Ternyata Ada Kandang Ayam Modern di 'Kampung Mati' Gunung Tugel Banyumas

Ternyata Ada Kandang Ayam Modern di 'Kampung Mati' Gunung Tugel Banyumas

Anang Firmansyah - detikJateng
Minggu, 22 Mar 2026 15:38 WIB
Penampakan kandang ayam closed house di kampung mati Gunung Tugel, Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Senin (9/3/2026).
Penampakan kandang ayam closed house di 'kampung mati' Gunung Tugel, Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Senin (9/3/2026). Foto: Anang Firmansyah/detikJateng
Banyumas -

Sebutan 'kampung mati' di kawasan Gunung Tugel, Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, ternyata tidak sepenuhnya tepat. Di kompleks yang terkesan sunyi itu ternyata ada tiga kandang closed house berkapasitas puluhan ribu ekor ayam.

Kampung mati' di kawasan Gunung Tugel ini memang sekilas tampak sepi dan tak terurus dari luar. Di sekitar lokasi juga tidak terlihat permukiman warga, sehingga kesan sepi semakin terasa.

Namun di balik kesan angker tersebut, ternyata kawasan milik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto ini tidak benar-benar kosong. Di dalam area tersebut, aktivitas pengelolaan lahan masih berjalan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama dan Hubungan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Waluyo Handoko, mengatakan lahan di kawasan tersebut saat ini mulai dimanfaatkan kembali secara lebih maksimal.

"Saat ini sebagian lahan dipakai untuk kegiatan laboratorium pertanian. Tapi yang paling besar dimanfaatkan untuk kandang ayam sistem close house," kata Waluyo saat dihubungi detikJateng, Senin (9/3/2026).

ADVERTISEMENT

Di area tersebut kini telah berdiri tiga unit kandang ayam modern dengan kapasitas yang cukup besar. "Sekarang sudah ada tiga kandang closed house dengan kapasitas sekitar 80 ribu ekor," jelasnya.

Menurut Waluyo, pemanfaatan lahan di kawasan Gunung Tugel mulai dioptimalkan kembali sejak 2018. Saat itu Unsoed mulai mendorong pengembangan unit usaha kampus melalui Badan Pengembangan Usaha (BPU).

"Memang sempat kosong dan kurang terkelola. Sekitar tahun 2018 kami mulai optimalkan kembali saat saya masih di BPU," ujarnya.

Selain pengembangan peternakan ayam modern, kawasan tersebut juga sempat dimanfaatkan untuk budidaya berbagai komoditas perkebunan.

"Kami juga menanam kopi dari bibit unggul PTPN dan kelapa genjah," kata dia.

Waluyo mengakui, dari tampilan depan kawasan itu memang terlihat seperti tidak terurus. Namun aktivitas sebenarnya justru berada di bagian dalam area.

"Kalau dilihat dari depan memang kelihatannya seperti tidak disentuh. Tapi sebenarnya di belakang dimanfaatkan cukup optimal," jelasnya.

Selain untuk kegiatan usaha, lahan tersebut juga digunakan sebagai lokasi praktikum bagi mahasiswa, khususnya dari Fakultas Pertanian Unsoed.

Rencananya kawasan Gunung Tugel bahkan akan kembali dikembangkan melalui kerja sama dengan pihak swasta.

"Di bagian depan rencananya akan dibangun kerja sama antara BPU dengan salah satu perusahaan untuk perakitan mesin," ujarnya.

Dengan berbagai aktivitas yang berjalan tersebut, Waluyo berharap stigma 'kampung mati' yang selama ini melekat pada kawasan Gunung Tugel bisa berubah.

"Bukan kampung mati lagi, tapi kampung yang hidup kembali. Ada bisnis kandang ayam, laboratorium pertanian, dan kerja sama dengan swasta," pungkas Waluyo.




(dil/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads