan bola. Mungkin dulu untuk main bola atau apa di zaman Belanda, saya tidak tahu pasti, itu gedung (Kaminvetcad) juga di zaman Belanda, itu juga (rumah kuno), " ungkap Mega.
Pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi membenarkan ada benteng Belanda di dekat kampung tersebut. Benteng direhab tahun 1804.
"Dalam catatan Belanda, benteng didirikan tahun 1797-1798 dan direnovasi tahun 1804. Kampung Kamar Bola dulu ada bangunan Societet artinya perkumpulan, kalo jaman sekarang mirip gedung pertemuan," terang Hari kepada detikJateng.
Bangunan benteng Loji Klaten, sebut Hari, memang dikelilingi parit pertahanan. Lebarnya mencapai 4-6 meter.
"Di Benteng Klaten betul terdapat parit keliling selebar 4-6 meter dengan kedalaman 2,5 meter, pada bagian depan gerbang pintu masuk terdapat jembatan kayu dengan sistem jungkit yang bisa ditarik keatas dengan katrol penggerak yang berfungsi sebagai pembuka dan penutup akses keluar masuk benteng," papar Hari.
(aku/alg)
