The Land of Java Man, Jurus Baru Sragen Jadi Ikon Dunia

Khofifah Azzahro - detikJateng
Rabu, 01 Apr 2026 08:00 WIB
Museum manusia purba Sangiran. (Foto: Wahyu/detikTravel)
Sragen -

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen terus berupaya memperkuat identitas daerah dengan menghadirkan branding 'The Land of Java Man' sebagai ikon baru bagi daerahnya. Langkah tersebut merupakan city branding yang menggabungkan konservasi, edukasi, dan promosi wisata.

Mengutip artikel ilmiah 'City Branding Berbasis Kearifan Lokal' oleh Revi Marta dam Imca Pero H., city branding adalah cara yang dilakukan sebuah kota atau daerah untuk membangun citra dan identitas yang kuat agar mudah dikenal oleh masyarakat.

Melalui city branding, sebuah daerah berusaha menonjolkan keunikan, keunggulan, dan karakter khas yang dimilikinya. Dengan begitu, kota tersebut dapat dikenal lebih luas, baik oleh masyarakat dalam negeri maupun oleh dunia internasional.

Lantas, apa itu 'The Land of Java Man' jurus baru yang digunakan Pemkab Sragen? Mari simak penjelasannya yang dirangkum dari artikel ilmiah 'Strategi Pengembangan Situs Manusia Purba Sangiran Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya' oleh Enny Mulyantari, dokumen 'Pengetahuan Prasejarah Sangiran Situs Prasejarah Dunia' karya Harry Widianto dan Iwan S.B., yang diterbitkan oleh Kemendikdasmen, laman Visit Jateng, serta laman LPPL Radio Publik Kabupaten Sragen.

Asal Muasal The Land of Java Man

'The Land of Java Man' dalam bahasa Indonesia berarti 'Tanah Manusia Jawa'. Julukan ini dimiliki oleh Kabupaten Sragen sebagai salah satu lokasi penting ditemukannya fosil manusia purba, tepatnya di daerah Sangiran yang terkenal sebagai kawasan utama ditemukannya fosil manusia purba jenis Homo erectus atau yang populer disebut dengan Java Man.

Istilah Java Man digunakan oleh para ilmuwan untuk merujuk pada fosil manusia purba yang pertama kali ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1891 di daerah Trinil, Jawa Timur. Kemudian, fosil Java Man juga banyak ditemukan di kawasan Sangiran Early Man Site yang berada di Sragen.

Adapun, lebih dari separuh koleksi fosil manusia purba dunia berasal dari wilayah Sragen. Banyaknya temuan temuan tersebut menjadikan Kabupaten Sragen memiliki peran penting dalam penelitian evolusi manusia.

Oleh karena itu, julukan 'The Land of Java Man' digunakan untuk memperkenalkan Kabupaten Sragen sebagai salah satu pusat sejarah kehidupan manusia purba yang memiliki nilai edukasi tinggi yang pantas dikenal oleh dunia.

The Land of Java Man, Langkah Pemkab Sragen Perkuat Identitas Sragen

Di tengah persaingan daerah dalam membangun citra dan daya tariknya, Pemerintah Kabupaten Sragen mulai menegaskan identitas yang berakar pada sejarah panjang melalui penguatan branding The Land of Java Man.

Dikutip dari Platform Instagram @dukcapilsragen, daerah yang berada di pinggiran Jawa Tengah ini ingin memperkenalkan dirinya sebagai daerah yang memiliki jejak penting dalam perjalanan peradaban manusia.

Bagi pemerintah daerah Sragen, identitas The Land of Java Man bukan hanya digunakan sebagai slogan promosi. Lebih dari itu, langkah ini menjadi salah satu upaya memperkuat karakter daerah sekaligus mewujudkan Sragen yang 'Berkemajuan dan Sejahtera'.

Identitas The Land of Java Man juga beberapa kali diangkat sebagai tema saat peringatan Hari Jadi Sragen, termasuk yang ke-279. Momen tersebut dimanfaatkan oleh Pemkab Sragen untuk memperkenalkan citra baru Sragen sebagai pusat peradaban atau rumahnya manusia purba Jawa.

Dengan identitas yang semakin jelas, Sragen diharapkan dapat dikenal tidak hanya sebagai wilayah administratif di Jawa Tengah, tetapi juga sebagai bagian penting dari kisah panjang evolusi manusia di dunia yang dapat mendorong peningkatan ekonomi.

Mengenal Situs Sangiran Early Man Site

Situs Sangiran Early Man Site merupakan kawasan arkeologi yang menyimpan berbagai peninggalan dari masa prasejarah. Di tempat ini ditemukan manusia purba, terutama Homo erectus, fosil hewan purba, alat-alat batu yang digunakan, hingga sisa-sisa budaya manusia purba. Sementara itu, letak museumnya berada di Jl. Sangiran Km. 4, Kebayanan II, Krikilan, Kec. Kalijambe, Kabupaten Sragen.

Selain itu, Sangiran juga memiliki keunikan berupa lapisan tanah atau stratigrafi yang tersusun secara berurutan tanpa terputus sejak sekitar jutaan tahun yang lalu. Susunan lapisan tanah tersebut menjadi sumber informasi penting bagi para peneliti untuk mempelajari proses evolusi manusia serta kondisi lingkungan purba pada masa lampau.

Potensi tersebut menjadikan Sangiran sebagai salah satu pusat penelitian paleoantropologi yang sangat penting, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang unik dan langka. Bahkan, telah diakui dunia setelah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1996.

The Land Java Man Menuju Ikon Dunia

Dengan pengakuan internasional sebagai warisan dunia, Sangiran bersama Pemkab Sragen memiliki peluang untuk menjadi destinasi wisata kelas dunia. Melalui jurus baru ini, dipercaya akan memberikan dampak luas bagi Kabupaten Sragen, di antaranya sebagai berikut:

1. Memperkenalkan Sragen ke tingkat internasional

Melalui branding ini, pemerintah daerah berharap nama Sragen dapat semakin dikenal oleh masyarakat global. Kekayaan temuan fosil manusia purba yang ada di wilayah Sangiran menjadi daya tarik utama yang dapat memperkuat posisi Sragen sebagai daerah yang memiliki peran penting dalam sejarah evolusi manusia.

2. Meningkatkan sektor pariwisata

Identitas 'The Land of Java Man' diharapkan mampu menarik minat wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Wisatawan dapat mengunjungi kawasan bersejarah seperti Sangiran Early Man Site yang dikenal sebagai salah satu situs manusia purba penting di dunia.

3. Menjadi pusat penelitian manusia purba

Sragen juga diharapkan semakin dikenal sebagai lokasi penting bagi penelitian arkeologi dan studi evolusi manusia. Kawasan Sangiran menyimpan lebih dari separuh temuan fosil manusia purba, terutama jenis Homo erectus yang memiliki nilai besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

4. Mendorong pengembangan pendidikan dan wisata edukasi

Situs prasejarah yang ada di wilayah Sragen dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran bagi pelajar, mahasiswa, dan peneliti. Melalui kunjungan langsung ke kawasan tersebut, masyarakat dapat memperoleh pengetahuan tentang kehidupan manusia purba dan perkembangan peradaban manusia di masa lampau.

5. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Dengan berkembangnya sektor pariwisata, diharapkan akan muncul berbagai peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Kehadiran wisatawan dan peneliti dapat mendorong pertumbuhan usaha lokal, seperti sektor jasa, perdagangan, hingga industri kreatif berbasis budaya dan sejarah.

Demikianlah penjelasan mengenai The Land of Java Man, jurus baru pemkab sragen jadi ikon dunia. Semoga bermanfaat, detikers!

Artikel ini ditulis oleh Khofifah Azzahro peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.



Simak Video "Siap-siap "War" Tiket Indonesia Vs Argentina Segera Dimulai"

(sto/aku)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork