Serangan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Iran yang terjadi selama beberapa hari terakhir disebut mulai menipiskan persenjataan mereka. AS dilaporkan mulai kehabisan persediaan rudal utama, terutama Tomahawk dan misil pencegat SM-3.
Informasi ini diberitakan media terkemuka AS CNN, yang mengutip pejabat senior AS, dilansir kantor berita Turki Anadolu via detikNews, Rabu (4/3/2026).
Diungkapkan oleh pejabat senior AS tersebut, bahwa AS mengantisipasi "peningkatan besar" dalam serangan-serangannya untuk waktu 24 jam ke depan, sementara cadangan rudal serang dan rudal pencegat semakin menipis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumber internal Washington itu melanjutkan, serangan awal AS-Israel yang dimulai pada Sabtu (28/2) waktu setempat berhasil melemahkan pertahanan Iran.
Pejabat anonim itu berujar, fase selanjutnya dalam operasi militer AS adalah menyasar fasilitas produksi rudal, kendaraan udara tanpa awak atau drone, dan kemampuan Angkatan Laut Iran.
Selain Tomahawk dan SM-3, Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon disebut mengalami paceklik sistem pertahanan Patriot, yang memainkan peran vital dalam mencegat serangan udara lawan. Rudal tersebut menipis lantaran sebagian besar persediannya dipakai Ukraina dalam perang melawan Rusia empat tahun terakhir.
Belum ada tanggapan langsung dari Pentagon atau Gedung Putih atas laporan ini. Informasi serupa dilaporkan oleh Middle East Monitor dan media Turki lainnya, TRT World.
AS dan Israel melancarkan gelombang serangan terkoordinasi terhadap Iran sejak akhir pekan. Dalam beberapa hari, pasukan kedua negara yang bersekutu itu menyerang target-target di berbagai wilayah Iran, termasuk menargetkan rudal, angkatan laut, dan lokasi komando dan kendali militer negara tersebut.
Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, melaporkan bahwa pasukan AS telah menyerang lebih dari 1.700 target di berbagai wilayah Iran dalam 72 jam pertama Operasi Epic Fury, yang dimulai Sabtu (28/2) waktu setempat.
CENTCOM melaporkan bahwa markas besar Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dihancurkan selama serangan awal AS, dan semua 11 kapal militer Iran yang ada di Teluk Oman telah dihancurkan.
Rentetan serangan AS-Israel itu menewaskan sejumlah tokoh penting dan pejabat tinggi Teheran, termasuk pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei. Laporan terbaru Bulan Sabit Merah Iran menyebutkan bahwa sedikitnya 787 orang tewas.
Iran membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk.
Teheran mengklaim bahwa setidaknya 560 tentara AS tewas dan luka-luka akibat rentetan serangan pembalasan mereka. Namun AS sejauh ini mengonfirmasi sedikitnya enam tentaranya tewas dan 18 personel lainnya luka-luka sejak operasi militer itu dimulai.
(apu/afn)











































