Tanjakan Sigar Bencah Semarang Dikenal Wingit Sejak Dulu Kala

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Jumat, 20 Mar 2026 14:30 WIB
Tanjakan Sigar Bencah Semarang yang dilengkapi rambu Selawat. Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng
Semarang -

Tanjakan Sigar Bencah, Jalan Imam Soeparto, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang rupanya sudah terkenal wingit sejak dahulu kala. Terkadang kecelakaan di sana juga dihubungkan dengan cerita mistis.

Jalan tersebut memang cukup curam, bahkan sejak sekitar empat tahun lalu dipasang rambu agar pengguna jalan yang Muslim mengucap Selawat atau takbir saat melintas.

Bendahara Kantor Kecamatan Tembalang, Imam Karonto Wachid mengatakan semula tanjakan Sigar Bencah merupakan jalan setapak yang menghubungkan Kelurahan Meteseh dengan Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang. Pembangunannya dilakukan sekitar tahun 1990-an.

"Nama Sigar Bencah sudah ada sejak zaman dulu kala, artinya terbelah karena jalan itu berada di lokasi perbukitan yang terbelah," kata Imam saat ditemui di Kantor Kecamatan Tembalang, Senin (9/3/2026).

"Dulu Sigar Bencah berupa jalan setapak yang tidak bisa dilalui kendaraan. Jadi kalau orang daerah Meteseh kalau naik ke daerah Bulusan itu jalan kaki," sambungnya.

Dia menjelaskan, saat masih berupa jalan setapak, tanjakan Sigar Bencah sudah dikenal angker. Menurut Imam, orang-orang juga melabeli daerah itu sebagai kerajaan setan (demit).

"Cerita dari orang-orang tua dulu memang daerah situ istilahnya wong ngarani kayak kerajaan demit (orang menyebut seperti kerajaan setan) itu kalau enggak salah. Istilahnya wingit nek wong Jawa ngarani (angker kalau orang Jawa bilang)," ujarnya.

"Kalau rasa merinding (saat melintas) ada, tapi saya ndak pernah melihat langsung. Tapi katanya ada yang tiba-tiba melihat ular besar lewat itu juga ada," imbuhnya.

Eksplorasi Mistis

Terpisah, Ketua Semarangker, Marcellino Dewa Bagaskara mengatakan kelompok penjelajah tempat-tempat angker di Semarang tersebut pernah melakukan penjelajahan pada 2019 lalu. Timnya saat itu mengaku mendengar rintihan dan tangisan serta mencium bau darah.

"Ketika di sana hanya ada suara perempuan rintihan perempuan dan seperti tangisan anak kecil namun secara langsung tidak melihat, hanya sekedar suara namun tidak menampakkan diri," kata Marcel, Jumat (6/3/2026).

"Tak jauh dari tempat itu, beberapa dari crew kita (mencium) bau seperti anyir darah padahal kita tidak melihat ada darah di tempat itu," sambungnya.

Marcel juga menuturkan banyak cerita-cerita mistis yang berkembang di tanjakan itu, seperti sosok orang tua yang tiba-tiba menghilang dan pengendara yang dibuntuti sosok gaib.

"Banyak yang percaya ada sosok orang tua yang menyeberang atau berdiri di pinggir jalan yang tiba-tiba hilang. Pengendara merasa dibuntuti oleh kendaraan dengan lampu terang di belakangnya, namun saat menoleh atau di jalan lurus, kendaraan tersebut tidak ada," ujar Marcel.

Sementara itu Camat Tembalang, Abdul Haris Nur Hidayat mengatakan beberapa bulan lalu sempat ada tumpahan solar misterius yang 'menghantui' tanjakan tersebut.

"2-3 bulan lalu itu yang aneh. Tiap hari itu ada solar tumpah. Tumpah di jam yang sama dan di tempat yang sama, kan aneh," kata Haris di kantornya, Senin (9/3/2026).

"Waktu orang-orang pulang kerja, sekitar jam 15.00 WIB, selama dua minggu hampir berturut-turut. Mobil sampai keblusuk, motor banyak yang jatuh," lanjutnya.

Haris menyebut kejadian itu kemudian mendapat atensi dari Koramil Tembalang untuk dilakukan pengintaian. Namun setelah pengintaian selama beberapa kali, kejadian itu tak pernah terulang kembali.

"Setelah diintai ndak ada lagi. Jadi kita tidak tahu pasti apakah itu ada unsur kesengajaan atau seperti apa," tukas Haris.

Jalur penyelamat di tanjakan Sigar Bencah Semarang yang dilengkapi rambu Selawat. Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng

Jalur Dipasangi Rambu Selawat

Camat Tembalang, Abdul Haris Nur Hidayat menjelaskan soal pemasangan rambu selawat itu. Dia mengatakan rambu itu sudah ada sejak sekitar 3-4 tahun lalu.

"Sudah ada sekitar 3-4 tahun lalu, dulu sepertinya rambu bacaan selawat itu dipasang pada era camat sebelumnya," kata Haris saat ditemui detikJateng di kantornya, Senin (9/3/2026).

"Jalan ini kok agak rawan, kalau kita umat Islam, itu baca selawat kan lebih bagus. Kalau orang Jawa, tempat-tempat yang seperti itu kan kadang-kadang sok dianggap wingit (angker), akhirnya kan butuh ketenangan, suruh baca ini (selawat dan kalimat thayyibah), untuk mengingatkan saja," imbuh dia.

Dari pantauan di lokasi, saat hendak naik atau turun melewati tanjakan Sigar Bencah, terdapat beberapa papan penanda untuk membaca selawat dan kalimat thayyibah, yaitu Subhanallah saat hendak turun serta Allahu Akbar saat akan naik.



Simak Video "Video: 36 Biksu Thudong yang Jalan Kaki dari Thailand Telah Sampai di Borobudur"


(alg/apl)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork