Sebuah video yang memperlihatkan Kepala Desa (Kades) Purwasaba, Hoho Alkaf, dikerumuni massa viral di media sosial. Kades Hoho mengaku dirinya dikeroyok hingga kacamatanya patah.
Video itu viral di media sosial usai diunggah akun Instagram @ndeminsgaul. Tampak Kades Hoho yang mengenakan seragam coklat dan topi itu dikawal polisi dan dikerumuni massa berpakaian hitam yang tampak emosi.
"Kades Purwasaba, Banjarnegara, Welas Yuni Nugroho (Hoho Alkaf), dikeroyok massa saat terjadi demo ricuh di Balai Desa Purwasaba pada Selasa, 11 Maret 2026. Pengeroyokan dipicu oleh tuntutan massa/LSM yang meminta pembatalan seleksi perangkat desa, di mana Hoho menolak tuntutan tersebut karena merasa proses sudah sesuai prosedur," tulis akun @ndeminsgaul, Senin (16/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat dimintai konfirmasi, Kades Hoho mengaku menjadi korban pemukulan oleh anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) usai menghadiri audiensi terkait penjaringan perangkat, Rabu (11/3) lalu. Ia menyebut peristiwa itu terjadi setelah audiensi kedua yang membahas polemik hasil seleksi perangkat desa.
"Intinya kita baru ada penjaringan dan penyaringan perangkat desa. Tiga formasi kadus. Terus ada anggota LSM mendaftar, mengikuti tahapan dari awal sampai ujian. Terus tidak lolos, nilainya jelek," kata Hoho.
Usai hasil seleksi diumumkan, para peserta yang tidak lolos melayangkan protes dan meminta audiensi, karena menduga ada kecurangan dalam proses seleksi. Audiensi pertama digelar Senin (9/3) dengan menghadirkan berbagai pihak.
"Semua (tudingan) sudah dijawab oleh Camat, Kabag Hukum, Disperdes, Inspektorat. Semua sudah sesuai regulasi, tidak ada pelanggaran," ujarnya.
Salah satu tudingan yang disampaikan saat audiensi adalah dugaan kebocoran soal ujian seleksi perangkat desa. Namun, Hoho membantah tudingan tersebut.
"Katanya soal bocor, ditanya bocornya di mana, siapa yang bocorin, nggak bisa jelasin. Karena memang semua sudah berproses, saya lihat sendiri," tegasnya.
Ia menjelaskan seluruh peserta justru sudah diberikan bank soal sebanyak 400 soal sebelum ujian berlangsung. Dari bank soal itu kemudian dipilih dan diacak menjadi 100 soal yang digunakan dalam ujian.
"HP dari panitia diambil semua, Wi-Fi mati, kita kasih panitia laptop. Soalnya dikocok, panitia dikarantina, nggak boleh keluar, dijaga sampai besoknya berangkat ke ujian. Saya rasa nggak ada celah untuk soal bocor atau panitia bocorin," ujarnya.
Meski demikian, pihak yang tidak lolos tetap tidak menerima hasil seleksi dan kembali meminta audiensi kedua. Saat datang ke lokasi audiensi kedua, Rabu (9/3), para anggota LSM sudah berada di sekitar lokasi dengan mengenakan atribut ormas. Mereka kembali memprotes hasil seleksi.
"Semua pertanyaan itu sebenarnya sudah dijawab juga. Panitia tegas, dinas juga tegas bahwa tidak ditemukan kecurangan," katanya.
Setelah audiensi dinyatakan selesai, Hoho mengaku keluar dari ruangan. Namun, saat keluar dari pintu gedung, ia merasa tiba-tiba diserang oleh sejumlah orang.
"Saya begitu keluar pintu langsung dihujani pukulan dari belakang, samping, sampai topi saya lepas tapi nggak sampai jatuh. Sampai depan mobil, saya dari depan ditodong langsung dipukul, kacamata saya patah. Baru ada barikade," ujarnya.
"Jadi dari Polres secara pengamanan juga kurang siap. Kalau dari Polres di barikade dari depan pintu, pasti saya aman, nggak akan saya bajunya rusak, atributnya copot, kacamata pecah," lanjutnya.
Ia menyebut setelah berhasil masuk ke mobil, dirinya langsung meninggalkan lokasi dan pulang ke rumah. Terkait kejadian tersebut, Hoho mengaku telah melaporkan Kapolsek Mandiraja, AKP Akbarul Hamzah, ke Propam Polda Jateng.
"Saya melaporkan dugaan pelanggaran kode etik profesi polisi, karena berat sebelah, lebih melihat ke LSM padahal seharusnya netral, tidak antisipasi kericuhan," jelasnya.
"Terus mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya dari polisi apalagi Kapolsek. Dia mengeluarkan kata arogan (seperti) suruh disikat, dihajar," tambahnya.
Selain melaporkan Kapolsek, Hoho menyebut pihaknya juga sedang mengumpulkan bukti untuk melaporkan orang yang diduga melakukan pemukulan terhadap dirinya.
"Untuk yang pemukulannya saya masih komunikasi dengan pengacara saya, saya ngumpulin bukti, baru dapat screenshot beberapa video, yang memukul saya. Nanti tetap saya laporin," jelasnya.
"Nanti saya berpikir dengan pengacara saya (soal pelaporan ke Polres atau Polda). Saya harap dengan kejadian ini Unit Reskrim Polres Banjarnegara tidak main-main lagi," lanjutnya.
Polisi Bantah Dugaan Pengeroyokan
Saat dimintai keterangan, Kapolres Banjarnegara, AKBP Mariska Fendi Susanto, membantah adanya dugaan pengeroyokan ataupun pemukulan terhadap Kades Hoho.
Ia menegaskan pihak kepolisian telah melakukan pengamanan terhadap Kades Hoho sejak keluar dari balai desa, hingga tiba di rumahnya. Ia menyebut hanya ada teriakan, tetapi tak ada tindakan kekerasan.
"Tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya konfirmasi ke Kapolsek yang mengawal ketat, saat menuju mobil memang kacamatanya dan papan namanya jatuh, tapi sudah diambilkan. Nggak ada pengeroyokan, semua kondusif," ujar Mariska.
Meski begitu, ia membenarkan Kapolsek Mandiraja dilaporkan ke Propam Polda Jateng. Pihaknya pun menyerahkan kasus itu kepada Propam Polda Jateng.
"Kami juga menerima informasi itu (Kapolsek dilaporkan ke Propam) dan akan menyerahkan ke Propam Polda Jateng untuk mendalami. Intinya Kapolsek bertindak di lapangan sesuai situasi dan atas permintaan panitia," ujarnya.
Hal itu dibenarkan Kabid Humas Polda Jateng, Artanto. Ia mengatakan Polres Banjarnegara masih melakukan penyelidikan untuk memastikan kronologi sebenarnya dari peristiwa tersebut.
"Polres Banjarnegara sedang menyelidiki kasus tersebut. Berita yang beredar di media sosial itu kan belum tentu terverifikasi dengan baik," kata Artanto.
"Berita yang disampaikan di media sosial kan tentang dikeroyok dan sebagainya, itu jadi perlu didalami apakah benar terjadi pengeroyokan atau bagaimana kronologinya," lanjutnya.
Menurut Artanto, jajaran Polres Banjarnegara masih mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi guna memastikan fakta yang terjadi di lapangan. Propam Polda Jateng pun mendalami kasus tersebut, usai informasi itu viral di media sosial.
"Propam juga sedang melakukan pendalaman terhadap peristiwa tersebut. Informasinya di media sosial kan baru sepihak, faktanya belum tahu masih dilakukan penyelidikan," ujar Artanto.
(afn/afn)











































