Empat orang sekeluarga asal Ambarawa ditemukan tewas di dalam tenda saat kamping di Posong, Kecamatan Kledung, Temanggung, Rabu (27/5) lalu. Mereka diduga keracunan gas. Pakar otomotif, refrigerasi, dan bahan bakar alternatif dari Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) angkat bicara soal itu.
Sebelumnya, polisi mengungkapkan ada dugaan sekeluarga itu korban keracunan makanan atau keracunan gas. Mengenai dugaan keracunan gas, polisi menyebut ada dua sumbernya, yaitu dari pembakaran arang briket untuk penghangat atau dari kompor portable untuk barbeque.
Terkait kasus ini, Prof. Dr. Ir. Muji Setiyo, S.T., M.T memberikan disclaimer yang diunggah dalam akun Instagram pribadinya sekitar 21 jam lalu.
"Ya, saya membuat disclaimer di Instagram itu jika kasusnya itu karena kebocoran gas. Gas elpiji itu kan memiliki yang namanya itu expansion ratio, ketika bocor ke luar, dari dalamnya itu kan sebenarnya cairan," kata guru besar dari Fakultas Teknik Unimma itu saat dihubungi detikJateng, Senin (1/6/2026).
"Nah ketika keluar, dia itu (gas elpiji) akan berekspansi yang 1 liter itu jadi 600 liter. Artinya kebocoran sedikit saja itu kan akan mengembang ke semua ruangan," sambung Muji yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) Unimma.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan, jika terjadi kebocoran dari tabung gas kompor portable, karakter dari gas propana butana itu ketika berubah jadi uap akan mengendap karena densitasnya lebih tinggi dari udara.
"Menempel ke lantai dan menggantikan oksigen untuk terangkat ke atas. Nah sehingga yang dihirup orang yang sedang berbaring itu kan otomatis propana butana. Nah itu bisa menyebabkan pingsan dan nanti bisa meninggal dunia," terangnya.
Menurut Muji, tabung gas portable berisi elpiji campuran.
"Itu isinya elpiji campuran, di dalamnya itu ada yang butana murni, ada yang propana murni, atau campuran propana dan butana. Apalagi di Posong itu kan dingin jadi akan lebih turun ke bawah lagi. Jika penyebabnya kebocoran di kompor portable, mekanismenya itu. Tapi, kan kita nggak tahu ya di sana itu masalahnya apa. Tapi, kalau dugaan saya bukan karena keracunan makanan," ujarnya.
Muji mengatakan, jika pembakarannya sempurna itu menjadi CO2 bukan CO. Menurutnya, C akan bereaksi dengan oksigen menjadi CO2, bukan CO.
"Tidak monoksida, tapi C3H8 itu propana atau C4H10 itu butana. Tinggal kepastiannya yang mana gitu, apakah ada nggak bukti bahwa di situ gasnya itu bocor atau tidak gitu," ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, empat orang sekeluarga asal Ambarawa, Kabupaten Semarang, ditemukan tewas di dalam tenda saat kamping di Posong, Kecamatan Kledung, Temanggung, Rabu (27/5) lalu. Ada dugaan mereka korban keracunan gas. Polisi mengungkap ada dua sumber gas dalam kasus ini.
"Dugaannya masih tetap (karena keracunan gas), karena belum ada perkembangan sampai sekarang. Hal yang ditunggu sekarang hanya hasil dari Labfor. Kalau sudah ada hasil dari Labfor dan Biddokkes secara resmi, walaupun secara nonresmi pun pasti kita terima, cuman belum ada," kata Kasat Reskrim Polres Temanggung Iptu I Komang Mahendra Deputra saat dihubungi detikJateng, Sabtu (30/5/2026).
"Karena kan ini, barang buktinya banyak sekali (termasuk sisa makan dan lainnya). Banyak itu yang mau diperiksa. Jadi kemungkinan lima (hari) sampai satu mingguan baru selesai. Kita doakan semoga lima sampai satu minggu (hasil pemeriksaannya keluar). Semoga kemungkinan besar ini minggu depan bisa kita rilis. Semoga ya," sambung Komang.
Mengenai dugaan keracunan gas itu, Komang mengatakan, gas tersebut diduga berasal dari hasil pembakaran arang briket untuk penghangat maupun dari hasil pembakaran barbeque.
"Ini kan dokter langsung bilang, ini bukan dugaan saya. Hasil pemeriksaan kemarin, kan saya sudah bilang kan apa autopsi itu sudah bilang bahwa ini kemungkinannya itu dari makanan atau dari gas," ujar dia.
"Gas itu gas apa? Ternyata gas pembakaran. Dan gas pembakaran itu pembakaran apa? Ternyata ada dua, pembakaran arang untuk yang penghangat itu dan pembakaran masakan (barbeque). Jadi dua itu. Dua itu, ada dua kemungkinan itu masih tetap ada, nggak ada kemungkinan tambahan. Sampai saat ini kita belum ada petunjuk bahwa ada kemungkinan tambahan terkait dengan penyebab kematian, nggak ada. Masih tetap dua petunjuknya," kata Komang.
Saat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi tidak mencium aroma gas tersebut.
"Tidak (mencium bau gas). Begini, gas CO, karbon monoksida itu tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak berasa. Jadi nggak bisa. Seandainya pun ada, itu tidak bisa diketahui kasat mata, nggak bisa. Karena setelah dibuka sedikit pintu (tenda) itu, ketika kita olah TKP itu pasti oksigen sudah masuk langsung," jelasnya
"Sudah habis ya (gas kompor portable). Jadi gas produknya memang sudah habis dipakai," imbuh Komang.
Komang juga meminta doa agar penyelidikan kasus ini berjalan lancar dan hasilnya bisa segera diketahui.
"Kita doakan biar semuanya lancar segera. Kalau ada perkembangan nanti kan di-update," pungkasnya.
Adapun mayat empat orang sekeluarga itu ditemukan petugas di lokasi wisata saat hendak mengingatkan untuk check out pada Rabu (27/5) sore. Karena tak mendapat respons, petugas itu membuka pintu tenda kamping dan menemukan keempat korban sudah terbujur kaku.
Keempat korban ialah Muhammad Ali Munawar (52) dan istrinya Maghfirah (43), beserta dua putranya, Alvino Evan Hakim (17) dan Bagas Amar Hakiki atau BAH (21). Mereka sekeluarga asal Kelurahan Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.
Jenazah keempat korban sudah dimakamkan di wilayah Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, pada Kamis (28/5) lalu.
Simak Video "Merasakan Kelezatan Peyek Kroto Hasil Masakan Selebriti di Temanggung"
[Gambas:Video 20detik] (dil/dil)
