Di sebuah kawasan di Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Sragen tersimpan jejak penting perjalanan manusia purba. Kawasan tersebut adalah situs Sangiran, yakni situs prasejarah yang dikenal sebagai lokasi penting untuk mempelajari evolusi manusia.
Situs Sangiran ini tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia. Di dalamnya, ditemukan banyak temuan fosil manusia purba. Dirujuk dari laman Pemerintah Jawa Tengah, situs ini bahkan menjadi cikal bakal Sragen menjadi daerah 'The Land of Java Man'.
Julukan tersebut menjadi branding baru Kabupaten Sragen sebagai tempat peradaban manusia purba dan menjadi pusat penelitian evolusi manusia. Temuan yang ada di kawasan ini menjadi konstribusi yang besar bagi nilai kemanusiaan dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Julukan 'The Land of Java Man' ini juga merujuk dari temuan manusia purba yang dikenal dengan sebutan Java Man (manusia Jawa). Dilansir dari laman Britannica, istilah ini digunakan untuk menyebut manusia purba jenis Homo erectus yang fosilnya juga ditemukan di Sangiran, Sragen.
Di balik julukan itu, tentu menyimpan sebuah kisah yang panjang mengenai perjalanan manusia purba. Lantas, bagaimanakah kisah manusia purba di Sangiran ini? Berikut uraiannya mengenai kisahnya.
Awal Penemuan Manusia Purba di Jawa
Dirangkum dari situs Sangiran, penelitian manusia Purba di Jawa bermula pada abad ke-18 ketika ilmuwan Belanda, Eugene Dubois melakukan penelitian di wilayah Jawa. Namun, sebelum itu, yakni pada tahun 1887, ia telah memulai penelitiannya terhadap fosil antara kera dan manusia berdasarkan teori 'missing link' Ernst Haeckel.
Sebab hasilnya yang tidak memuaskan, pada tahun 1891 ia mulai melakukan penggalian di Jawa, yakni di tepi Bengawan Solo, Trinil. Dalam penggaliannya itu, ia menemukan fosil atap tengkorak yang memiliki kapasitas volume otak 900 cc, kapasitas yang dimiliki antara kera dan manusia. Selain itu, ia juga menemukan tulang paha kiri yang diduga milik manusia yang berjalan tegak.
Fosil tersebut kemudian diberi nama Pithecanthropus erectus (manusia kera). Ia juga menyebut bahwa temuannya itu merupakan fosil manusia Jawa yang menjadi mata rantai dalam proses evolusi manusia.
Dilansir dari situs Britannica, fosil tersebut kemudian diklasifikasikan sebagai Homo erectus. Penemuan ini menjadi tonggak penting bagi penelitian manusia purba. Temuan Dubois ini juga membuka jalan bagi peneliti lain, seperti von Koeningswald untuk melakukan penelitian manusia purba yang lebih luas di Jawa.
Penelitian von Koenigswald di Sangiran
Setelah temuan Dubois, penelitian manusia purba di Jawa semakin luas dan berkembang. Masih dirujuk dari situs Sangiran, penelitian di Sangiran pertama kali dilakukan oleh P.E.C Schemuling pada tahun 1864 dengan penemuan fosil vertebrata.
Pada tahun 1932, penelitian itu kemudian dilanjutkan oleh G.H.R von Koenigswald. Berbekal pada peta geologi yang dibuat oleh L.J.C van Es, ia melakukan penelitian di daerah Ngebung. Lalu, pada tahun 1936, ia berhasil menemukan jejak manusia purba, yakni sebuah fosil rahang kanan dan disebut Sangiran 1.
Sepanjang penelitiannya dari tahun 1936 hingga tahun 1941, ia berhasil menemukan sejumlah tinggal hominim, yakni Sangiran 1 hingga Sangiran 7. Penemuannya terhadap beberapa fosil manusia purba ini kemudian diklasifikasikan sebagai Homo erectus.
Selain itu, ia juga menemukan fosil manusia purba lain yang kemudian disebut Meganthropus paleojavanicus, yang dianggap memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan Homo erectus. Dari temuannya inilah, Sangiran dikenal sebagai salah satu situs hominid paling penting di dunia.
Homo Erectus di Sangiran sebagai Gudang Fosil Dunia
Situs Sangiran merupakan situs yang berhasil merekam jejak manusia purba melalui fosil Homo erectus. Fosil Homo erectus yang ditemukan di Sangiran diperkirakan ada sejak 1,5 tahun juta tahun hingga 300.000 tahun yang lalu. Fosil ini disebut memiliki masa evolusi lebih dari 1 juta tahun dan telah menciptakan 2 tingkatan evolutif.
2 tingkatan evolutif dari Homo erectus yang berhasil ditemukan di Sangiran, adalah Homo erectus Arkaik dan Homo erectus Tipik. Homo erectus Arkaik merupakan tipe yang paling tua yang diyakini berasal dari tingkatan Plestosen bawah. Sementara Homo erectus Tipik adalah tipe yang paling dominan ada di Indonesia. Ia ditemukan dari tingkatan Plestosen tengah.
Fosil Homo erectus yang ditemukan di Sangiran ini menjadi kekayaan bagi dunia sebagai cerminan hidup manusia kera purba di masa lalu.
Sangiran sebagai Gudang Fosil Dunia
Penelitian yang dilakukan von Koenigswald membuktikan bahwa Sangiran merupakan kawasan yang sangat kaya akan fosil manusia, khususnya Homo erectus. Melalui penelitiannya, kawasa ini memberi gambaran mengenai kisah evolusi manusia sejak 1,5 juta tahun lalu.
Selain itu, di Sangiran ditemukan banyak temuan Homo erectus. Berdasarkan informasi dari situs Sangiran, terdapat lebih dari 100 individu Homo erectus yang ditemukan di sini. Dalam jumlah ini, situs Sangiran memberikan 50% kontribusi terhadap populasi temuan fosil Homo erectus di dunia.
Di Sangiran juga ditemukan berbagai fosil-fosil hominid, artefak, dan fosil fauna yang hidup pada masa yang sama dengan manusia purba. Dengan demikian, kini situs Sangiran tidak hanya menjadi tempat penelitian fosil, tetapi juga menjadi pusat edukasi. Temuan-temuan ini membantu para peneliti maupun masyarakat luas dalam memahami perkembangan manusia purba.
Dari sebuah daerah di Jawa Tengah, Sangiran telah memberikan kontribusi besar bagi dunia sebagai gudang fosil manusia purba. Julukan "The Land of Java Man" menjadi simbol bahwa dari tanah di Jawa inilah, kisah evolusi manusia purba ditemukan.
The Land of Java Man, Langkah Pemkab Perkuat Identitas Sragen
Pemerintah Kabupaten Sragen sendiri menggunakan istilah 'The Land of Java Man' untuk memperkuat identitas daerah. Berdasarkan informasi dari Instagram resmi @dukcapilsragen, istilah ini dimaknai sebagai penegasan bahwa Sragen merupakan bagian dari pusat peradaban manusia, sekaligus dianggap sebagai 'rumahnya manusia Jawa'. Melalui istilah tersebut, Sragen tidak hanya dipandang sebagai wilayah administratif, tetapi juga sebagai daerah yang menyimpan sejarah panjang dalam perjalanan evolusi manusia baik di Indonesia maupun di kancah dunia.
Makna tersebut kemudian menjadi modal penting bagi pemerintah daerah untuk mendorong pembangunan menuju Sragen yang berkemajuan dan sejahtera. Di usia Kabupaten Sragen yang ke-279 tahun, masyarakat diajak untuk menumbuhkan rasa bangga sebagai warga Sragen serta bersatu dalam membangun daerah.
Dengan penguatan identitas 'The Land of Java Man', Sragen juga secara langsung menegaskan posisinya sebagai daerah yang memiliki nilai sejarah besar. Hal ini diperkuat melalui keberadaan Situs Sangiran yang berperan sebagai gudang fosil dunia dari bukti penemuan manusia purba jenis Homo erectus serta lainnya. Dengan demikian, istilah 'The Land of Java Man' tidak hanya mencerminkan identitas daerah Sragen saja, tetapi juga menjadi kontribusi dari Sragen untuk perkembangan dunia.
Artikel ini ditulis oleh Desi Rahmawati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
(sto/aku)











































