Konon ada sebuah paseban (balai) di Desa Jungsemi, Kendal yang digunakan untuk tempat pertemuan Sultan Agung dengan adipati, tumenggung, dan pembesar kerajaan Mataram Islam. Hingga kini, cerita itu masih dipercaya masyarakat sekitar.
"Kalau diurut ceritanya sejak dulu itu, memang ada jejak Mataram Islam di kabupaten Kendal, khususnya di Desa Jungsemi ini. Salah satu tempat di Jungsemi ini dulunya sebagai tempat pertemuan atau paseban Raja Sultan Agung dengan seluruh tumenggung, adipati se-Jawa bersama panggedhenipun (pemimpin) Mataram," kata Juru Kunci Makam Kemangi, Kiai Kasturi kepada detikJateng di rumahnya, Rabu (25/03/2026).
Tempat yang dijadikan untuk paseban oleh Sultan Agung dengan para adipati dan tumenggung se-Jawa dikenal dengan nama Paseban Kemangi yang letaknya di hutan Kemangi. Paseban Kemangi digunakan Sultan Agung dalam rangka mengatur strategi penyerangan Mataram terhadap VOC Belanda di Batavia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namanya Paseban Kemangi atau yang sekarang lebih dikenal masyarakat sebagai Makam Kemangi. Paseban Kemangi dulunya digunakan Sultan Agung dengan para tumenggung dan adipati untuk mengatur strategi penyerangan Mataram terhadap VOC Belanda di Batavia," kata Kiai Kasturi.
Pemilihan lokasi paseban ini merupakan saran dari Sokerto Wongso Dikromo, seorang pendiri desa Jungsemi atau lebih dikenal dengan nama Mbah Laistiddin. Selain itu, Tumenggung Bahurekso yang saat itu menjabat sebagai Bupati Kendal pertama juga menyarankan hal yang sama.
"Dipakainya hutan Kemangi sebagai paseban itu atas saran dari Sokerto Wongso Dikromo yang merupakan pendiri Desa Jungsemi dan juga atas saran Bupati Kendal pertama, Tumenggung Bahurekso," jelasnya.
Sebagai seorang prajurit Mataram yang setia pada Sultan Agung, Sokerto kembali ikut berjuang melawan VOC Belanda dengan memberikan segala informasi gerak-gerik penjajah Belanda kepada kerajaan Mataram Islam dan Tumenggung Bahurekso selaku Bupati Kendal pertama.
"Sebagai seorang prajurit yang setia, dia akhirnya kembali ikut dalam perang melawan penjajah VOC. Dia sering menyamar untuk mendapatkan informasi gerak-gerik Belanda yang kemudian informasi tersebut diberikan Sultan Agung dan Tumenggung Bahurekso," paparnya.
Kasturi menuturkan Sokerto yang memiliki kekuatan spiritual dan supranatural, kemudian memilih dalam hutan belantara tersebut sebagai tempat yang cocok untuk Paseban Sultan Agung dalam mengatur strategi perang melawan VOC di Batavia.
Menurut, Kiai Kasturi, di area paseban itu tercium aroma wangi. Oleh karena itu, Sokerto menamakan paseban itu dengan nama Kemangi.
"Dari bau wewangian di sekitar hutan itu maka Sokerto atau Mbah Laistiddin menamainya dengan nama Kemangi," katanya.
Tak ada penampakan asli seperti apa bentuk Paseban Kemangi tersebut. Menurut Kiai Kasturi, paseban kemangi tersebut disembunyikan Mbah Laistiddin dengan kekuatan supranaturalnya saat Sultan Agung menggelar rapat besar.
Mbah Laistiddin disebut memasang lima bijih besi di sekitar lokasi paseban yang fungsinya untuk membentengi pertemuan tersebut dan tidak ada yang bisa melihat pertemuan tersebut.
Untuk itulah, Mbah Laistiddin juga dikenal dengan nama Rajekwesi yang artinya Pagar Besi.
"Mbah Laistiddin kan punya ilmu supranatural jadi begitu ada pertemuan tersebut beliau langsung pasang lima bijih besi di sekitar hutan kemangi. Tujuan beliau pasang lima biji besi gaib itu untuk membentengi pertemuan itu, sehingga tidak ada yang bisa melihat pertemuan tersebut termasuk pihak penjajah. Kemudian dia dikenal dengan nama Rajekwesi, " ucapnya.
Pagar besi ini dipercaya memiliki kekuatan magis yang membuat oyot mimang (akar mistis dalam kepercayaan Jawa), sehingga pihak penjajah kebingungan mencari lokasi pertemuan tersebut.
"Pager wesi niku (pagar besi itu) kan gaib yang membuat oyot mimang. Jadi, barang siapa ada orang yang ingin berbuat jahat seperti Belanda, mereka akan kebingungan mencari lokasi pertemuan tersebut," katanya.
Dari situlah jejak sejarah Mataram Islam ada di Kendal, meski sejarah otentik tidak pernah mencatatnya.
"Memang tidak ada catatan tertulis dalam sejarah bahwa Sultan Agung pernah ke Kemangi. Tidak ada bukti otentiknya," ujarnya.
Bahkan, tidak ada bukti peninggalan sejarah yang menunjukkan di hutan Kemangi pernah dijadikan paseban Sultan Agung bertemu dengan tumenggung hingga adipati se-Jawa.
"Kalau dulu mungkin di hutan Kemangi ada bukti bangunannya, tapi karena ada unsur gaibnya itu akhirnya wujud bangunannya tertutup," pungkasnya.
Kemangi yang dulunya berwujud hutan dan dijadikan sebagai paseban Sultan Agung, kini berubah menjadi tempat pemakaman umum Desa Jungsemi.
Namun, pohon-pohon besar dan makam Mbah Laistiddin menjadi saksi sejarah keberadaan Kemangi.
