Bayi Pertama dalam 17 Tahun Lahir, Desa di Korsel Bergembira

Internasional

Bayi Pertama dalam 17 Tahun Lahir, Desa di Korsel Bergembira

Hestianingsih Hestianingsih - detikJateng
Minggu, 29 Mar 2026 18:01 WIB
Kelahiran Bayi Pertama di Desa Eunha setelah 17 tahun.
Kelahiran Bayi Pertama di Desa Eunha setelah 17 tahun. Foto: Dok. Koreatimes
Solo -

Sebuah desa di Korea Selatan (Korsel) menyambut girang kelahiran seorang bayi pada Maret ini. Bukan kelahiran biasa, bayi itu merupakan bayi pertama yang lahir di Eunha, sebuah desa di Distrik Hongseong, dalam 17 tahun terakhir.

Dilansir Wolipop Sabtu (28/3/2026), tangisan bayi yang diberi nama Yong-jun itu begitu melegakan penduduk setempat. Pasalnya, hampir dua dekade terakhir tidak ada kelahiran yang tercatat di Eunha.

Begitu kabar lahirnya Yong-jun berhembus, jalanan desa yang biasanya lengang mendadak dipenuhi spanduk ucapan selamat. Masyarakat di Eunha menyambutnya sebagai 'warga spesial', simbol positif bagi komunitas setempat yang sudah lama khawatir akan masa depan mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu spanduk yang terpasang berbunyi, "Hadiah bermakna hadir untuk kami di tahun 2026. Selamat atas kelahiran bayi Yong-jun."

ADVERTISEMENT

VN Express memberitakan, Yong-jun merupakan putra dari pasangan Jeong Hae-deok dan SYardani, wanita kelahiran Kamboja yang kini menetap di Eunha. Kehadirannya tak hanya disambut sebagai anggota keluarga baru, tetapi juga titik terang bagi komunitas yang perlahan menyusut.

Dalam satu dekade terakhir, populasi Eunha turun dari lebih dari 2.600 menjadi di bawah 2.000 jiwa. Sebagian besar penduduknya adalah lansia, sementara angka kelahiran nyaris tak ada.

Kebahagiaan warga makin lengkap karena pada bulan yang sama, satu-satunya sekolah dasar di sana menerima empat siswa baru untuk Kelas 1. Kecil memang, namun begitu berarti bagi kelangsungan desa.

Perangkat desa setempat, Shim Seon-ja, menyatakan lahirnya Yong-jun menjadi kebahagiaan terbesar warga desa setelah bertahun-tahun tidak ada tangisan bayi.

"Kami berkomitmen memberikan dukungan administratif dan kesejahteraan semaksimal mungkin, agar tempat ini tidak hanya menjadi desa yang damai, tetapi juga lingkungan terbaik untuk membesarkan anak," ujarnya.

Kelahiran bayi pertama setelah 17 tahun di Eunha menjadi potret kecil dari persoalan yang lebih besar di Korea Selatan. Negara tersebut tengah menghadapi krisis demografi serius, dengan angka kelahiran yang terus menurun.

Pada 2023, tingkat kelahiran Korea Selatan tercatat hanya 0,72-terendah di dunia dan jauh di bawah angka ideal 2,1 untuk menjaga populasi tetap stabil. Sementara itu, jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas kini mencapai lebih dari 21% dari total populasi, menempatkan negara ini dalam kategori 'super-aged society'.

Berbagai kebijakan telah digulirkan pemerintah, mulai dari bantuan finansial, fasilitas penitipan anak gratis, hingga kemudahan akses hunian bagi pasangan muda. Semuanya demi mendorong angka kelahiran.



(apu/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads