Rumah berbentuk mirip dua bus double decker atau bus tingkat milik Supardi (43) di Dukuh Tandan RT 02 RW 07, Desa Kopen, Jatipurno, Wonogiri, jadi viral. Rumah berdesain unik itu dibangun dalam waktu 6 minggu. Segini biayanya.
Supardi awalnya membeli tanah milik saudaranya seluas 6x15 meter seharga Rp 35 juta. Karena kecintaannya pada bus, dia terinspirasi membuat rumah berbentuk bus Scania K-410 seperti milik Perusahaan Otobus (PO) Agramas.
"Dibangun sebelum puasa (2026), lebaran sudah saya huni. Saya kerjakan 6 minggu," kata Supardi saat ditemui detikJateng di rumahnya, Selasa (21/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria yang akrab disapa Bagong itu berencana membangun rumahnya secara bertahap. Pada tahap pertama, rumahnya sudah berdiri dan bisa ditinggali bersama istri dan kedua anaknya.
Tampak rumah tersebut belum tersentuh plesteran aci apalagi dicat. Bahkan di beberapa titik, batakonya masih terlihat. Lantainya belum dipasang keramik.
"Ini baru 50-60 persen. Belum diteruskan karena saya kehabisan dana. Ini rumah saya bangun sendiri, dari beli tanah sampai pembangunannya," ucapnya.
Bangunan berbentuk bus yang berada di sisi timur berukuran lebih besar, yakni lebar 3 meter, panjang 13 meter, dan tinggi 5 meter. Sedangkan bangunan bus di sisi barat memiliki ukuran lebih kecil, yakni lebar 2,5 meter, panjang 8 meter, dan tinggi 4 meter. Sementara dimensi asli bus Scania K-410 yakni panjang 13,5 meter, lebar 2,5 meter, dan tinggi 4 meter.
Di sela dua bangunan berbentuk bus itu terdapat pintu masuk ke bangunan utama. Bangunan tersebut pada bagian belakang memiliki dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan dapur.
Bangunan itu berdiri di atas tanah seluas sekitar 90 meter persegi. Kedua bangunan bus memiliki ukuran yang berbeda karena menyesuaikan fungsinya. Sisa lahan di depan bangunan bus dimanfaatkan untuk garasi.
"Sudah habis Rp 125 juta. Harga tanahnya Rp 35 juta," ungkap Supardi.
Keseluruhan bangunan berbentuk bus itu juga dilengkapi 9 roda sebagai variasi. Supardi menggunakan ban truk yang dipasang pada pelek beton. Dia mengaku cukup sulit untuk membeli ban bus.
Supardi membangun rumahnya dengan dibantu oleh 6 orang tukang. Pada bagian samping, terdapat sederet kaca jendela yang mirip seperti kabin bus.
"Arsiteknya saya sendiri. Yang merancang, membentuk, saya sendiri," ujar Supardi yang juga selaku Ketua RT 02 di RW 07 Desa Kopen.
Menurut Supardi, rumahnya sangat boros pada besi untuk tulangan bangunan. Sebab, ia ingin membuat bangunan rumahnya tampak melayang atau hanya ditopang oleh roda selayaknya bus asli.
Pada Pembangunan tahap kedua, Supardi akan melakukan finishing dan memasang interior. Rumahnya saat ini cukup panas karena semua jendelanya paten dan sirkulasi udara hanya dari pintu yang dibuka. Maka itu ia akan memasang AC.
Pada bagian depan bangunan bus, ia ingin membuatnya seperti dasbor bus lengkap dengan setir, dan kursi pengemudi. Ia juga sudah siap memasangi lampu LED pada bagian depan, termasuk memasang kaca spion, dan mengganti kaca depan dengan mika.
"Pintu (samping bangunan) keinginan saya seperti bus, sleding ke luar, dan ada tangga yang keluar. Insyaallah mau saya buat seperti itu. Pelek saya buat dari semen, ada bautnya," ucapnya.
Supardi mengaku tidak terburu-buru untuk menyelesaikan rumahnya. Dia akan mengumpulkan uang lagi hingga rumah impiannya selesai.
"Untuk menyelesaikan, dalam rincian saya sekitar Rp 70 juta," pungkasnya.
(dil/dil)











































