Ketika Ebiet G Ade Menemukan Lolong di Pekalongan

Ketika Ebiet G Ade Menemukan Lolong di Pekalongan

Robby Bernardi - detikJateng
Sabtu, 21 Mar 2026 10:55 WIB
Jembatan Desa Lolong di Kabupaten Pekalongan, insipirasi lagu Lolong Ebiet G Ade.
Jembatan Desa Lolong di Kabupaten Pekalongan, insipirasi lagu Lolong Ebiet G Ade. Foto diunggah Sabtu (21/3/2026). (Foto: Robby Bernardi/detikJateng)
Pekalongan -

Jembatan batu di sebelahku diam
Pancuran bambu kecil memercikkan air
Menghempas di atas batu hitam
Merintih menikam sepi pagi

Baris kalimat itu merupakan syair lagu dari penyanyi legendaris Ebiet G Ade, yang berjudul Lolong. Tak banyak tahu, Lolong yang populer di tahun 1970-an ini terinspirasi dari sebuah desa kecil di Kabupaten Pekalongan.

Lolong diciptakan Ebiet saat berkunjung ke Desa Lolong, di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Desa Lolong menyimpan kisah menarik yang tak banyak diketahui orang. Alam asri berpadu dengan sebuah jembatan batu melengkung, memantik inspirasi Ebiet untuk menuangkannya ke dalam lagu.

Lolong dirilis dan digilai banyak penggemar. Syair lagu Lolong pun kini diabadikan di lokasi jembatan melengkung itu.

ADVERTISEMENT

Kaur Umum Desa Lolong, Mujahidin (46), menceritakan penyanyi sekaligus pencipta lagu tersebut pernah datang langsung ke desa mereka sekitar tahun 1976. Ia mendapatkan cerita itu dari keluarganya yang lebih tua.

Di tahun 2013, Ebiet G Ade, juga kembali ke Lolong untuk kembali mengenang dan menghadir acara festival durian.

"Dulu Ebiet G Ade pernah ke sini, menyanyikan lagu dan menciptakan lagu itu. Judulnya iya sama dengan nama desa, yakni Lolong," ujar Mujahidin, saat ditemui di Balai Desa Lolong, Senin (9/3/2026).

Desa Lolong memang memiliki keindahan alam yang memikat. Terutama sungai yang jernih serta jembatan tua yang melengkung, yang menjadi salah satu daya tarik utama desa tersebut. Jembatan tersebut bahkan telah menjadi ikon desa.

Mujahidin menjelaskan, Jembatan Batu Lolong atau jembatan melengkung berukuran panjang lebih dari 40 meter dan lebar 3 meter itu dibangun pada masa penjajahan Belanda tahun 1912 menjadi icon desa Lolong. Jembatannya panjang, sehingga membutuhkan struktur yang mampu menahan beban tanpa penyangga di tengah.

"Kalau melengkung itu titik bebannya ada di pinggir-pinggir, karena kanan kirinya batu. Karena itu jembatannya selain dikenal dengan jembatan melengkung juga dikenal dengan jembatan batu. Dibangun di jaman Belanda," jelasnya.

Dari pengamatan di lapangan, jembatan tersebut memang nampak melengkung. Tidak ada penyangga di tengahnya. Hanya ada batu besar di kanan kirinya. Tidak heran banyak warga menyebutnya Jembatan Batu atau Jembatan Melengkung.

Hingga saat ini, jembatan tersebut masih berfungsi. Bahkan, belum sama sekali di rubah dari bentuk aslinya.

Di masa lalu, jembatan tersebut merupakan jalur utama satu-satunya untuk aktivitas ekonomi masyarakat. Pedagang dari wilayah Banjarnegara dan Kalibening biasa melintasi jalur ini untuk menuju Pasar Wonopringgo guna menjual hasil bumi maupun ternak.

Namun sejak sekitar tahun 2000, jembatan tersebut tidak lagi dapat dilalui kendaraan roda empat. Saat ini aksesnya hanya bisa digunakan oleh sepeda motor.

"Dulu jembatan itu akses satu-satunya ke Banjarnegara. Namun, karena kian tua, untuk kendaraan roda empat sudah dilarang melintas. Terlebih ada jalan baru untuk ke Banjarnegara tidak melintas jalan itu. Sekarang yang boleh hanya kendaraan roda dua," jelasnya.

Selain memiliki nilai sejarah, Desa Lolong juga dikenal sebagai sentra durian. Sekitar 80 persen lahan di desa tersebut ditanami pohon durian.

Mujahidin mengatakan, daya tarik utama wisata Lolong justru terletak pada keaslian alamnya yang masih terjaga. Air sungai di wilayah itu masih jernih seperti puluhan tahun lalu.

Meski demikian, ia mengakui debit air sungai kini cenderung berkurang dibandingkan masa lalu karena jumlah sumber mata air yang semakin sedikit.

"Kalau airnya masih jernih seperti dulu, cuma debitnya saja yang berkurang, saya rasakan bila dibandingkan saat saya masih kecil," ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, kunjungan wisatawan ke Lolong juga terus meningkat. Jika dulu pengunjung hanya ramai pada akhir pekan, kini hampir setiap hari wisatawan datang menikmati suasana alam desa tersebut.

"Dulu pengunjung hanya Jumat, Sabtu, Minggu. Sekarang hampir tiap hari ada saja yang datang," kata Mujahidin.

Sementara itu, Rohadi (62) warga setempat, menjelaskan banyak warga di luar yang antusias melihat jembatan batu atau jembatan melengkung sebagai lokasi Ebiet, menciptakan lagu.

"Ya, kalau ke sini, pasti pada nanya, dimana jembatan batu itu," ungkapnya.

Seingat Rohadi, selain tahun 1976, Ebiet G Ade juga datang ke lokasi itu di tahu.ln 2009 dan tahun 2013 saat festival durian.

"Jadi selain tahun 76, beliau datang di tahun 2009 dan 2013, seingat saya itu," ucapnya.

Ya Lolong tidak hanya bicara soal keindahan alam belaka, namun juga keramahan warga setempat dan tempat inspirasi.

Ia berharap potensi wisata di Desa Lolong bisa terus berkembang, sekaligus tetap menjaga kelestarian alam yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.




(aku/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads