Mahasiswa Semarang Demo Kasus Andrie Yunus di DPRD Jateng Bubarkan Diri

Mahasiswa Semarang Demo Kasus Andrie Yunus di DPRD Jateng Bubarkan Diri

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Kamis, 09 Apr 2026 19:25 WIB
Sebelum membubarkan diri, massa mahasiswa sempat ditemui perwakilan dari DPRD Jateng.
Aliansi mahasiswa Semarang Raya membubarkan diri dari aksi demo di halaman DPRD Jateng, Kota Semarang, Kamis (9/4/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Massa demo aliansi mahasiswa Semarang di kantor DPRD Jawa Tengah (Jateng) telah membubarkan diri. Aksi itu menuntut pengusutan tuntas terhadap 16 pelaku penyiraman air keras ke Wakil Koordinator Bidang Eksternal KontraS, Andrie Yunus.

Sebelum membubarkan diri, massa mahasiswa sempat ditemui perwakilan dari DPRD Jateng. Pantauan detikJateng di lokasi sekitar pukul 17.00 WIB, para mahasiswa yang mengenakan almamater masing-masing telah menyampaikan orasi secara bergantian.

Mahasiswa menuntut agar pelaku intelektual di balik kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus diungkap dan diusut tuntas. Mereka juga mendesak agar seluruh personel militer ditarik dari jabatan dan ruang sipil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekitar pukul 17.06 WIB, Anggota Komisi B DPRD Jateng yang membidangi perekonomian, pertanian, perikanan, dan pariwisata, Muhaimin, menemui mahasiswa.

"Aspirasi kawan-kawan akan kita sampaikan kepada pimpinan dan pimpinan pasti akan mengajak kita semua untuk berdiskusi," kata Muhaimin di halaman Kantor DPRD Jateng, Kamis (9/4/2026).

ADVERTISEMENT

Mahasiswa pun sempat mengajukan beberapa pertanyaan yang kemudian dijawab Muhaimin. Muhaimin menjawab akan menyampaikan aspirasi mahasiswa ke DPR RI.

"Terkait undang-undang yang disampaikan, itu adalah ranah dari pemerintah pusat beserta DPR RI. Oleh karena itu kami tentu akan menyampaikan kepada mereka untuk ambil sikap," tuturnya.

Mahasiswa menilai pernyataan Muhaimin hanya normatif. Terlebih, mereka menuntut agar yang menerima massa aksi yakni anggota komisi A yang membidangi pemerintahan, hukum, dan keamanan.

"Tadi kan sebenarnya tuntutannya untuk ke Komisi A, walaupun terlalu normatif menurut saya jawaban bapak. Apalagi bapak dari Komisi B yang ranahnya lumayan jauh, dari keuangan dan perekonomian," kata salah satu mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes).

"Lalu mohon maaf, saya menanyakan kapabilitas Bapak untuk mendengarkan aspirasi kita. Karena tema hari ini tentang TNI, kita mengawal ke komisi A saja belum teraspirasikan, apalagi ke komisi yang bukan ranahnya," lanjutnya.

Setelah itu para mahasiswa yang semula duduk berkeliling di halaman DPRD bersorak dan mulai membubarkan diri. Beberapa koordinator lapangan pun meminta mahasiswa mundur.

"Hari ini yang keluar komisi B, bukan komisi A, padahal tuntutan kita komisi A. Itu hanyalah branding agar kita di-framing akan berdiskusi. Tapi tidak ada DPR yang mau audiensi dengan kita. Kita semua tarik undur diri dan sampai jumpa dengan massa yang lebih besar lagi," kata Presiden BEM Polines, Kevin Kurnia Priambodo di atas mobil komando.

Para mahasiswa lantas menarik diri dari Jalan Pahlawan dan menuju ke kampus Undip Pleburan. Mereka sepakat akan melakukan aksi lanjutan.

Bakal Demo Lebih Besar

Koordinator Lapangan, Tegar Wijaya Mukhti menyebut aksi sore itu dimulai dari Kodim, Balai Kota Semarang, sampai akhirnya ke Gedung DPRD Jateng. Mereka menyoroti kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Bidang Eksternal, Andrie Yunus yang kini sudah dilimpahkan ke Puspom.

"Tuntutan kita di depan Kodim mengenai perpindahan antara kasus Andrie Yunus penyerangan air keras yang awal dipegang kepolisian tiba-tiba dilempar ke Puspom TNI," kata Tegar di Kampus Undip Pleburan, Kamis (9/4/2026).

"Ada tumpang tindih mengenai peradilan militer dan peradilan umum. Selanjutnya kita menuntut TNI atas segala representasinya kepada sipil dan masuk ke bidang sipil," lanjutnya.

Saat massa pindah ke gedung DPRD Jateng, kata Tegar, mahasiswa meminta agar anggota komisi A atau C DPRD Jateng hadir beraudiensi dengan mahasiswa.

"Seharusnya kita menemui Komisi A tentang peraturan legislatif atau Komisi C, namun yang keluar adalah Komisi B. Di mana tupoksinya perekonomian. Itu nggak masuk sama tuntutan kita," jelasnya.

Menurutnya, walk out tersebut menjadi bentuk independensi mahasiswa dan ketegasan mereka terhadap tuntutan yang dibawa dalam aksi sore itu.

"Ini menunjukkan sikap kita, independensi kita, kita datang dengan tupoksi yang sama, ya harusnya menemui yang sama. Biar kita nggak ada framing media atau apapun, mahasiswa masih independen atas semua tuntutan dan hasil konsolidasi kita," tegasnya.

Usai aksi sore ini diwarnai walk out, Tegar menyebut, mahasiswa akan kembali menggelar aksi dengan massa yang lebih nanyak.

"Kita akan melaksanakan (aksi) lagi, nanti kita mengkonsep lagi, kita akan demo lagi atau menyampaikan aspirasi kita lagi dengan fokus ke DPR," ujarnya.




(dil/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads