Polisi masih mencari penjual bahan petasan yang menyebabkan ledakan hingga menewaskan seorang bocah di Gayamsari, Kota Semarang. Polisi menyebut korban sebelumnya membeli 1 kilogram (kg) bahan petasan via online seharga Rp 300 ribu.
"G (korban) ini kan membeli dari TikTok Shop, kita sedang berupaya mendalami di mana penjualnya, siapa pemasok petasan tersebut," ujar Kapolrestabes Semarang, Brigjen Syahduddi, saat ditemui wartawan di Semarang, Senin (23/3/2026).
Ia menyebut, penyidik saat ini masih melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi pihak yang menjual bahan petasan tersebut secara daring. Selain itu, polisi juga telah memeriksa sejumlah saksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Polisi telah memeriksa enam orang saksi untuk menelusuri sumber bahan petasan tersebut.
"Enam saksi itu mulai dari pemilik rumah, nenek, orang tuanya, termasuk beberapa warga yang tinggal di sekitar kediaman korban," kata Syahduddi.
Dari hasil pemeriksaan sementara, lanjutnya, diketahui bahan petasan yang dibeli seberat sekitar 1 kilogram. Barang tersebut dibeli korban dengan harga sekitar Rp 300 ribu dan dibeli tanpa sepengetahuan keluarga.
"Pengakuannya kan dia membeli barang 1 kg, harganya Rp 300 ribu dibayar neneknya. Ngakunya paket minyak goreng, makanya nggak tahu kalau ternyata itu bahan peledak berbahaya," ungkapnya.
Sebelumnya diberitakan, ledakan diduga bubuk petasan terjadi di Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang. Ketua RW 9 Tambakrejo, Ahmad Rifa'i, ledakan terjadi sekitar pukul 01.00 WIB dini hari tadi.
"Saya pulangnya jam 1, ada laporan rumahnya Ibu Rondiyah itu meledak. Terus saya ke sini," ungkap Rifa'i kepada awak media saat dijumpai di lokasi kejadian, Jumat (20/3/2026).
Saat dia sampai di lokasi, warga telah masuk ke rumah milik Rondiyah. Dia melihat seisi rumah telah hancur akibat ledakan.
"Ternyata di dalam itu sudah pada hancur semua," terangnya.
Dari informasi yang diterimanya, Rifa'i menerangkan, rumah milik Rondiyah hancur akibat ledakan petasan. Dia mengatakan, petasan tersebut dibeli secara daring.
"Petasan itu beli secara online. Bilangnya itu 5 ons ditaruh di toples di bawah magicom, meledak, (suara) kencang," terangnya.
Akibat ledakan tersebut, seorang bocah bernama Gilang (9) meninggal dunia. Adapun penghuni lainnya, termasuk Rondiyah selamat.
"Di samping itu, sekitar jam 02.00 ada satu anak yang belum diketahui makanya dicari, kebetulan warga menemukan. Satu anak yang belum ditemukan itu dalam keadaan meninggal dunia. Usianya 9 tahun, kelas 3. Diduga (meninggal) kena ledakan dari, menurut informasi, petasan," tuturnya.
"Yang luka-luka tidak ada, cuma korban meninggal namanya Gilang Satria Perkasa. Waktu ditemukan posisi di bawah meja makan. Yang lain keluar," lanjutnya.
