Tersangka tudingan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), Rismon Sianipar, bertandang ke Sumber, Kota Solo, menemui Jokowi untuk meminta maaf. Ia mengaku membawa oleh-oleh khas Batak berupa Naniarsik atau ikan mas Arsik dan kain Ulos.
"Tadi bawa makanan Naniarsik khas Batak," kata pengacara Rismon, Jahmada Girsang, usai pertemuan dengan Jokowi yang berlangsung sekitar 15 menit, Kamis (12/3/2026) petang itu.
Rismon lantas mengungkap dua oleh-oleh yang dibawanya. Naniarsik merupakan bentuk penghormatannya kepada Jokowi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Naniarsik bahwa artinya menganggap Pak Jokowi orang terhormat dan ada perdamaian," ungkapnya.
Kemudian Rismon juga membawa kain Ulos, kain tenun tradisional khas Suku Batak. Kain ini untuk menegaskan ucapan terima kasih.
"Ada kain Ulos untuk secara adat untuk menegaskan ucapan terima kasih," ujarnya.
Minta Maaf kepada Jokowi
Dalam kesempatan tersebut, Rismon menyampaikan permintaan maaf soal temuan terbarunya terkait ijazah Jokowi. Ia menyebut permintaan maaf itu adalah bentuk tanggung jawabnya sebagai peneliti.
"Ya tentu, saya pun minta maaf kepada publik. Apalagi kepada pihak terkait seperti Bapak Joko Widodo. Itulah pertanggungjawaban seorang peneliti yang harus independen, yang siap dicerca, dihina dengan narasi-narasi sesuka mereka meskipun narasi mereka tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah," paparnya.
Rismon mengaku selama dua bulan terakhir dirinya terus meneliti ijazah Jokowi. Ia mengaku mendapatkan temuan baru.
"Pertama, saya dapati memang sejak gelar perkara ditunjukkan ijazah analog dari Bapak Joko Widodo. Terus saya kaji lagi apa yang saya amati di situ, bahwa ada emboss, ada watermarks. Jadi emboss dan watermarks ini menjadi objek kajian saya dan saya teliti memang tidak ada hologram," ungkapnya.
"Mungkin setelah saya kaji dengan beberapa objek ijazah lainnya di tahun yang sama dari UGM, memang pada saat itu hologram memang tidak dipakai sebagai pengunci atau pengaman dalam sebuah ijazah. Jadi memang yang ada hanya watermarks dan emboss," sambungnya.
Berbeda dari sebelumnya yang dengan tegas mengatakan ijazah Jokowi palsu, ia justru menyebut keaslian harus dilakukan dengan metodologi bukan hanya sekedar narasi.
"(Menegaskan ijazah asli?) Jawaban itu kan jawaban yang harusnya dijawab dengan metodologi, bukan secara narasi bahwa itu palsu, itu asli. Secara metodologi itu harus dijawab dan itu harus objektif," pungkasnya.
