Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Jika Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk mengakhiri hidup, segera hubungi profesional atau layanan kesehatan mental terdekat.
Kejadian tragis terjadi di Hyderabad, India, di mana seorang perempuan berusia 24 tahun nekat bunuh diri. Ia menjadi korban serangan keji dari eks kekasih yang menyuntiknya secara paksa dengan darah positif HIV.
Dilansir detikHealth Jumat (17/4/2026), pelaku disebut sakit hati karena lamarannya ditolak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Media NDTV memberitakan, peristiwa ini bermula pada 11 Maret lalu, saat pelaku yang bernama Manohar, masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan korban, tidak terima karena rencana pernikahan mereka dibatalkan oleh keluarga korban.
Awalnya, orang tua korban memang berencana menikahkan putrinya dengan Manohar. Belakangan, mereka mengetahui orang tua Manohar ternyata mengidap HIV.
Karena itu Manohar juga diminta melakukan tes kesehatan pada September tahun lalu sebagai prasyarat. Ternyata Manohar juga mengidap virus itu.
Begitu tahu hasil kesehatan calon suaminya, korban langsung membatalkan rencana pernikahan mereka demi kesehatannya di masa depan. Tak terima dengan keputusan tersebut, Manohar mendatangi rumah korban dan melakukan tindakan yang keji dengan menyuntikkan paksa darahnya sendiri yang berisi virus HIV ke tubuh korban.
Bunuh Diri karena Beban Mental-Stigma Sosial
Manohar ditangkap tak lama setelah kejadian, tetapi luka psikologis yang dialami korban jauh lebih dalam dari luka fisiknya. Kepolisian setempat mengungkap korban mengalami stres berat akibat ketakutan akan penyakit tersebut dan trauma emosional mendalam.
Dalam sebuah catatan terakhir yang ditinggalkannya, sebelum ditemukan tewas pada hari Jumat (10/4) lalu, korban sempat mengungkapkan perasaannya yang hancur. Ia menganggap calon suaminya itu sudah merusak hidupnya secara permanen lewat infeksi itu.
Korban mengaku sangat tertekan oleh banyaknya komentar negatif dan hilangnya privasi setelah kasusnya menjadi viral di media sosial. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada orang tuanya sebelum akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup.
Pihak Kepolisian Pocharam IT Corridor mengonfirmasi dampak psikologis dan stigma sosial menjadi faktor utama pendorong korban melakukan tindakan nekat ini.
"Kami menduga kuat bahwa dampak psikologis dari serangan HIV dan tekanan sosial itulah yang mendorongnya mengambil langkah ini," ujar inspektur polisi setempat.
(apu/ams)
