Perpindahan kebun binatang (bonbin) Tinjomoyo ke Bonbin Mangkang menyisakan banyak kenangan bagi warga Kota Semarang. Salah satu momen yang diingat saat gajah-gajah dari kebun binatang itu diarak berjalan kaki ke lokasi kebun binatang yang baru.
Salah satu warga setempat, Mardiyah (70), masih mengingat momen pemindahan kebun binatang pada tahun 2007 itu. Dia menyebut pemindahan satwa koleksi kebun binatang dilakukan pada malam hari.
"Dulu gajahnya jalan kaki dari sini ke Mangkang, bersama pawangnya, pelan-pelan. Pas itu malam-malam, pas jalanan sepi," ujar Mardiyah kepada detikJateng saat ditemui di rumahnya, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Semarang, Senin (9/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mardiyah mengaku dulu menjadi salah satu pedagang yang mengais rezeki di masa keemasan Bonbin Tinjomoyo. Pada masa-masa itu, Bonbin Tinjomoyo ramai dikunjungi wisatawan.
"Kalau dulu waktu masih jadi bonbin saya jualan di sana. Ya sampai sekarang, cuma sekarang puasa jadi jualan di rumah," terangnya.
Suasana terkini Hutan Wisata Tinjomoyo Semarang. Foto diambil Senin (9/3/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Saat kebun binatang dipindah ke Mangkang, aktivitas ekonomi warga pun ikut menurun. Kini hanya tinggal beberapa pedagang yang masih berjualan di Tinjomoyo. Itu pun hanya saat ada acara seperti kemah atau trekking.
"Dulu ramai sekali. Saya jualan sampai malam kalau ada acara atau kemah. Kalau Lebaran malah panen pembeli," lanjutnya.
Kenangan tentang pemindahan satwa-satwa Bonbin Tinjomoyo itu juga masih terekam jelas di ingatan warga Semarang Tengah, Umar (48). Dia menyebut gajah-gajah yang diarak menuju ke Bonbin Mangkang itu tampak kurus.
"Jadi dulu pas pemindahannya itu gajahnya diarak dari Tinjomoyo ke Mangkang, setahuku dulu jalannya malam, biar nggak mengganggu arus lalu lintas," ucapnya.
"Dulu gajahnya kurus-kurus, kayak nggak kerumat (diurus), mungkin karena untuk operasional kebun binatang mahal," lanjutnya.
Ia bercerita dulunya kawasan Tinjomoyo terasa lebih sejuk dan alami saat dijadikan kebun binatang. Perpindahan Bonbin Tinjomoyo ke Mangkang ini disebut karena imbas banjir bandang di Kali Garang awal 2000-an. Terakhir kali, ia berkunjung ke Bonbin Tinjomoyo sekitar 2003 bersama keponakannya.
"Dulu adem banget di sana, cocok buat edukasi anak-anak. Aksesnya juga lebih dekat dari pusat kota dibanding kalau ke Mangkang, kalau yang sekarang di Mangkang kan jauh dan panas," ujarnya.
Suasana Hutan Wisata Tinjomoyo Semarang yang kini menjadi tempat trekking. Foto diambil Senin (9/3/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Kenangan tentang arak-arakan gajah itu pun juga diingat Fariz (35). Warga Semarang Utara ini mengingat kedatangan gajah itu di Bonbin Mangkang juga disambut anak-anak sekolah.
"Waktu pemindahan itu gajahnya ada yang yang disuruh jalan. Anak-anak sekolah dulu itu juga disuruh menyambut gajah di Mangkang," ujar Fariz.
Dia mengaku sering piknik sekolah ke Tinjomoyo pada era 90-an. Kala itu piknik ke Bonbin Tinjomoyo menjadi hal yang sangat dinantikan.
"Dulu waktu SD sekitar tahun 1996 pernah study tour ke sana. Lahannya di sana gede banget, ada sungainya juga gede. Hewannya juga lebih lengkap dibanding yang sekarang di Mangkang," kata Fariz.
Lahan yang luas itu, kata Fariz, tak jarang membuat pengunjung tersesat. Namun, hal itu tak membuat Fariz kapok, dan tetap kembali berkunjung ke Tinjomoyo beberapa kali.
"Dulunya sebelum di Tinjomoyo itu bonbinnya di Tegal Wareng, dekat Wonderia. Awal-awal sekolah study tour ke Tegal Wareng, terus gurunya bilang 'ayo study tour ke Tinjomoyo, bonbinnya dipindah ke Tinjomoyo'," ujarnya.
Kini kawasan Tinjomoyo disulap menjadi hutan wisata. Kawasan itu masih dikelilingi pepohonan rindang dan asri.
Namun, masih terlihat jejak-jejak Bonbin Tinjomoyo yang sempat menjadi destinasi favorit warga Semarang. Misalnya dari patung satwa hingga shelter yang kini sudah rusak.


