Museum Situs Purbakala Patiayam Kudus menjadi destinasi wisata edukasi saat liburan. Menurut Koordinator Museum Situs Purbakala Patiayam, Jamin, situs purbakala ini dulunya merupakan Selat Muria yang lambat laun mengalami perubahan menjadi daratan.
Museum ini berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Museum ini buka setiap hari dari pagi sampai pukul 16.00 WIB. Ada sebanyak 200 fosil hewan purba sampai manusia purba yang disimpan di museum ini. Museum ini masih gratis.
Museum ini juga menyimpan jejak manusia purba jenis Homo Erectus yang hidup berpindah-pindah dan berburu hewan di kawasan Patiayam. Jamin mengatakan, secara letak geografis, situs purbakala Patiayam berbeda dengan Sangiran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kebetulan waktu terjadi situs ini karena perubahan alam. Antara situs Patiayam dan Sangiran ada perbedaan. Kalau di Sangiran jelas ada Situs Bengawan Solo Purba, kalau di Patiayam perubahan laut menjadi darat," kata Jamin saat berbincang dengan detikJateng, Senin (1/6/2026).
Jamin mengatakan, Patiayam dulunya juga merupakan tempat manusia purba untuk berburu dan hidup secara berpindah-pindah atau nomaden. Hal ini berdasarkan temuan fosil hewan lebih banyak dibandingkan dengan manusia purba.
Museum Situs Purbakala Patiayam Kudus, Senin (1/6/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng |
"Karena temuan fosil manusia purba dibandingkan dengan dengan Sangiran lebih banyak ditemukan Sangiran karena perbedaan alam," jelasnya.
Jamin mengatakan, manusia purba ke Patiayam untuk berburu. Mereka mencari hewan buruan baik laut, rawa, dan darat. Hal ini juga dibuktikan dengan temuan artefak yang kini tersimpan di Museum Situs Purbakala Patiayam.
"Karena mereka berburu dan pindah-pindah. Dengan bukti artefak atau batu maupun alat tulang yang menjadi bukti otentik," terang dia.
Jamin mengatakan, temuan manusia purba jenis Homo Erectus ditemukan pada tahun 1979 di Patiayam, yakni berupa bagian kepala tengkorak dan jari kelingking. Setelah diidentifikasi, fosil manusia purba itu jenisnya Homo Erectus.
"Pada tahun 1979 ditemukan tengkorak kepala dan jari kelingking, sudah diidentifikasi benar-benar temuan jenis Homo Erectus," jelasnya.
Lebih lanjut, Jamin mengatakan, museum ini menjadi pilihan destinasi edukasi saat liburan. Kebanyakan pengunjung ke Museum dari kalangan pelajar. Di Museum ini terdapat 200 fosil yang dipamerkan. Fosil itu terdiri dari hewan laut, rawa, dan darat.
"Yang menjadi master place adalah gajah Stegodon, temuan pada tahun 2008. Dan beberapa tahun terakhir ini banyak temuan yang menjadi daya tarik, salah satunya temuan yang mengindikasi ke arah manusia purba sudah kita simpan seperti ada fragmen gigi manusia purba," terang dia.
Jamin menambahkan, hewan purba maupun manusia purba diperkirakan hidup 700 ribu sampai 1,5 juta tahun yang lalu.
"Diperkirakan hasil identifikasi 700 ribu sampai 1,5 juta tahun yang lalu. Kalau masuk ke museum gratis dan free," jelasnya.
Salah satu wisatawan, Fahtur Rohman, mengaku tertarik berkunjung ke museum saat liburan. Dia mengaku penasaran melihat gading dan fosil purbakala. Di museum, ia meengaku bisa belajar banyak mengenai zaman purbakala.
"Mumpung libur, menambah wawasan situs purbakala Patiayam," kata dia.
(dil/dil)

