Taman Istana Majapahit Semarang, Riwayatmu Kini...

Taman Istana Majapahit Semarang, Riwayatmu Kini...

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Jumat, 20 Mar 2026 20:37 WIB
Taman Istana Majapahit yang selalu tertutup, di Jalan Majapahit, Kelurahan Gemah, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Minggu (8/3/2026).
Taman Istana Majapahit yang selalu tertutup, di Jalan Majapahit, Kelurahan Gemah, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Minggu (8/3/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Taman Istana Majapahit yang dulu menjadi tempat rekreasi murah meriah kini sudah berhenti beroperasional dan terbengkalai. Tempat yang dulu ramai pengunjung itu pun sudah dipenuhi pepohonan.

Pantauan detikJateng di bekas Taman Istana Majapahit, di Jalan Majapahit, Kelurahan Gemah, Kecamatan Pedurungan, gerbang depan tertutup rapat. Gerbang berwarna biru muda digembok sepanjang hari, tak memperbolehkan siapapun masuk.

detikJateng berusaha mendapatkan izin untuk memasuki bekas tempat hiburan tersebut. Sayangnya, tempat itu selalu tutup. Gudang di samping taman juga selalu tutup dan tak terlihat ada aktivitas apapun. Patung Punakawan di sekitarnya bak menjadi penjaga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu warga setempat, Nur (57), bercerita tempat itu selalu tutup selama bertahun-tahun. Menurut yang ia ketahui, tempat itu kini sudah dipenuhi pepohonan rimbun yang tak terawat.

ADVERTISEMENT

"Sudah terbengkalai sekarang di sana. Banyak ditumbuhi pohon-pohon besar, sudah kayak hutan," kata Nur kepada detikJateng di lokasi, Selasa (10/3/2026).

Menurutnya, tak ada siapa pun yang diperbolehkan memasuki bekas taman tersebut.

"Kalau dari yang saya lihat di medsos juga kayak horor karena kan itu besar lahannya, tapi malah nggak dipakai. Mainannya juga sudah rusak," ungkapnya.

Hal senada dikatakan warga setempat lainnya, Sriyanti (55). Ia menyebut, tempat tersebut sudah lama berhenti beroperasional.

"Sudah lama sekali, sudah sekitar 20 tahunan tutupnya. Sekarang siapa pun nggak boleh masuk, pernah ada anak-anak sekolah mau buat pembelajaran atau penelitian juga nggak boleh," kata Sriyanti kepada detikJateng.

Sriyanti mengatakan, gerbang di Taman Istana Majapahit selalu tertutup setiap waktu. Pernah sekali waktu ia menumpang masuk untuk meminta air. Dari yang ia lihat, tempat itu sudah bukan lagi taman rekreasi.

"Sudah tinggal pohon-pohon saja. Mainannya juga sudah pada hilang. Kebetulan saya nggak pernah masuk saat masih jadi tempat hiburan, jadi nggak bisa membandingkan dengan dulu seperti apa," ungkapnya.

"Tapi di dalamnya itu benar-benar sudah nggak terurus, pepohonannya sangat rindang. Ada kayak gazebo juga sudah rusak," lanjut Sriyanti.

Meski sudah lama terbengkalai, kenangan bermain di taman tersebut masih melekat bagi sebagian warga yang sempat menghabiskan masa kecilnya di sana. Salah satunya Reren Diani (42).

"Terakhir kali saya ingat itu sekitar tahun 1990-an awal masih kelas 3 SD. Biasanya tiap akhir pekan ibu saya sering ajak saya dan adik saya ke Istana Majapahit, naik angkot. Penuh kenangan padahal rumah kami jauh dari Istana Majapahit," kata Reren.

"Seingat saya, di zaman itu Istana Majapahit termasuk tempat wisata yang ramai dan banyak pengunjung. Mengingat tahun segitu belum banyak tempat wisata di Kota Semarang," lanjutnya.

Reren mengatakan, kenangan paling membekas yaitu saat dirinya kerap berenang di Taman Istana Majapahit. Ia mengaku pernah tenggelam dan trauma berenang di Istana Majapahit.

"Kenangan paling membekas waktu renang, saya naik perosotan di kolam renangnya, nggak tahu gimana tiba-tiba terduduk di dasar kolam, tapi setengah sadar aku masih bisa mikir 'kayaknya aku tenggelam'," ujarnya.

"Lupa bagaimana kejadiannya, seperti ada dorongan untuk naik ke permukaan, alhamdulillah bisa naik dan selamat. Sejak kejadian itu, ibu saya nggak pernah ajak ke sana lagi," sambungnya.

Ia juga mengaku sangat rindu momen bermain ke Taman Istana Majapahit. Namun, kini setiap melintas di sana ia justru merinding dan teringat kenangan tenggelam di Taman Istana Majapahit.

"Rasa kangen pasti ada, sampai sekarang kalau lewat di bekas lokasi masih ingat memori masa lalu, tapi menyimpan trauma tenggelam juga, jadi kadang kalau lewat merinding juga," ujarnya.

Sementara Dani (41), warga asal Klipang, Kecamatan Tembalang, juga memiliki kenangan tersendiri di sana. Dani yang kini sudah tinggal di Ungaran, Kabupaten Semarang itu mengaku terakhir kali datang ke Taman Istana Majapahit sekitar tahun 1995 saat masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Waktu itu kelas 4 SD, sekitar tahun 1995. Aku sering ke sana sama teman-teman, dulu sekolahku kan dekat situ," kata Dani kepada detikJateng.

Menurutnya, taman hiburan tersebut kerap menjadi tempat singgah anak-anak sepulang sekolah. Apalagi lokasi sekolah Dani juga tak jauh dari kawasan tersebut.

"Kalau pulang sekolah, apalagi hari Sabtu kan pulangnya gasik (lebih cepat). Biasanya pulang terus naik bus, turun di situ, terus mampir main," ujarnya.

Dani mengingat, harga tiket masuk taman tersebut cukup terjangkau. Saat itu, pengunjung hanya perlu membayar sekitar Rp 1-2 ribu saja. Sementara untuk berenang, tiketnya hanya Rp 5 ribu.

"Murah banget masuknya, cuma Rp 1-2 ribu karena masih siswa. Namanya anak kecil dulu paling suka ya mainan ayunan, sama perosotan," kenangnya.

Di dalam taman, kata Dani, terdapat berbagai wahana permainan sederhana yang menjadi favorit anak-anak. Selain ayunan, ada juga jungkat-jungkit, hingga perosotan. Area taman juga dipenuhi pepohonan dan taman bunga yang menjadi tempat pengunjung duduk santai.

"Ada taman bunga, banyak pohon juga. Kalau Minggu di sana banyak keluarga, terus muda-mudi pada duduk-duduk santai di situ," jelasnya.

Tak hanya itu, di area tersebut juga terdapat kolam renang yang cukup ramai terutama pada akhir pekan. Dani pun sering berenang di sana bersama keluarga.

"Kalau Minggu pagi biasanya ramai. Aku sering ke sana sama bapak dan adik-adik buat renang. Tiketnya sekitar Rp 2.500 sampai 5.000 sudah bisa renang," kata Dani.

Selain bermain di taman, kawasan tersebut juga berdekatan dengan gedung pertunjukan wayang orang Ngesti Pandawa yang menjadi hiburan warga pada malam hari. Kadang kala, Dani ikut menonton wayang orang hingga dini hari.

"Kalau taman buka pagi sampai sore. Kalau Ngesti Pandawa biasanya malam, buat nonton wayang orang atau ketoprak, dari jam 21.00-03.00 WIB pagi," ungkapnya.

Namun, menurut Dani, Taman Istana Majapahit mulai sepi sekitar akhir 1990-an hingga akhirnya tidak lagi beroperasi. Menurutnya hal itu dikarenakan tempat hiburan yang mulai sepi dan tak ada yang merawat.

"Kayaknya sekitar tahun 1998 sudah sepi. Ya memang karena sepi, nggak ada yang merawat," ujarnya.

Kini kondisi kawasan tersebut disebut sudah dipenuhi pepohonan dan jarang dibuka untuk umum. Meski demikian, Dani berharap pemerintah dapat menghidupkan kembali taman tersebut sebagai ruang rekreasi keluarga dengan harga terjangkau.

"Kalau bisa diperbaiki lagi bagus. Jadi taman keluarga. Dulu kan banyak kenangan masa kecil di situ, orang tua juga kan ingin ngajak anaknya main di sana juga, wong murah," tuturnya.

Halaman 2 dari 2
(apu/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads