Korban Laka Kereta Vs Avanza di Grobogan Bertambah Jadi 5 Orang Tewas

Korban Laka Kereta Vs Avanza di Grobogan Bertambah Jadi 5 Orang Tewas

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Sabtu, 02 Mei 2026 14:04 WIB
Mobil Avanza jatuh ke sawah usai tertabrak KA Argo Bromo Anggrek di perlintasan KA swadaya, jalan umum Tuko-Sidorejo, Dusun Sugihan, Desa Tuko, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Jumat (1/5/2026).
Mobil Avanza jatuh ke sawah usai tertabrak KA Argo Bromo Anggrek di perlintasan KA swadaya, jalan umum Tuko-Sidorejo, Dusun Sugihan, Desa Tuko, Pulokulon, Grobogan, Jumat (1/5/2026). Foto: Dok. Polres Grobogan
Grobogan -

Korban meninggal dalam kecelakaan mobil Avanza rombongan pengantar haji tertabrak Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek di perlintasan swadaya Desa Sidorejo, Pulokulon, Grobogan, bertambah satu orang. Dengan demikian, total korban meninggal dalam kecelakaan ini ada lima orang.

Kecelakaan itu terjadi pada Jumat (1/5/2026) dini hari. Kasat Lantas Polres Grobogan, AKP Kumala Enggar Anjarani mengatakan, korban terbaru ini sempat dirujuk ke Semarang sebelum dinyatakan meninggal dunia tadi malam.

"Benar, salah satu korban yang dirujuk ke RSI Sultan Agung Semarang telah meninggal dunia, kemarin malam, hari Jumat 1 Mei 2026 pukul 22.40 WIB. Informasi tersebut disampaikan oleh pihak keluarga dan terkonfirmasi oleh pihak RSI," kata Kumala saat dimintai konfirmasi detikJateng, Sabtu (2/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kumala menuturkan kasus kecelakaan ini masih dalam penyelidikan Sat Lantas Polres Grobogan. Pihaknya masih mengumpulkan informasi dan petunjuk.

"Saat ini kami Sat Lantas Polres Grobogan dalam proses penyelidikan, segala informasi dan petunjuk sedang kita kumpulkan," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Dimintai konfirmasi terpisah, Plt Kasi Humas Polres Grobogan, Ipda Arif Suryanto mengatakan korban meninggal terbaru ini merupakan ibu dari balita berinisial SB (2). Balita tersebut juga meninggal dalam kecelakaan tersebut.

"Ada satu (korban lain yang dilaporkan meninggal dunia), ibu dari korban balita SB, bernama Indah Setiyawati (27)," kata Arif saat dihubungi detikJateng.

Arif menjelaskan, korban memiliki hubungan keluarga dengan calon jamaah haji yang hendak diantarkan, yakni sebagai menantu

"Korban istri dari Ahmad Deni, anak dari Bapak Sadi yang berangkat haji," ujar Arif.

Sebelumnya, korban diketahui mengalami sejumlah luka akibat kecelakaan tersebut. Sebelum dilarikan ke RSI Sultan Agung Semarang, korban sempat dirawat di RSUD Purwodadi.

Berikut data korban meninggal dunia dan korban luka terkini dalam kecelakaan mobil rombongan pengantar haji tertabrak Kereta Api Argo Bromo Anggrek di Grobogan.

Korban Meninggal

  1. ND (10), alamat Dusun Prau RT 2 RW 6, Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon. Cedera kepala berat, meninggal di Puskesmas Pulokulon 1.
  2. Mukamat Sakroni (51), laki-laki, alamat Dusun Ngablak RT 19 RW 7, Desa Kemloko, Kecamatan Godong. Cedera kepala berat, meninggal di Puskesmas Pulokulon 1.
  3. Dalni (51), perempuan, alamat Dusun Ngablak RT 19 RW 7, Desa Kemloko, Kecamatan Godong. Cedera kepala berat, meninggal di Puskesmas Pulokulon 1.
  4. SB (2), perempuan, alamat Dusun Sidorejo RT 5 RW 2, Desa Sidorejo, Kecamatan Pulokulon. Cedera kepala berat, meninggal di Puskesmas Pulokulon 1.
  5. Indah Setiyawati (27), alamat Dusun Sidorejo RT 5 RW 2, Desa Sidorejo, Kecamatan Pulokulon.

Korban Luka

  1. VD (10), perempuan, Dusun Prau RT 3 RW 6, Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon. Luka paha kaki kiri robek, dada nyeri, punggung telapak kaki kiri lecet, dirawat di RSUD Purwodadi.
  2. Kardi (50), laki-laki, Dusun Prau RT 2 RW 6, alamat Dusun Prau RT 2 RW 6, Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon.
  3. Darwati (46), perempuan, alamat Dusun Prau RT 2 RW 6, Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon.
  4. Jakinem (77), Dusun Mlowo RT 5 RW 2, Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon.

Diberitakan sebelumnya, insiden itu terjadi pada Jumat (1/5/2026) pukul 02.52 WIB. Kala itu, mobil Toyota Avanza nomor polisi H-1060-ZP mengangkut sembilan orang rombongan pengantar haji. Saat melintasi perlintasan KA di jalan umum Tuko - Sidorejo, Desa Sidorejo, mobil itu tertabrak kereta api.

"Satu keluarga itu. Semua korban sudah berhasil dievakuasi dan dilakukan penanganan oleh petugas. Mobil juga sudah terevakuasi," jelas Kasat Lantas Polres Grobogan, AKP Kumala Enggar Anjarani melalui Kanit Gakkum Sat Lantas Polres Grobogan, Iptu Eko Ari Kisworo saat dimintai konfirmasi detikJateng, Jumat (1/5/2026).

Insiden ini terjadi saat mobil tersebut hendak berangkat menuju ke Pendopo Kabupaten Grobogan untuk mengantar pasangan Sadi dan Wartini.Akibat tertabrak kereta, mobil tersebut terpental sekitar 20 meter hingga terperosok ke sawah.

"Kereta Api Argo Bromo Anggrek menabrak bodi depan kiri dari Toyota Avanza hingga mobil terpental sejauh kurang lebih 20 meter dan menabrak tiang Indihome. Kemudian mobil terjatuh ke selatan masuk ke sawah," kata Eko.

Kepala Dusun Sidorejo, Heri Siswanto, mengungkap total ada enam kendaraan yang hendak mengantar pasutri Sadi dan Wartini berhaji. Setelah kejadian kecelakaan, hanya satu yang melanjutkan perjalanannya.

"Sebenarnya rombongannya banyak, selain dari empat mobil, masih ada dua bus. Yang turut ke Solo hanya satu, yang lainnya kembali tidak jadi mengantarkan jamaah," ujar Heri di lokasi kejadian, Jumat (1/5).

Dia menyebut korban tewas berada di iring-iringan kedua. Korban meninggal di antaranya merupakan cucu dan besan pasangan calon haji tersebut.

"Dari mobil kedua tersebut ada sembilan penumpang, yang meninggal empat orang, salah satunya berusia tiga tahun atau masih balita, tak lain adalah cucu dari Bapak Sadi dan Ibu Wartini," ujar Heri.

"Juga yang berada di dalam mobil tersebut adalah besan dari Bapak Sadi yang beralamatkan dari (Kecamatan) Godong,"sambungnya.

Perlintasan KA Dijaga Swadaya

Heri menambahkan perlintasan kereta api tempat terjadinya kecelakaan biasa dijaga warga secara swadaya. Diketahui, perlintasan itu terletak di perbatasan Desa Sidorejo dengan Desa Tuko.

"Sebenarnya untuk penjaga (perlintasan KA), dari desa sudah mengupayakan petugas atau relawan, bahkan dari Desa Sidorejo sudah mengalokasi sebuah insentif," kata Heri.

"Tapi (dari Desa Sidorejo) hanya (menjaga) siang hari, malam ada relawan dari desa sebelah, gantian dari Desa Tuko," sambungnya.

Nahas saat kejadian, tak ada relawan yang berjaga. Pihaknya pun berharap ada perlintasan kereta otomatis.

"Saat kejadian tidak ada (yang menjaga). Kalau yang malam kan hanya relawan, jadi kemauan sendiri, sukarela," ujar Heri.

Di sisi lain, polisi menyoroti bahaya perlintasan sebidang yang dijadikan akses masyarakat. Perlintasan itu disebut merupakan akses untuk tiga desa.

"Perlintasan sebidang tanpa palang pintu, terkait dengan aturan itu pun kan sebenarnya tidak diperbolehkan, karena sangat berbahaya sekali bagi pengendara yang melintas di perlintasan sebidang tanpa palang pintu," jelas Eko.

"Tetapi karena itu itu merupakan jalan utama yang menghubungkan tiga desa, sehingga perlintasan itu dilaksanakan dilakukan untuk perlintasan sebidang swadaya dari desa," sambungnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Menikmati Spot Healing yang Menakjubkan di Sendang Coyo, Jawa Tengah "
[Gambas:Video 20detik]
(dil/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads