Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkap Jawa Tengah termasuk daerah dengan kasus terbanyak dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tercatat ada 22 kasus MBG pada periode Januari-Februari.
Dari total 96 kejadian secara nasional, sebanyak 47 kasus terjadi di wilayah 2. Wilayah 2 ini berisikan Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, DIY, Banten, dan Jakarta. Dadan menyebut dari 47 kasus, 22 di antaranya terjadi di Jateng.
"Jawa Tengah termasuk wilayah 2 terjadi 47 kasus kejadian dari 96 kejadian secara nasional di mana 22 kasus terjadi di Jawa Tengah," kata Dadan di gedung Pemprov Jateng, Kecamatan Semarang Selatan, Selasa (3/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lebih tinggi dari provinsi lain, dengan rapat koordinasi ini kami memohon bantuan agar Satgas Pemda salah satu yang kami inginkan adalah melakukan monitoring, evaluasi kepada setiap SPPG," sambungnya.
Dadan menjelaskan secara nasional ada 430 SPPG yang ditutup sementara. Kemudian 22 SPPG yang menyebabkan kasus menonjol di Jateng juga telah ditutup sementara.
"Jadi, kami sudah mendapatkan ada paling tidak 430 SPPG di seluruh Indonesia yang kualitasnya kurang baik yang kami minta tutup sementara untuk perbaikan," urainya.
Ia menyebut, satu SPPG dihentikan karena menimbulkan kejadian menonjol, yakni makanan yang menyebabkan anak sakit. Sementara sisanya dihentikan sementara karena berbagai persoalan kualitas.
"Tidak hanya yang menyebabkan kejadian menonjol, yang 22 (SPPG di Jateng) kemudian kami setop sementara. Tapi juga SPPG yang kualitas menunya tidak sesuai atau di bawah standar, kami juga minta untuk setop sementara untuk bisa diperbaiki," sambungnya.
"(Alasan penutupan) Ada yang SPPG kualitasnya kurang bagus. Kemudian ada yang IPAL-nya belum dibangun. Ada juga yang belum mengajukan SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi)," tambahnya.
Dadan tetap meminta masyarakat untuk melapor jika ada SPPG yang tidak memiliki IPAL, belum memiliki SLHS, ataupun menunya buruk, sehingga bisa langsung ditindaklanjuti.
"Nanti kita setop sementara untuk perbaikan. Karena tahun ini adalah tahun kualitas pas, kita tidak hanya mengejar jumlah SPPG agar segera 100 persen, tapi juga kualitasnya akan kita tingkatkan," ungkapnya.
Meski mencatat kasus terbanyak di wilayah 2, kata Dadan, Jateng juga menjadi salah satu provinsi dengan capaian tertinggi untuk jumlah dapur MBG. Hingga saat ini, ada 3.860 SPPG yang beroperasi di Jawa Tengah atau sekitar 97 persen dari target perencanaan.
"Total keseluruhan program makan bergizi yang sudah berjalan sampai hari ini ada SPPG-nya 24.443 dan sudah dapat melayani 61,2 juta di seluruh Indonesia," urainya.
"Kalau hari ini di Jawa Tengah sudah ada 3.860, uang yang sudah beredar dari Januari sampai hari ini di Jawa Tengah kurang lebih Rp 6 triliun dari Badan Keuangan Nasional yang disalurkan melalui SPPG. Karena 1 SPPG menerima Rp 1 miliar per bulan," sambungnya.
Ia menjelaskan sebanyak 70 persen anggaran digunakan untuk pembelian bahan baku seperti beras, telur, ayam, sayur, dan buah. Sementara 20 persen lainnya untuk operasional dapur, dan 10 persen untuk insentif.
(ams/aku)
