Seorang mahasiswa Program Studi Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Arnendo (20), diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sekitar 30 mahasiswa satu jurusan. Akibat kejadian itu, korban mengalami sejumlah luka seperti patah hidung hingga gegar otak.
Dalam perjalanan kasus pengeroyokan tersebut, mencuat adanya dugaan pelecehan seksual yang dilakukan korban terhadap sejumlah mahasiswi. Bahkan, para korban juga sudah melaporkan kejadian yang dialaminya kepada pihak kampus.
Korban Pengeroyokan
Pengacara korban, Zainal Abidin Petir, mengungkapkan peristiwa pengeroyokan terjadi 15 November 2025. Akibat kejadian itu, kliennya mengalami patah tulang hidung, gegar otak, serta gangguan saraf mata kiri akibat penganiayaan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Arnendo, anak PKL penjual nasgor dihajar 30 mahasiswa Undip dr jam 23.00-04.15 WIB hingga patah tulang hidung dan gegar otak," terang Zainal saat dihubungi detikJateng, Rabu (3/4).
Lebih lanjut Zainal menjelaskan, peristiwa bermula pada 15 November 2025 sekitar pukul 22.57 WIB. Korban awalnya diajak seorang mahasiswa bernama Adyan untuk datang ke kos di Jalan Bulusan Utara Raya, Tembalang, Kota Semarang, dengan alasan membicarakan rencana acara musik kampus.
Zainal melanjutkan, korban lalu dipaksa mengakui dugaan pelecehan terhadap seorang mahasiswi tingkat bawah berinisial U. Korban disebut telah menjelaskan bahwa kejadian yang dipersoalkan hanya sebatas menarik tangan Uca untuk mengajaknya ke warung makan dalam rangka mengumpulkan tim sukses pemilihan ketua himpunan.
Namun rekannya itu tak percaya sehingga perdebatan berlangsung sekitar satu jam. Sekitar pukul 23.00 WIB, seorang mahasiswa senior diduga mulai memukul korban. Setelah itu, mahasiswa lain yang disebut berjumlah sekitar 30 orang ikut mengeroyok.
"Sekitar pukul 23.00 WIB, salah satu mahasiswa antropologi sosial semester 6 berinisial M mulai menggunakan kekerasan, memukul korban beberapa kali," tuturnya.
"Setelah itu, mahasiswa yang ada di sana yang jumlahnya sekitar 30 orang mulai mengelilingi korban, mencekam pokoknya. Mereka menendang, memukul, secara bergantian. Baju dilepas, jaket, celana jeans, dan sabuk juga dilepas, " lanjutnya.
"Belum puas menganiaya, mereka meludahi, menyundut rokok, dan menusuk badan korban dengan jarum pentul berkali-kali," terangnya.
Penganiayaan berhenti setelah mendengar azan subuh pukul 04.15 WIB. Setelahnya korban diantar kembali ke kos oleh seniornya D dan temannya E.
"Kemudian korban diantar ke RS Banyumanik 2 oleh A, teman orang tua Arnendo sekitar pukul 08.00 WIB," ungkap Zainal Petir.
Dilaporkan Pelecehan Seksual
Direktur Direktorat Jejaring Media, Komunitas dan Komunikasi Publik Undip, Nurul Hasfi, mengatakan sebelum insiden pengeroyokan terjadi, Arnendo telah dilaporkan tiga mahasiswi ke dekanat.
"Ya kami menerima laporan dari pihak dekanat, bahwa yang bersangkutan melakukan pelecehan seksual terhadap 3 mahasiswi," kata Nurul melalui pesan singkat, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, dalam laporan itu disebutkan Arnendo sudah beberapa kali diberi peringatan, tetapi ia tetap mengulangi perbuatannya. Situasi itu disebut memicu kemarahan sejumlah mahasiswa lain.
"Laporan tersebut menyebutkan bahwa yang bersangkutan telah diperingatkan berkali-kali namun tetap melanjutkan perbuatannya. Hal inilah yang kemudian memicu kemarahan dari teman-temannya," jelas Nurul.
Meski demikian, Undip menegaskan tidak membenarkan aksi kekerasan yang terjadi. Ia menyayangkan terjadinya peristiwa kekerasan dalam bentuk apa pun.
"Pada saat yang sama, universitas menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual, tidak dapat ditoleransi dan harus diproses sesuai ketentuan yang berlaku," tegasnya.
Kampus Proses Dugaan Pelecehan
Ia menambahkan, dugaan kekerasan seksual yang melibatkan Arnendo saat ini juga tengah diproses oleh internal kampus. Pihak universitas berkomitmen memberikan perlindungan bagi pelapor.
"Terkait dugaan tindak kekerasan seksual yang melibatkan yang bersangkutan, Universitas Diponegoro berkomitmen untuk menindaklanjuti secara serius melalui mekanisme dan prosedur yang berlaku, serta memberikan pendampingan dan perlindungan kepada pihak korban pelecehan seksual," kata Nurul.
Undip Bentuk Satgas Kekerasan Seksual
Universitas Diponegoro (Undip) membentuk Satuan Tugas (Satgas) Kekerasan Seksual terkait kasus dugaan kekerasan seksual yang dilakukan Arnendo (20), korban pengeroyokan 30 mahasiswa.
"Undip saat ini sudah membuat dua tim, pertama tim etik yang khusus untuk melihat lebih jauh atau menyelidiki kasus dugaan penganiayaan," kata Direktur Direktorat Jejaring Media, Komunitas dan Komunikasi Publik Undip, Nurul Hasfi di Undip, Jumat (6/3/2026).
"Kedua adalah satgas kekerasan seksual yang untuk menampung laporan yang kemarin memang sudah keluar di media, ada yang dilaporkan dugaan kasus pelecehan seksual," lanjutnya.
Ke depannya, kata Nurul, kedua tim akan bekerja untuk menyelesaikan kasus tersebut secara internal.
"Saat ini sedang didalami kedua tim tersebut. Jadi kita tunggu aja hasilnya, nanti kita akan sampaikan lebih lanjut," ungkapnya.
Arnendo yang telah dilaporkan oleh tiga mahasiswi itu pun hingga kini masih berstatus mahasiswa aktif meski sudah tak masuk kuliah sejak November.
Kampus Panggil Arnendo
Sementara itu, Dekan FIB Undip, Alamsyah mengatakan, pihaknya tak mengetahui secara pasti sejak kapan kasus kekerasan seksual itu dilaporkan. Namun, pihaknya sudah memanggil Arnendo untuk memberikan keterangan.
"Kalau data pastinya kita tidak begitu mengetahui; tetapi (dilaporkan) sebelum peristiwa pengroyokan, tetapi saya kira kami secara internal sudah membentuk satgas dan tim etik untuk menindak lanjuti secara internal," ungkapnya.
"Kita undang (Arnendo) karena bagaimanapun kan kita harus cross check dulu. Kita undang, semoga nanti ketika pemeriksaan lanjutan, baik itu Mas Arnendo dan yang lainnya sesuai dengan tupoksi dari Komisi Etik dan Satgas bisa bersedia untuk memberikan keterangan secara mendalam," lanjutnya.
Alamsyah juga menyebut sudah ada mediasi antara pengacara Arnendo dan pengacara pengeroyok, yang difasilitas Undip di gedung Dekanat FIB Undip siang ini.
"Prinsipnya kami menyampaikan rasa keprihatinan terhadap terjadinya peristiwa ini dan semoga peristiwa ini cepat selesai dan tidak terjadi lagi di kemudian hari," tuturnya.
"Kami atas nama Fakultas Ilmu Budaya mewakili Bapak Rektor mengucapkan Alhamdulillah, ternyata beliau berdua (pengacara kedua pihak) sangat welcome sekali," lanjutnya.
Ia menyebut, diskusi berjalan lancar dan kedua pihak telah menyampaikan masukan konstruktif dalam rangka mencari penyelesaian yang sama-sama menguntungkan kedua belah pihak.
"Dan akhirnya ada kesepahaman bahwa beliau berdua akan menyelesaikan secara kekeluargaan permasalahan yang terjadi di kampus," jelasnya.
Simak Video "Video Api Abadi Mrapen Padam, Kenapa?"
[Gambas:Video 20detik]
(apl/apl)











































